Mencari Mokmen

Lady Cempluk senang bukan kepalang. Berkat bantuan dari temannya, ia bisa mendapatkan SIM C yang sudah didambakan selama bertahun-tahun. Maklum, meski usianya sudah 53 tahun ia belum pernah punya SIM walaupun setiap hari naik motor. Maka wajar, jika ia sangat hafal tanda-tanda kalau di suatu tempat sedang ada razia polentas alias mokmen.

Ia selalu kucing-kucingan untuk menghindari mokmen. Pagi itu, Cempluk moglengmogleng naik motor di jalan raya. Merasa surat-suratnya lengkap ia mencari mokmen. Ia ingin merasakan kepuasan diperiksa Pak Polisi dengan surat-surat lengkap.

Mesam-mesem membayangkan raut muka ganteng polisi yang sangat ramah dengan dirinya, tak terasa ia sampai pada kerumunan di pinggir jalan. “Alham dulillah, ini yang kucari,” pikirnya.

Cempluk yang biasanya langsung mencari jalan lain, kali ini tenang saja mengikuti alur yang ditunjukkan Pak Polisi.

“Selamat siang, Ibu, Maaf mengganggu perjalanan Ibu. Boleh lihat SIM dan STNK?” kata Tom Gembus, polisi yang sedang bertugas.

Dengan cepat Cempluk menjawab, “Oh, sangat boleh, Pak.” Cempluk serta merta membuka tas yang dikalungkan di pundaknya. Mak tratap, ternyata dompet yang berisi SIM dan STNK tidak terbawa. Cempluk mulai gembrobyos.

“Maaf, Pak, ini kok dompetnya enggak kebawa,” kata Cempluk.

“Silakan minggir Bu,” akhirnya Cempluk kena tilang.

Ia baru ingat kalau kemarin jagong manten. Dompet yang berisi semua surat-surat penting dimasukkan di tas modis yang sewarna dengan bajunya.

Tanpa jaminan surat apa pun, Cempluk tidak bisa membawa pergi motornya. Rumahnya agak jauh, sementara suaminya Jon Koplo sedang dinas di luar kota. Waduh… mau nggaya malah lemes, apes.

Main Sufanti,
Dosen Universitas
Muhammadiyah Surakarta

Solopos, 10 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top