Matic Tetangga

Kisah nyata kali ini dialami oleh Jon Koplo yang usianya sudah menginjak 65 tahun. Biasanya kalau mau pergi ke puskemas, Koplo diantar Tom Gembus, anaknya. Karena Gembus khawatir bapaknya sudah terlalu sepuh untuk bepergian sendiri naik motor.

Namun kali ini ada pengecualian, Gembus mengizinkan bapaknya mengendarai motor sendiri ke puskesmas, karena ia ada kerjaan di luar kota. Sialnya motor tua kesayangan yang dulu biasa digunakan Koplo malah macet. Sementara motor Gembus akan digunakan sendiri untuk pergi bekerja. Maka, oleh Gembus, Koplo pun dibawakan motor matic milik tetangga. “Niki wau kula nyambut nggene Mbak Gendhuk Nicole. Bapak le tindak puskesmas ngagem motor niki mawon,” katanya.

Lantas, Gembus menyetarter motornya dan menyodorkannya kepada bapaknya. “Digas sampun langsung mlaku piyambak motore, alon-alon mawon,” pesan Gembus.

Koplo pun kemudian pergi ke puskesmas. Di sana antrean tidak banyak, sehingga proses kontrol rutin kesehatannya dapat berjalan dengan cepat.

Ketika mau pulang, motor matic yang dibawa tadi tidak bisa nyala mesinnya saat distarter. Pun ketika digenjot, sudah berulang-ulang sampai kaki
capek motor tidak mau nyala juga. Akhirnya, motor dituntun sampai rumah empunya motor.

“Mbak, ngapunten motore njenengan malah macet niki,” kata Koplo. Untungnya, Gendhuk orangnya ramah. Ia tidak marah sama sekali. Kemudian, dicek motornya.

Dan ketika distarter, ternyata langsung nyala. “Lha, niki saged nyala, Pak”, kata Gendhuk. Koplo hanya bisa melongo kebingungan.

Usut punya usut, ternyata ketika menstarter di puskesmas tadi, posisi standar motor belum dikembalikan ke posisi semula. “Motor matic menika menawi standare dereng dibalekne mboten saged urip mesine, Pakdhe,” jelas Gendhuk.

“Asem, geneya kok Gembus mau ora ngomongi,” umpat Koplo dalam hati.

Sumarsih
Kinarasih4@gmail.com

Solopos, 8 Juni 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top