Bedak Tawa

Pagi itu Lady Cempluk mruput memasak ayam
bakar. Setelah selesai membakar semua baceman
ayam dengan bara arang,Cempluk menghidangkannya
di meja makan.Tetapi ternyata dia tidak punya stok lalapan di kulkas.

Ia pun bergegas jalan kaki ke warung yang tidak jauh dari
rumahnya. Dalam perjalanan,Cempluk menyapa ramah
tetangga yang ia jumpai.Yang mengherankan, kalau
biasanya tetangga yang disapanya,hanya menjawab singkat
“nggih” atau “mangga” dengan ekspresi wajah yang datar, kali ini
mereka pada tersenyum bahkan ada yang tertawa melihatnya.

“Kok tumben mereka senyumnya renyah sekali,” batin Cempluk.
Setibanya di warung, Cempluk mengambil timun, kubis, dan
tomat. “Mbak, saya tinggal hitung saja nih!” Cempluk
setengah mbengok kepada penjualnya.

Penjualnya, sebut saja Gendhuk Nicole, melihat ke
arah Cempluk, tetapi tiba-tiba ia juga tertawa.
“Mbak, kamu pakai bedak apa?” tanya Nicole. Pembeli
lainnya pun ikut melihat wajah Cempluk. Mereka tertawa.
Cempluk bingung.

“Lha ada apa ta dengan wajahku, Mbak?” tanya Cempluk
Nicole menyodorkan cermin kecil. Cempluk pun bergegas
bercermin. Badalaaa… Jebul wajahnya banyak angus.
Cempluk baru ingat, saat membakar ayamnya tadi, dia
mengambil arangnya dengan jari tangannya.

Tanpa sadar,saat keringatnya dleweran, ia menyeka dengan tangan yang
terkena angus.“Pantas saja tetangga yang disapanya tadi senyamsenyum…”
batin Cempluk.

Neneng Utami S.
nenengutami05@gmail.com

Solopos,1 AGUSTUS 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top