Orang mati

Alu Ama mengatakan bahwa suatu pagi Nikmah bangun tidur sebagai sapi. “Sapi jawa yang besar dengan punuk putih mengkilat dan leher menggelambir yang dirambati otot-otot hijau. Ia hanya bisa membengah dan tak mampu lagi berkata-kata seperti manusia. Tapi kami yakin bahwa ia Nikmah. Sebab pada tubuh  sapi itu melekat sisa-sisa pakaian yang digunakan Nikmah tidur dalam keadaan robek-robek karena perubahan wujud itu. Kami hanya terkejut sebentar, lalu memperlakukan Nikmah sapiseperti kami memperlakukan Nikmah manusia,” kata Alu Ama.

Aku menyesap kopi, lantas menyalakan rokok. Alu Ama tidak suka kopi dan tidak merokok, meski bibirnya kering dan pecah-pecah seperti yang biasa terjadi kepadaku bila kebanyakanmerokok. Dia hanya ingin bercerita dan tampak puas karena aku mau mendengarkan ceritanya yang terdengar tidak masuk akal.  Rambutnyakelabu, kasar, jarang, namun dibiarkan tumbuh sepanjang bahu, dan dengan teratur – sekitar empat menit sekali– ia sibak ke belakang  menggunakan jari-jari tangan kanannya.“Kau tahu kenapa kami masih menganggap Nikmah manusia dan memperlakukannya seperti manusia pada  umumnya?”lanjutnya. Aku menggeleng. “Karena pohon kehidupannya  asih ada. Masih hidup. Daundaunnya masih hijau. Akarakarnya masih kuat.” “Pohon  kehidupan?” “Ya, pohon kehidupan. Pohonkehidupan Nikmah adalah sebatang trembesi yang tumbuh di tepi Kedung Song, dengan akarakar kokoh yang  berjuntaiandari dinding tebing. Tapi cerita tentang Nikmah belum seberapa. Yang lebih menakjubkan adalah Aki Bakar. Ia meninggal atau lebih tepatnya kami  kira meninggal,setelah bisul sebesar tungkak bambu di lehernya pecah. Darah dan nanah yang mengalir dari luka pecahan bisul itu beremberember. Aki Bakar  mengerangerangseperti sapi yang tengah disembelih. Dan setengah hari emudian, ia meninggal, maksudku, kami kira Aki Bakar meninggal dengan tubuh yang  pucat. Aku yakin sudah tak ada lagi setetes pun darah di tubuhnya. Apa yang kemudian kami lakukan adalah apa yang selalu kami lakukan setiap kali ada orang yang meninggal, yaitu segera memeriksa pohon kehidupannya. Dan ajaib. Pohon kehidupan Aki Bakar, sebatang beringin di sudut tanah lapang, masih sentosa  dan segar. Itu adalah yang pertama kali terjadi. Lazimnya, jika seseorang meninggal, maka pohon kehidupannya juga meninggal; meranggas dan kering, lantas tumbang.” Pada saat itu, aku berpikir bahwa Alu Ama sekadar orang tidak waras yang kabur dari rumah sakit jiwa.

“Tentu saja kami panik. Para tetua berkumpul untuk merembug persoalan itu. Sementara itu, jenazah Aki Bakar dibiarkan terbujur di amben rumahnya.  Beberapa perempuan mengipasi jenazah itu untuk mengusir lalat yang berusaha mengerubungi bekas pecahan bisulnya yang sudah  idak lagi mengeluarkan  cairan apapun. Setelah rembugan yang berlangsung lama, para tetua sepakat untuk mengirim beberapa di antara mereka ke dalam hutan Sendi di bawah pengawalanjagabaya kami yang linuwih. Mereka harus meminta petunjuk kepada danyangdanyang hutan, roh-roh suci yang menjaga keseimbangan antara  hidup dan mati, antaramanusia dan pohon.” Kali itu, aku cukup yakin bahwa hanya dua profesi yang cocok untuk Alu Ama: pendongeng atau aktivis lingkungan. “Utusan yang pergi ke kedalaman hutan berjumlah empat orang, termasuk jagabaya yang mesti menjamin keamanan mereka. Tiga hari mereka berada dalam hutan. Dan kau tahu apa yangmereka dapat dari danyangdanyang hutan setelah mereka kembali?” Aku menggeleng. Tentu saja aku tidak tahu.

