Tiwas Melu Nyruput

Masih seputar puasa, beberapa waktu lalu, Jon Koplo dan adiknya, Tom Gembus, sedang
menempuh perjalan dari Wates, Kulonprogo menuju Semarang.
Perjalanan ini merupakan perjalanan dadakan karena mendapat kabar
kalau ayah mereka yang berdomisili di Semarang harus opname.
Koplo dan Gembus berangkat jam empat sore.

Mereka berdua pun memutuskan untuk berbuka puasa di pinggir jalan saja.“Mas, sudah jam lima
seperempat, kita cari warung yuk,” ucap Gembus. Koplo
pun memperlambat laju mobil sembari clingak-clinguk mencari warung untuk berbuka puasa.
Tak berapa lama kemudian mereka menemukan “pasar” Ramadan.

Di sana banyak sekali penjual dan pembeli sehingga terkesan bising. “Mas, beli es camcao itu
saja yang enggak antre,” kata Gembus sembari memberi kode kepada Koplo bahwa ada penjual es camcao.
“Bu, tumbas es camcaone kalih, diunjuk mriki mawon,” ucap Koplo kepada si penjual.

Suara bising akibat ramainya pembeli dan kendaraan yang berlalu lalang membuat mereka kesulitan
untuk menerka datangnya kumandang azan. Koplo melirik jam tangan yang digunakan
Gembus, “Uwis jam 17.35, mestine uwis buka iki,” batin Koplo. Sesaat kemudian, Koplo
melihat si penjual es camcao juga menyeruput es camcao yang dijualnya tersebut.

“Alhamdulillah, wis buka,” batin Koplo sembari ikut menyeruput es camcao.“Dereng wektune buka lho, Mas,”
sergah si penjual es camcao yang melihat Koplo menyeruput es. “Kula niki nembe alangan, mboten pasa,”
lanjutnya.
“Lha niku jam tangane adik kula nggih pun jam 17.35, Bu,” kata Koplo tak mau kalah.
“Iki mblandhang limalas menit, Mas,” kata Gembus sambil cekikikan.
“Lha dalah, tiwas melu-melu nyruput, jebule durung wayahe buka,” gerutu Koplo.

Sumarsih,
Karanganyar RT 023/RW 012,
Karangwuni, Wates, Kulonprogo

Solopos,23 JUNI 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top