Penulis biografi

Pukul dua dini hari. Aku sudah berada di stasiun, bersiap menunggu kedatangan kereta yang akan membawaku ke Kota S.Stasiun tampak lengang. Dingin  menusuk tulang.Beberapa hari terakhir, kota ini memang terasa lebih dingin dari biasanya. Kugesekkan telapak tangan ke paha, berharap jadi sedikit lebih hangat. Kulirik arloji di tangan, sebentar lagi keretakutiba.

Demi mengusir sepi, aku memasang earphone dan mulai memutar lagu di gawai. Satu lagu Efek Rumah Kaca memecah sunyi: aku bisa di racun di udara, aku  bisa terbunuh di trotoar jalan. Entah mengapa lagu itu terdengar begitu menyayat malam ini, di stasiun yang sepi ini. Aku tak ingat kapan terakhir kali naik  kereta. Mungkin setahun yang kalu ketika pergi ke Kota J untuk suatu pekerjaan. Bagiku perjalanan dengan kereta selalu menyenangkan. Lebih nyaman ketimbang naik pesawat. Bukan karena aku takut ketinggian, tapi dengan berkereta setidaknya ada banyak hal yang bisa dinikmati dari kaca jendela, tak sekadar gumpal-gumpal awan. Perjalanan yang memakan waktu cukup lama juga memungkinkan kita bertemu orang baru. Kadang ia menjadi kawan berbincang yang asyik.

Begitu kereta datang dan pengumuman digemakan dari pelantang suara, aku segera bangkit dari bangku peron dan bergegas masuk. Aku mengingat-ingatdi gerbong mana akuakan duduk dan di kursi nomor berapa. Awalnya bangku di sampingaku masih kosong tapi tak lama kemudian seorang perempuan  berkacamata menempatinya. Ia mengeluarkan buku dari tas dan mulai membaca. Lima menit berikutnya kereta bertolak meninggalkan stasiun. Berada dalam  kereta seperti ini, aku teringat anakku. Dia suka sekali kereta. Kami sering menonton kereta sore hari di dekat palang kereta tak jauh dari rumah kami. Dia pasti  bersorak setiap kali lewat. Di usianya yang dua tahun, sejumlah nama kereta sudah ia hafalkan. Besok dia berulang tahun. Harusnya aku ada bersamanya.  Namun justru aku berada di Kota S untuk sebuah konferensi. Kadang kesedihan bisa sesederhana ini.

Naik kereta juga mengingatkanku pada kejadian bertahun silam, ketika aku masih mahasiswa. Suatu kali aku bersama empat orang kawan pergi ke Kota Y untuk keperluanriset. Kami memilih kereta. Urusan pemesanan tiket kami serahkan pada salah seorang kawan. Ia sudah terbiasa dengan pekerjaan macam itu. Hingga akhirnya kehebohan itu tiba. Kami berniat meninggalkan Kota Y menuju Kota J, kotatempatkami belajar. Di stasiun kami menunggu kereta datang. Saat kereta  datang, kami bergegas masuk. Alangkah terperanjatnya kami ketika melihat kursi kami sudah ditempati. Dan kami lebih terperanjat saat melihat dengan saksama tanggal di tiket kami. Rupanya kawan kami salah membeli tiket. Pulang tanggal 8 ia pesan kereta tanggal 9. Jadilah malam itu kami bermalam di  stasiun. Kereta selalu menghadirkan cerita. Dulu, ketika dunia perkeretaapian belum serapi sekarang, naik kereta adalah sebuah kebahagiaan. Harga tiket kereta  konomi kelewat murah.  ak masalah dapat “tiket tanpa tempat duduk”, yang penting sampai kota tujuan. Masalah besar waktu itu justru adalah banyaknya copet berkeliaran di kereta.

Aku hampir tertidur ketika perempuan itu menutup bukunya dan bertanya, “Mau ke Kota S ya, Mas?”
“Eh, iya, Mbak.” Aku menjawab sekadarnya. Aku sudah sangat mengantuk. Sengaja aku tidak tidur sebelum berangkat ke stasiun karena takut ketinggalan kereta.
“Ada acara apa di Kota S?” Aku mulai terganggu. Sebetulnya aku bukan orang yang susah terbuka dengan orang yang baru aku kenal. Tapi orang ini mengajak ngobrol di saat yang tak tepat. “Ada seminar, Mbak,” jawab aku sekenanya. Aku enggan menceritakan lebih rinci bahwa aku ke Kota S untuk menghadiri sebuah konferensi internasional.

