Lupa Motor Sendiri

Setelah mudik satu bulan lebih sedikit, Lady Cempluk kembali ke Solo sehari sebelum anakanak sekolah. Kenyang liburan, Cempluk kembali ke rutinitas biasanya, antar-jemput anak-anak.

Sesuai dugaan, motor kesayangannya mati alias mogok. Mungkin sebulan tidak pernah dipakai membuat akinya tekor. Untungnya ada bengkel dekat rumahnya. Siang itu, Cempluk mendorong motornya ke bengkel yang jaraknya sekitar 200 meter.

“Untungnya masih ada waktu satu hari sebelum anakanak sekolah,” batin Cempluk. Sore harinya, Jon Koplo, tetangga sekaligus montir bengkelnya mengantar motor ke rumahnya.

Setelah bilang terima kasih dan bayar biaya perbaikan, Cempluk menyalakan motor. Namun motornya tidak mau nyala. “Mas, ke sini. Motornya masih mati.” Untungnya Koplo belum jauh.

“Lho, mosok mati, tadi sudah bagus kok,” jawab Koplo yang lantas menstater motor. Ternyata nyala.

“Pateni sik, Mas. Tak cobane meneh, tunggoni sik,” ujar Cempluk.

Cempluk berusaha keras memencet tombol starter. “Lho, ora isa murup…!” kata Cempluk sedikit mangkel. “Ooo, lha njenengan pencet rem tangan bareng karo mencet starter…” jawab Koplo.

Sebetulnya Cempluk masih ngeyel dengan saran Koplo. Tapi ia manut. Greeeenggg…!!!! Motornya nyala. Seketika suara raungan motor mengingatkan pada memorinya sebelum liburan, bahwa motornya motor matic.

Selama liburan di kampung Cempluk memakai motor almarhum bapaknya yang manual.

“Jian, sampe kelalen karo motore dhewe sing matic,” batin Cempuk kisinan.

Zakiah Wulandari
(wulandarizakiah@gmail.com)

Solopos, 16 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top