Sop Thengkleng

Iduladha memang selalu menguras tenaga karena semua orang dilibatkan dalam proses pemotongan hewan dan pembagian daging kurban. Demikian juga yang terjadi pada Jon Koplo, warga Weru, Sukoharjo.

Pagi itu Koplo malas-malasan bangun karena kecapaian setelah kemarin mengurus kurban dan malamnya mengadakan acara bakar satai dengan temantemannya.

“Wah,enake tangi terus sarapan dhisik iki,” batin Koplo sambil beranjak ke wastafel di dapur untuk mencuci muka. Sambil mencuci muka, Koplo melirik meja makan yang jaraknya tidak jauh dengan tempatnya mencuci muka.

“Wah, tangi turu wis dimasakke,” batin Koplo sambil tersenyum. Ia langsung menuju meja makan, ambil piring dan mengambil nasi.

“Buk, iki mangsak apa ta?” teriak Koplo lantang dikiranya istrinya ada di rumah.

Tidak ada jawaban, istrinya entah pergi kemana. Koplo hanya bisa mengira-ira masakan di depannya. Karena saking laparnya kemudian ia menyantap tanpa menghiraukan rasa dan nama masakan daging kuah di depannya.

Terdengar ada yang membuka pintu depan rumah. Ternyata istrinya, Lady Cempluk, habis belanja sayur-sayuran di warung sebelah.

“Pak, dahar napa? Wong kula dereng mangsak,” ujar Cempluk kaget melihat suaminya sudah menyelesaikan sepiring makanannya.

“We lha, sing neng wadah kuwi apa dudu sop?” Koplo balik tanya.

“Niku daging nembe kula godhog kalih kula paringi uyah. Lha napa pun enten rasane ta, Pak?” tanya Cempluk.

“Ya jane ora enek rasane, ning jenenge ngelih ya daging dikeki uyah ya wis enak,” jawab Koplo sambil memegang perut yang sudah terisi sepiring nasi plus “sop thengkleng”.

Ibnu Kaab,
Sidowayah RT 001/RW 006,
Ngreco, Weru, Sukoharjo

Solopos. 27 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top