Kanki si jaja gajah

Entakan kaki Jaja, si Anak Gajah memecah kesunyian hutan. Sepasang burung kutilang yang hinggap di ranting pohon waru sontak beterbangan. Tapi anak gajah itu tetap berlari sambil memanggil-manggil ibunya. “Bu, Ibuuuu!” teriaknya. “Ada apa, sih sayang?” sahut Liza, si Ibu Gajah.

“A-aku melihat sekelompok manusia menuju ke hutan, Bu! Mereka membawa senjata yang bisa mengeluarkan suara.” Liza, Ibu Gajah menjadi cemas. Ia tahu, kelompok manusia yang dimaksud anaknya itu adalah kawanan pemburu gading gajah. “Kamu jangan main jauh-jauh sendirian, Ja. Hutan ini mulai tidak  aman!” “Tenang, Bu. Aku tidak takut dengan mereka!” Si Jaja Gajah lalu melengos. Ia tidak mendengarkan nasihat ibunya.

***
Esok harinya Jaja dan Pangpang, si Gajah belalai pendek sahabat dari Jaja, berpamitan pada Liza untuk berendam di sungai pinggiran hutan.

“Ibu khawatir dengan keselamatan kalian. Sungai itu terlalu jauh. Bagaimana jika kalian bertemu dengan para pemburu itu? Ibu takut terjadi apa-apa  denganmu, Sayang!” larang Liza. “Aku bisa menjaga diri, Bu. Lagi pula, ada Pangpang bersamaku! Kami bukan anak kecil lagi yang selalu dilarang-larang!” bantah Jaja.

Liza tidak bisa melarang Jaja. “Ya, sudah, Ja. Tapi, kamu harus pulang sebelum gelap.” Jaja dan Pangpang bersorak dengan girangnya. Mereka sudah tak sabar berendam di sungai. Kulit mereka sudah terasa kering dan gatal.

***
Di lain tempat para gajah dewasa berkumpul di bawah pohon trembesi. Mereka berunding untuk menghadapi ancaman manusia pemburu.

“Kita harus mencari cara menyelamatkan diri. Hanya ada dua pilihan, melawan atau menghindar,” kata Gopala, pimpinan gajah. “Jika melawan, itu artinya kita  menyerahkan diri. Mereka itu manusia jahat, punya senjata yang mematikan. Mereka bisa melumpuhkan kita dari jarak jauh,” kata Barja, kakek Jaja menimpali.

“Betul, Kek. Kita harus mencari cara lain,” kata Magoda, ayah Jaja. “Bagaimana kalau kita mengungsi untuk sementara waktu. Jika kondisi aman, kita kembali lagi ke sini.” “Tidak semudah itu! Kalau kita mengungsi bagaimana kebutuhan makanan kita? Apakah ada hutan lain sesubur di sini?” sanggah salah satu gajah. “Iya, itu benar!” timpal gajah lainnya. Suasana perundingan menjadi riuh. Banyak di antara gajah-gajah itu yang bersikeras bertahan di hutan.

“Aku menghargai pertimbangan kalian. Tapi, ini darurat, soal hidup dan mati. Jika tetap di sini, kita akan musnah karena ulah pemburu rakus itu. Jadi,  kuputuskan, kita harus mengungsi!” tegas Gopala. Seluruh gajah akhirnya pun mematuhi semua keputusan Gopala.

***
Berbeda dengan Liza, Ibu Jaja yang saat itu gelisah sekali. Matahari sudah hampir tenggelam. Namun, si Jaja belum juga pulang.

“Kita harus menunggu Jaja. Aku tidak mau mengungsi sebelum anakku pulang. Di mana engkau, Jaja?” lirihnya.
“Tenanglah Bu, jika malam ini Jaja tidak pulang, aku akan meminta bantuan gajah-gajah lain untuk mencari mereka,” hibur Magoda.
“Aku tidak bisa tenang sebelum mengetahui nasib Jaja. Apalagi, kita semua akan pergi meninggalkan hutan ini. Jaja…,“ Liza terus meratap pilu. Magoda, Ayah Jaja hanya diam, berusaha menutupi kekhawatirannya.

***
Benar! Karena asyik berendam, Jaja dan Pangpang jadi lupa segalanya. Termasuk lupa pesan ibunya. Setelah sadar, mereka tampak ketakutan. Lebih-lebih si  aja. “Bagaimana ini, Pangpang? Ke mana arah pulang? A-ku takut gelap! Ibu. Ibuuuu,” sesal Jaja sambil menangis.

“Hah, kamu menangis! Mana si Jaja yang pemberani itu? Ternyata, kamu sebenarnya cengeng!” ejek Pangpang. Jaja tidak peduli, ia terus menangis.
“Ja, diamlah! Lihat itu!” seru Pangpang tiba-tiba. Di depan mereka, tampak kepulan asap di depan sebuah tenda. Sontak mereka panik. Ternyata, itu adalah kemah para manusia pemburu. Jaja tambah lemas. Ia takut sekali jika tertangkap pemburu itu.
“Ayo, tinggalkan tempat ini sebelum mereka memergoki kita!” ajak Pangpang. Sesaat kemudian, Pangpang ingat sesuatu,
“Bukankah, aliran sungai itu melewati pusat hutan? Sedangkan permukiman kita berada di dekat pusat hutan! Berarti….” Seketika semangat Jaja bangkit  embali! Ia berharap masih punya kesempatan bertemu ibunya, Jaja ingin sekali meminta maaf. Kedua anak gajah itu terus berjalan menyusur sepanjang aliran sungai. Pangpang di posisi depan.

Beberapa lama kemudian, terdengar langkah-langkah besar yang sangat akrab di telinga lebar Jaja. Iya! Itu derap langkah rombongan gajah. Segera Jaja dan  Pangpang melengkingkan suaranya. Rombongan itu sontak berhenti. Sebuah suara yang sangat Jaja kenal membalas teriakannya.

Jaja berlari kencang, mencari asal suara itu. “Ibuuuuu!” “Ja-jaaa! Kaukah itu?” Ibu dan anak gajah itu saling berpelukan. Akhirnya, Jaja meminta maaf dan tidak mau lagi membantah semua nasihat ibunya. Jaja janji ingin menjadi anak yang penurut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top