Kehilangan Suami

Kisah ini terjadi pada Lady Cempluk yang sedang menunggu kepulangan suami tercinta, Jon Koplo. Sore itu Koplo pamit kerja jaga warung di pinggir jalan Slamet Riyadi, Solo. Warung yang menjual makanan itu biasa buka pukul 16.00 WIB hingga 21.00 WIB.

Sudah pukul 21.30 WIB Jon Koplo belum kunjung pulang. Waktu terus berputar. Pukul 22.00 WIB, Koplo tak kunjung pulang juga.

Cempluk mulai waswas. Ia menanyakan lewat Whatsapp. Namun cuma centang satu, kemungkinan HP suaminya baterainya habis.

Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. Hati Cempluk semakin tak keruan, jantungnya berdegup kencang, pikirannya ke hal-hal yang negatif.
Ditambah HP suaminya nggak bisa dihubungi. Cempluk mbrebes mili, Ia takut sesuatu menimpa suaminya.

Cempluk lari ke rumah pakdenya, Tom Gembus, yang bersebelahan dengan rumah Cempluk. Gembus ikut khawatir. Ia mengendarai motor  untuk mencari Jon Koplo di warung. Di warung sudah tutup tidak ada siapa-siapa. Lantas mencari di jalan sekitar, hasilnya nihil. Ia pun kembali pulang.

Cempluk yang mendengar kabar itu pun semakin menangis gero-gero. Gembus juga bingung mau mencari kemana lagi. Gembus  menyarankan, ditunggu sampai besok pagi, kalau tidak ada kabar, bisa lapor polisi.

Cempluk pun pulang masih sesenggukan. Ia terus berdoa semoga suaminya dalam keadaan baik-baik saja. Ia belum siap kehilangan suaminya. Jam menunjukkan pukul 01.00 WIB dini hari. Ada suara motor suaminya. Cempluk langsung bergegas keluar. Cempluk
setengah bahagia campur anyel. Ternyata suaminya habis nongkrong dengan temen SMAnya. Mau ngabari orang rumah nggak bisa karena HP nya mati.

“Oalah Pak, Pak. Tiwas gawe uwong panik!” Cempluk ngomelngomel sepanjang malam. Sementara Koplo hanya cengarcengir.

Sholikah,
Jl. Wijaya Kusuma 2 No. 8,
Kauman, Pasar Kliwon, Solo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top