Sama Merahnya

Kisah nyata kali ini dilakoni Gendhuk Nicole sepulang dari menengok rekan kerja yang sedang sakit. Gendhuk Nicole diajak Lady Cempluk mampir membeli boneka di daerah belakang sebuah mal di Solo.

Tempat yang dituju adalah tempat yang biasa digunakan untuk kulakan boneka, jadi harganya sedikit lebih murah. Karena nunut mbonceng dan juga yang belum pernah ke tempat itu, tentu saja Gendhuk mengiyakan saja.

Sesampai di toko ternyata sangat ramai. Pengunjungnya cukup banyak. Gendhuk ikut melihat-lihat berbagai bentuk boneka yang tersedia di  situ. Banyak sekali jenis boneka dari ukuran kecil sampai ukuran besar. Sayangnya tidak ada price tag atau harga di masingmasing barang. Pembeli harus menanyakan kepada pelayan toko yang berjaga di area dalam toko.

“Mas, bantal boneka yang pink ini harganya berapa?” Cempluk yang sudah berkalikali ke situ menanyakan harga kepada mas-mas berbaju
merah yang merupakan penjaga toko, sebut saja Tom Gembus. Gembus lalu menjelaskan aneka harga dan bentuk dari boneka yang dibawa Cempluk.

Gendhuk juga ingin tahu harga bantal boneka yang dipengini. Dia segera menuju mas-mas berbaju merah yang ada di dekatnya untuk menanyakannya harganya. “Mas, yang ini harganya  berapa?” tanyanya pada seseorang yang juga berbaju merah, sebut saja Jon Koplo.

“Waduh, nggak tahu, Mbak. Saya bukan pelayan toko ini,” jawab Koplo. Perempuan yang ada di sebelah Koplo kontan tertawa terbahak- bahak. Dia mungkin temannya. Gendhuk kaget bukan kepalang, uisin tentu saja. Ternyata sama-sama pengunjung toko.

pengunjung toko. “Oh, ngapunten, Mas, saya kira pegawai sini juga. Habis warna bajunya sama sih,” kata Gendhuk sambil ngempet isin.

Segera Gendhuk menyingkir dari hadapan mas dan mbak itu, me nyusul Cempluk yang sedang membayar di kasir. Nggeret-nggeret Cempluk
untuk segera pulang.

Misbachul Chasanah
(misbachulchasanah@gmail.
com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top