Daster Mertua

Belum lama ini Jon Koplo dan istrinya berkunjung ke
rumah Tom Gembus,mertuanya di Delanggu,Klaten. Sampai di sana
kebetulan sudah menjelang Magrib. Pak Gembus
dengan pakaian yang sudah rapi lengkap dengan
pecinya mendekat, “Ayo Dhik, salat jamaah bareng Bapak nang mesjid.”

Koplo yang baru datang tentu saja sedikit kelabakan. Namun apalah daya,
sebagai mantu anyaran, tentu Koplo pekewuh kalau menolak ajakan sang mertua.
“Nggih Pak, njenengan rumiyin mawon, mangke kula nyusul,” jawab
Koplo. Lantas, mertuanya berjalan ke
luar rumah menuju ke masjid.

“Kalau Bapak ke masjid duluan, saya tidak nyusul pun pasti beliau tidak
tahu,” pikir Koplo. Beberapa saat kemudian suara ikamah berkumandang. “Gek uwis Dhik,
wis qomat…” terdengar suara Bapak dari depan rumah.

Lha dalah, Pak Gembus yang dikiranya sudah pergi ke masjid,
ternyata masih menunggu. “Nggih Pak,sekedhap,” jawab Koplo sembari berlari
kecil mendekati istrinya.

“Dhik, jupukna sarunge Bapak, tak nggone salat nang mesjid,” kata Koplo.
Sang istri pun merespons dengan sigap. Dia berjalan cepat menuju kamar
bapaknya untuk mengambilkan sarung buat suaminya. Karena belum wudu,
sarung itu disampirkan di leher sembari berlari kecil menghampiri mertuanya.

Sesampai di masjid, Koplo langsung wudu dan cepat-cepat masuk ke dalam
masjid. Saat sarung dibuka hendak dipakai, ternyata itu bukan sarung,
melainkan baju daster milik ibu mertua yang coraknya mirip kain sarung.

Alhasil, anak-anak kecil dan sebagian orang dewasa yang berada di saf paling
belakang tertawa geli melihat ke arah Koplo. Koplo pun akhirnya tidak jadi ikut
Salat Magrib berjamaah karena kebetulan di masjid itu tidak ada sarung lain.
Pangki T. Hidayat, Pedukuhan,

RT 035/RW 018, Pleret, Panjatan,
Kulonprogo

Solopos,17 JULI 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top