Tiwas Suuzan

Sepulang jualan dari pasar, Jon Koplo disambati istrinya, Lady Cempluk, untuk mengantar COD (cash on delivery), mengambil barang pesanannya. Koplo sempat menolaknya, karena selain capek juga pas barang dagangannya sedikit yang laku.

Sialnya, Cempluk tetap ngotot minta diantarakan COD-an.

“Wis kebacut pesen, isinlah nek ora sida dijupuk,” begitu katanya.

“Lha sik tok tuku iki apa meneh? Kowe kuwi wis kakehan blanja online!” ucap Koplo. Meski sedikit jengkel, akhirnya Koplo mengalah dan bersedia mengantarkan sang istri mengambil barang pesanannya.

Sesampai di lokasi COD, ternyata istrinya cuma membeli donat, makanan yang menurut Koplo hanya menghabiskan uang. Dan benar saja, Koplo harus merogoh kocek sebesar Rp120.000 untuk dua boks donat yang dipesan oleh istrinya.

“Dodolan nang pasar lagi ora payu malah ngetokne dhuwit pirang-pirang mung kanggo tuku dhonat,” gerutu Koplo.

“Halah, mbok ben, pisan-pisan mangan enak,” jawab Cempluk enteng. Mendengar jawaban itu tentu saja Koplo menjadi semakin jengkel. Sebab, istrinya itu memang hobi jajan. Hampir saban pekannya pasti ada saja jajanan yang dia beli.

Saking jengkelnya, ketika sampai rumah, dua boks donat itu langsung diberikan tetangganya yang kebetulan mengidap sakit jiwa. “Mrene om, tak wenehi dhonat,” kata Koplo.

Dalam sekejap dua boks donat itu pun beralih tangan dibawa orang gila yang juga tetangganya itu. Namun begitu tahu kalau donatnya berpindah tangan, Cempluk berteriak, “Kuwi ki dhonat pesenanku kanggo hadiah ulang tahunmu, Mas…! Ingatase dhonat kuwi ana karikatur fotomu.”

Mak pleng, Koplo baru sadar kalau hari itu berulang tahun. Tiwas sudah suuzan, ternyata istrinya hanya mau kasih hadiah kejutan ulang tahun saja. Tetapi apalah daya, donatnya sudah berpindah tangan ke orang gila tadi.

Pangki T. Hidayat,
Pedukuhan, RT 035/RW 018,
Pleret, Panjatan, Kulonprogo

Solopos, 8 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top