Tiwas Dieman-Eman

Kisah ini dialami oleh Lady Cempluk, penanggung jawab katering di asrama MTs di Kota Solo. Pagi itu, Cempluk akan memasak daging ayam. Saat itu harga ayam di pasaran baru naik, 1 kg masih Rp40 ribu, padahal uang sangat terbatas. Namun karena Cempluk akan pulang kampung selama tiga hari, ia berinisitif beli 5 kg daging ayam untuk dimasukkan ke freezer biar awet.

Siangnya, Cempluk pamit untuk pulang kampung karena ada hajatan di rumah saudaranya. Urusan katering dipasrahkan ke petugas katering lainnya, Gendhuk Nicole.

“Nic, aku tak mulih sik ya. Sesuk yen arep masak ayam meneh, ayame tak simpen neng freezer,” kata Cempluk. Nicole pun manggutmanggut tanda setuju.

Tak dinyana, esok harinya Nicole histeris menelepon Cempluk. Cempluk yang mendengar itu, langsung buruburu kembali ke asrama. Apa yang terjadi Saudara-saudara? Ternyata freezer mati. Daging ayam sebanyak 5 kg bau, tak bisa dimakan.

“Astaga, siapa yang mematikan freezer?” Cempluk ngomel-ngomel mengumumkan ke seluruh siswa.

Jon Koplo ngacung sambil cengar-cengir. “Saya Bu. Maaf, kemarin mau nyetrika tapi listrik nggak kuat. Makanya harus ada yang dimatikan. Saluran listrik freezer saya matikan sementara. Eee… malah kelupaan tidak saya tancapkan lagi. Saya nggak tahu kalau isinya daging ayam, Bu,” ujar Koplo sambil diketawain teman-teman lainnya.

Gubrak… Cempluk abang ireng. “Oalah, Le Le… Kowe ora mudheng yen rega ayam larange pol… Lha iki daging 5 kg terbuang sia-sia. Oalah, jaaan jan…” batin Cempluk.

Sebagai hukuman, satu asrama kena semua. Beberapa hari ke depan tidak ada yang namanya makan daging ayam. Entah sampai kapan. Mungkin sampai Cempluk sembuh dari sakit hati.

Sholikah,
Jl. Wijaya Kusuma 2 No. 8,
RT 001/RW 004, Kauman,
Pasar Kliwon, Solo

Solopos, 9 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top