Komunikasi Model Anyar

Mbah Jon Koplo, warga Wonogiri ini adalah pensiunan PNS yang usianya sudah 80-an. Untuk berkomunikasi dengan orang lain sudah sulit karena pendengarannya sudah berkurang alias budheg. Kalau ngomong sama Mbah Koplo harus dengan suara yang keras. Kedua-duanya harus sama-sama ngotot, seperti orang padu.

Di rumah itu Mbah Koplo punya seorang cucu, Lady Cempluk, yang bersekolah di salah satu SMK swasta di Kota Wonogiri. Lady Cempluk punya teman sekelas bernama Tom Gembus. Suatu hari, Gembus ke rumah Mbah Koplo untuk ketemu Cempluk mau pinjam buku.

Setelah mengetuk pintu keraskeras, tapi tak ada jawaban, tiba-tiba nampak Mbah Koplo di samping rumah membawa sapu lidi untuk bersih-bersih pekarangan.

Gembus pun mendatangi Mbah Koplo. Tapi Mbah Koplo diam saja, tak ada reaksi atau respons sedikit pun. Gembus ingat bahwa Mbah Koplo orangnya budheg. Tapi mau ngomong keras-keras, Gembus males.

Lalu Gembus mengambil kertas dan bolpoin dari dalam tasnya, dan menulis sesuatu, begini bunyinya, “Mbah Koplo, apa Cempluk ada?” Mbah Koplo menerima kertas itu dan membacanya lalu manggut-manggut dan tersenyum seperti sudah tahu apa yang dimaksud Gembus.

Lalu Mbah Koplo meminta bolpoin yang dibawa Gembus dan menulis sesuatu di bawah tulisan Gembus tadi, begini bunyinya, “Cempluk sedang pergi sama bapak dan ibunya.”

Sambil tersenyum kertas itu diberikan pada Gembus. Gembus pun membacanya lalu manthukmanthuk mendekati Mbah Koplo sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman sekalian pamitan pulang. Ealaaah, gek komunikasi modhel apa meneh iki?

St. Sutedjo,
Jatirejo RT 002/RW 008,
Wonoboyo, Wonogiri.

Solopos, 14 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top