“Danyang-danyang berkata kepada mereka bila pohon kehidupan Aki Bakar belum meninggal, maka itu artinya Aki Bakar belum meninggal. Dan oleh karena  itu, takada alasan bagi kami untuk menguburkan Aki Bakar, tak ada alasan untuk memulangkan Aki Bakar kepada tanah dan membiarkannya kembali menyatu dengan bumi yang dulu pernahmenghidupinya. Peristiwa Aki Bakar terjadi lebih dari duapuluh tahun yang lalu, sewaktu aku masih bocah menjelang baligh. Dan sampai sekarang, pohon kehidupan Aki Bakar tetap sajasentausa. Segar dan rimbun dan bertambah besar.” “Lalu apa yang terjadi dengan jenazah Aki Bakar?  Apakah tidak membusuk?” aku tidakmampu tidak penasaran.

“Orang-orang di kampungku akan marah kepadamu kalau kau menyebut jenazah Aki Bakar. Kami yakin Aki Bakar belum meninggal, oleh karena itu kami tetap  memanggilnya Aki Bakar. Aki Bakar saja, tanpa awalan jenazah. Ya, Aki Bakar masih terbaring di ambennya. Tinggal tulang belulang belaka. Tapi bagaimanapun, karena pohon kehidupannya masih hidup, maka itu berarti Aki Bakar masih hidup.” Aku bertemu (atau lebih tepatnya menemukan) Alu Ama sore kemarin, dalam perjalanan menuju kedai kopi dan kami bertabrakan lalu jatuh bersama. Ia berjalan dengan kepala tertunduk sementara aku sibuk dengan  ponselku. Aku meminta maaf dan ia tampak terkejut dengan permintaan maafku itu.

“Kau bisa melihatku? Apakah aku ada bagimu?” itulah kalimat pertama yang diucapkannya padaku, sebuah kalimat yang tidak aku mengerti. Matanya berkilau.  Dan aku mengartikannya sebagai percikan kegembiraan. Pada detik itu pula, aku menyadari bahwa Alu Ama bukan orang sembarangan, setidaknya, ia punya  sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Maka aku mengurungkan niat pergi ke kedai kopi dan malah mengajak Alu Ama ke rumahku. Ia makan banyak sekali,  kemudian tidur sangat pulas. Aku bahkan belum sempat menawarinya ganti baju, mengingat pakaian yang dikenakannya –celana kain hitam dan kemeja putih  lengan panjang– sudah begitu kumal dan menguarkan bau apak, ketika suara dengkur panjang dan berat keluar dari mulutnya. Ia baru bangun tiga jam yang lalu dan terus saja bercerita. Aku memang mendapatkan cerita yang menarik, hanya saja aku tidak menduga kalau ceritanya benar-benar tidak masuk akal.

Awalnya, ia mengatakan bahwa dirinya sudah mati. Ia belum pernah mati sebelumnya, tentu saja, dan ini adalah pengalaman pertamanya. Ia terkejut karena ia  tidak harus dipulangkan dan lebur ke dalam tanah dan menyatu dengan alam seperti yang dibayangkannya atau dikatakan orangorang kepadanya tentang bagaimana kehidupan setelah mati itu. Ia terus berkeliaran di kampungnya, namun orang-orang tak lagi menyahuti perkataannya dan sepenuhnya mengabaikan  keberadaannya. Ia belum sempat menjelaskan bagaimana ia bisa meyakini bahwa dirinya sudah meninggal sewaktu ceritanya melompat ke kisah Nikmah yang  berubah menjadi sapi suatu pagi. Dan kukira, tepat setelah cerita perihal Aki Bakar selesai, inilah kesempatanku untuk mendapatkan penjelasannya.

“Baiklah” kataku, “bila seseorang yang sudah tinggal tulang belulang dianggap masih hidup, lalu bagaimana bisa seseorang yang masih berdarah berdaging dan  bisa lapar bisa mengantuk sepertimu dianggap sudah meninggal?” “Oh, itu,” suara Alu Ama merendah. “Apa yang terjadi kepadaku adalah persis kebalikan dari  apa yang terjadi kepada Aki Bakar. Jadi delapan hari yang lalu, jagabaya yang sedang mencari udang kali secara tidak sengaja melihat pohon kehidupanku, sebatang kalendra di tepi Kali Baya, tumbang dalam keadaan meranggas. Ia segera pulang dan mengabarkan hal itu kepada penduduk kampung. Aku tidak tahu  apa yang terjadi namun aku merasa baik-baik saja.

