Untung Bukan Kutu Buku

Cerita nyata ini dialami oleh pasangan Jon Koplo dan Lady Cempluk yang sama-sama berprofesi sebagai guru. Dua orang anaknya, Tom Gembus dan Gendhuk Nicole kuliah di luar kota. Jadi, jika ditinggal mengajar, rumahnya suwung. Ndilalah, pekarangannya yang begitu luas, membuat rumah Koplo agak jauh dari tetangga sehingga jadi incaran pencuri. Dua kali rumah Koplo disatroni pencuri. Kejadian pertama, pencurinya menggondol televisi.

“Ya wis Bu, diambil hikmahnya saja. Kita enggak usah beli televisi lagi. Biar tambah pintar, kita beli buku saja,” kata Koplo.

“Yes, Pak.” Cempluk mengiyakan usul Koplo itu.

Mereka sering beli buku. Kalau dijumlah, harga koleksi bukunya sudah bernilai jutaan. Dokumen penting dititipkan ke bank dengan menyewa safe deposit box.

Sedangkan dua motor selalu di bawa oleh masing-masing saat mengajar. Tidak ada benda berharga lagi di rumah selain buku.

Sore itu, Nicole pulang, alangkah kagetnya melihat pintu depan sudah dalam keadaan terbuka. Sedangkan bapak ibunya belum pulang.

“Halo, Bu. Kelihatannya rumah kita disatroni pencuri lagi!Semua kamar diacak-acak!”
Nicole lapor kepada ibunya lewat telepon.

“Ya. Sebentar lagi ibu pulang,” jawab Cempluk dengan tenang. Tak berapa lama, Koplo dan Cempluk sampai di rumah.

Cempluk bersyukur karena rak yang berisi koleksi buku tidak ikut diacak-acak pencuri. Semua masih tampak tersusun rapi.

“Slamet! Slamet! Untung rak bukunya tidak ikut diacak-acak oleh pencurinya. Padahal ibu menyimpan lembaran uang di buku ini!” Cempluk menunjukkan sepuluh lembar uang seratus ribuan yang diselipkan di antara helaian kertas dalam sebuah buku tebal.

“Untung saja pencurinya bukan kutu buku, jadi enggak mengambil buku ini! ” celetuk Koplo.

“Wah, ide ibu top!” Nicole ngguyu dengan ide ibunya itu.

Neneng Utami S.,
(nenengutami05@gmail.com)

Solopos, 12 Juni 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top