Tiwas Curiga

Jon Koplo yang tinggal di Kulonprogo ini mendapat
tugas sebagai bendahara panitia Iduladha. Selama beberapa
hari ia menerima uang dari tujuh orang yang hendak berkurban
sapi secara kolektif.

Sore itu Tom Gembus yang bertugas membeli sapi, datang ke rumah Koplo.
“Pak, uang kurban sapi pertama sudah terkumpul semua ta? Kalau
sudah, besok saya segera beli sapinya untuk dipelihara dulu,” kata Gembus.

“Oh, iya Mbus.” Koplo bergegas masuk ke
kamarnya, kemudian kembali sambil menyerahkan sebuah
amplop cokelat yang berisi uang kurban itu. Gembus pun menghitungnya.
“Lo, kok kurang, Pak?” tanya Gembus.

Setelah dihitung ulang, memang benar uang yang seharusnya
Rp21.000.000 itu masih kurang tiga juta. Setiap menerima
uang, Koplo selalu menata dan mengikatnya dengan karet gelang
setiap tiga juta.

Ia mencari uang tersebut di kamar tempatnya menyimpan, namun tidak juga
ketemu. Ia pun mengganti dengan uang miliknya dulu.
Pencarian hari berikutnya diban tu oleh Lady Cempluk, istrinya,
juga tidak membuahkan hasil.

Padahal Koplo yakin uang itu tidak pernah dibawanya ke mana-mana.
“Pakne, aku curiga nek jane Gembus sing njupuk dhuwite. Pas
ngitung wingi kae mesti dheweke ngesaki telung yuta,” kata
Cempluk pada suaminya.

“Masa ta Gembus gelem ngono kuwi! “
“Ya sapa ngerti. Nek kepepet. Iki rak lagi bayar sekolah anakanake.”
Setelah kejadian itu, Cempluk ngojok-ojoki Koplo untuk
membenci Gembus.

Koplo pun menjadi terpengaruh oleh
Cempluk dan ikut menaruh curiga pada Gembus. Berharihari
pasangan suami istri itu tidak mengacuhkan Gembus
ketika saling berpapasan. Bahkan Cempluk tidak menjawab dan
memalingkan muka kala Gembus menyapanya.

Namun pagi itu, ketika Cempluk sedang menyapu lantai di
ruang tengah, ia melihat ada yang “ngintip” di bawah lemari.
Setelah ia mengeluarkan dengan sapunya itu, terlihat lembaranlembaran
uang seratus ribuan yang diikat dengan karet gelang.
Ia mengambilnya dan memanggil Koplo.
“Pak, uangnya ketemu!” serunya.

Koplo pun berlari marani Cempluk. Mereka berdua tertawa
kegirangan. Koplo memang pernah duduk di lantai dekat
lemari itu saat menghitung dan menata uang kurban.

Kemungkinan uang itu terjatuh atau kesampar masuk ke bawah
lemari tanpa Koplo sadari. Apalagi sebelum diserahkan pada
Gembus, ia tidak menghitungnya terlebih dulu. Ealah, tiwas curiga
pada Gembus.

Rizkia Hety Netarahim
rizkianeta@yahoo.com

Solopos,2 AGUSTUS 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top