Kami kemudian berkumpul di balai kampung dan jagabaya menanyakan kepadaku apakah aku mati atau hidup. Tentu saja aku menjawab aku masih hidup.  Namun mereka sukar menerima kenyataan bahwa aku masih hidup sementara pohon kehidupanku sudah tumbang. Perlu kau tahu bahwa di kampung kami,  setiap orang memiliki pohon kehidupannya sendirisendiri. Ketika seorang bayi dilahirkan, bersamaan dengan itu, pohon kehidupannya akan muncul di suatu  tempat. Bila kau menyentil pohon yang baru tumbuh itu, misalnya, maka bayi itu akan menangis seakan-akan sentilan itu mengenai badan si bayi. Itu adalah  teknik lain untuk menguji mana pohon kehidupanmu bila kebetulan ada beberapa pohon yang baru tumbuh bertepatan dengan kelahiran seorang bayi.” Aku  mengangguk. Menyesap kopi. Menyalakan rokok yang lain.

“Baiklah. Aku tak tahu kenapa pohon kehidupanku tumbang. Namun seperti yang terjadi pada Aki Bakar, kejadian yang menimpaku juga baru pertama kali itu  terjadi. Maka para tetua kembali berembug. Dan persis seperti pada peristiwa Aki Bakar, mereka mengirim empat orang, termasuk jagabaya, ke dalam hutan  Sendi untuk mendapatkan petunjuk dari danyang-danyang hutan. Dan kau tahu apa yang mereka dapatkan setelah tiga hari di dalam hutan?” Aku menggeleng.  Tentu saja aku tidak tahu. “Mereka mengatakan bahwa aku sudah meninggal. Namun, karena aku masih bisa berjalan dan lain sebagainya, mereka tidak  menguburkanku. Mereka tidak mengembalikanku ke dalam tanah.

Namun tiba-tiba sikap mereka berubah. Mereka tak lagi menjawab pertanyaanku, mereka mengabaikan keberadaanku, dan lain sebagainya, seolah aku benar- benar tak ada lagi. Lama kelamaan, perlakuan semacam itu membuat aku meyakini bahwa aku memang sudah meninggal. Mau apa lagi? Tapi ada sesuatu dalam  atiku yang tetap berontak, yang tidak terima pada kenyataan itu. Pada akhirnya, tak tahan dengan apa yang terjadi kepadaku, aku meninggalkan  kampungku. Aku berjalan tanpa tujuan. Dan di sepanjang perjalanan, di luar kampungku, tak ada seorang pun yang memperhatikanku. Aku merasa benar-benar  hilang. Keyakinan bahwa aku memang sudah meninggal semakin menguat seiring pengembaraanku itu. Sampai kemudian kita bertabrakan dan untuk  pertama kalinya, ada orang yang mengucapkan sesuatu kepadaku. Kau.” “Kau seharusnya melaporkan hal semacam ini kepada polisi. Mereka selalu bisa  diandalkan untuk menyelesaikan suatu persoalan,” kataku pada akhirnya.

***
Kami tidak sempat pergi ke kantor polisi. Malam itu, ketua RT datang ke rumahku dan menanyakan identitas Alu Ama. Dengan wibawanya yang besar, ketua RT menjelaskan peraturan di lingkungan kami yang sebenarnya sudah aku tahu, bahwa tamu yang lebih dari dua puluh empat jam mesti melaporkan diri kepada  etua RT dan menyerahkan salinan  anda pengenal. “Jadi kau tidak punya KTP, paspor, atau tanda pengenal yang lain? Kau bahkan juga tak punya akta  elahiran?” ketua RT menggeleng-gelengkan kepala. “Kau orang yang tidak beridentitas, maka maafkan saya, tapi kau harus pergi. Kau tidak diterima di sini.  udah begitu peraturannya.”Alu Ama mengucapkan banyak terima kasih kepadaku sebelum pergi. Setelah kelokan jalan menelan sosok Alu Ama, ketua RT  erkata  epadaku, “tanpa identitas seperti itu, ia tak lebih dari orang mati. Begitulah memang negeri ini.” Aku hanya diam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top