Demi Talas

Sudah sepekan, Jon Koplo bertekad mencoba memperbanyak makan buah dan sayur, tidak makan lauk yang digoreng tetapi serba-dikukus. Ia juga mengganti konsumsi nasi dengan karbohidrat dari jagung rebus, singkong, dan talas yang dikukus.

Pagi itu, Lady Cempluk mruput nguprek di dapur masak pepes dan merebus jagung untuk sarapan Koplo.

”Bu, tolong belikan talas buat camilan di sekolah,” kata Koplo selesai sarapan.

Cempluk segera ke pasar dekat rumahnya untuk beli talas yang sudah matang. Harga satu plastik cuma Rp2.000.

”Ini Pak, talasnya. Aku masukkan ke dalam tas ya?” kata Cempluk sepulang dari pasar.

”Jangan! Masukkan kresek saja. Nanti tak cangkinge,” jawab Koplo. Cempluk pun meletakkan tas kreseknya dekat tas Koplo.

Koplo segera mengambil motor di garasi, sedangkan Cempluk membuka pintu pagar. Koplo pun pamit berangkat mengajar.

Beberapa waktu kemudian, tiba tiba mak jegagik, Koplo pulang.

”Lo Pak, kenapa pulang? Jangan-jangan ada yang ketinggalan ya? Dompet? Flashdisk?” Cempluk memberondong pertanyaan.

”Talasku ketinggalan, Bu?” jawab Koplo.

”Makanya kalau sudah tahu pelupa mbok tadi manut, talasnya kumasukkan tas ndak boleh.” jawab Cempluk gemes. Koplo cuma cengarcengir. Demi talas seharga Rp2.000, Koplo sampai balik lagi ke rumah untuk mengambilnya.

Neneng Utami S.
nenengutami05@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top