Berkat Manten

Belum lama ini tetangga Lady Cempluk di Karanganyar, ada yang mau ngundhuh mantu.
Kebetulan Cempluk dan suaminya, Jon Koplo, ada acara lain pada waktu yang sama.
Akhirnya Cempluk datang ke rumah Tom Gembus, yang punya gawe, untuk setor
amplop alias nyumbang pada sore sebelum hari H.Seperti pada umumnya yang
masih berlaku di kampung dan sekitarnya, ada pemberian
berkat atau ulih-ulih bagi tamu yang datang sehari sebelum
resepsi. Berkat itu berisi satu paket nasi dan lauk-pauk.

Begitu juga dengan Cempluk, keluar dari halaman rumah
Gembus, Cempluk mendapat dua bungkus tas kresek hitam dari
istri Gembus. “Lumayan, ada dua bungkusan ukuran besar dan hangat,” batin Cempluk.
“Pak, makan malam pakai berkat saja. Ini tadi dapat nasi berkat dari Bu Gembus,” kata
Cempluk pada suaminya. Setelah ganti pakaian, Cempluk kembali mengambil
tas kresek berkat manten tadi. Setelah dibuka, lalu dikeluarkan isinya. Yang pertama bungkusan
besar dan berat lagi hangat berupa nasi putih. Bungkusan yang kedua, bungkusan besar, berat dan hangat juga. Cempluk
pikir lauk-pauk dan kudapan khas wajik dan jadah.

Setelah dibuka, ternyata isinya… nasi putih juga. Jadi dua bungkus isinya nasi putih semua.
“Nasi dan lauk berkatnya mana, Bune?” tanya Koplo.“Pakne, sampeyan makan dengan sayur dan lauk punya
kita sendiri saja,” kata Cempluk sambil tersenyum.
“Piye, ta Bune? Tadi nawari makan
dengan nasi berkat, lha kok ujungujungnya disuruh makan lauk rumah.”
“Begini, Pak. Ternyata berkatnya tadi isinya nasi putih semua, tidak ada lauknya. Mungkin karena tadi tergesagesa
jadi keliru memasukkan, seharusnya lauk, yang dimasukkan nasi lagi…” kata Cempluk
sambil tersenyum kecut.

Noer Ima Kaltsum,
SMK Tunas Muda Karanganyar,
Jl. Dr Rajiman,Ngijo, Tasikmadu,Karanganyar

Solopos,29 JUNI 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top