“Oh, seminar. Dosen ya, Mas?”
“Iya, Mbak.” Aku semakin tidak nyaman dengan pertanyan basa-basinya. Aku hanya ingin tidur.
“Aku juga mau ke Kota S, Mas. Mau bertemu narasumber untuk buku biografi yang sedang aku tulis. Tapi orang yang aku mau temui baru saja meninggal, dibunuh. Tiket sudah terlanjur aku beli, aku nekat tetap ke Kota S.” Aku tertegun sesaat. Hari hampir pagi dan berita tentang seorang yang dibunuh mampir di  elingaku. Kantuk perlahan surut dan aku merasa perempuan ini “tak bisa diabaikan”.
“Mbak penulis ya?”
“Iya, Mas. Lebih tepatnya penulis biografi . Tapi aku bukan penulis besar, namaku tidak terkenal. Hehe. Belum terkenal, lebih tepatnya.”
“Sudah menulis biografi siapa saja, Mbak?” Aku membetulkan posisi duduk lalu menenggak air mineral.
“Ah, tidak layak dibangkan, Mas. Hehe. Hanya biografi tokoh-tokoh kurang terkenal. Kebanyakan caleg-caleg di daerah yang sebagian besar gagal jadi.” Dari caranya menjawab aku tidak terlalu yakin jika perempuan ini berkata jujur. Terdengar seperti ada sesuatu yang disembunyikan. “Ke Kota S juga dalam rangka
nulis biografi caleg?”
“Enggak, Mas. Yang ini istimewa, tokoh lumayan terkenal. Penguasaha besar. Tapi pengerjaannya agak ribet. Hehe.” Perempuan itu mengambil kotak biskuit dari dalam tasnya. Ia menawarkan biskuitnya. Aku menolak halus. “Kabarnya honor penulis biografi besar ya, Mbak? Dulu pernah dengar seorang wartawan
diminta menulis biografi ketua umum partai dapat 100 juta?” “Hehe. Nggak juga, Mas. Lagi beruntung saja itu yang dapat 100 juta. Kalau tarifku jelas tidak sebesar itu.Aku pernah menulis biografi aktivis sosial yang sering advokasi anak jalanan. Eh, proyek itu ternyata proyek 2M, alias proyek ‘Makasih Mbak’.  epeserpun aku nggak dapat, Mas. Paling cuma sesekali ditraktir makan di restoran. Dia bilang proyek penulis biografi ini sebagai proyek sosial. Aku memang dekat dengan aktivis itu, Mas. Tapi kan jangan gratisan juga. Hehe.”
“Setidaknya dapat pengalaman, kan? Hehe.”
“Iya sih. Tapi pengalaman buruk. Hehe. Proyek 2M itu masih mending, Mas. Dulu pernah aku diminta menulis biografi seorang dokter perempuan. Kaya raya,punya dua rumah sakit. Suaminya anggota DPR. Selama penulisan tidak ada masalah. Buku siap cetak. Bahkan hari peluncuran buku sudah ditentukan. Eh  ibatiba bu dokter itu minta semua dibatalkan. Buku dilarang terbit. Rupanya dia sedang mengurus perceraian dengan suaminya. Kononsuaminyaselingkuh.” “Lho, kenapa dilarang terbit?” “Jelas saja, lha wong di buku itu ada satu bab yang bercerita kisah cinta bu dokter dengan suaminya yang romantic banget.

Kalau buku itu terbitkan ngenes. Setelah perceraian itu bu dokter pergi ke Australia, beberapa pekan di sana. Tinggal di apartemen anaknya yang kuliah di  Canberra. Honorku baru dibayar separuh.Aku enggan minta pelunasan. Kasihan, toh buku juga enggak jadi terbit.” “Seru juga sepertinya ya jadi penulis biografi  .” “Banyak apesnya, Mas. Hehe. Mau berhenti sebetulnya. Tapi sudah terlanjur basah masuk di kolam itu, jadi sekalian saja.” Kereta terus melaju. Kami terdiam  beberapa saat. Tanpa sadar aku mengangguk pelan lalu tergeragap. Kantuk menyerang. Entah berapa lama lagi kami tiba di Kota S.

***
Aku terjaga dari setengah tidur setengah sadar ketika perempuan di sampingku bangkit meninggalkan tempat duduknya. Mungkin ingin ke toilet. Aku tak ambil peduli.

Waktu terus berlari. Kereta hampir tiba di Kota S. Perempuan di sampingku belum kembali ke tempat duduknya. Kudengar ribut-ribut dari arah toilet kereta. Pengeras suara umumkan bahwa stasiun Kota S sudah dekat. Penumpang yang akan turun di Kota S diminta bersiap. Kulihat beberapa petugas menuju toilet kereta. Sepertinya pintu toilet tidak bisa dibuka dan mereka ingin mendobraknya. Aku bersiap turun, dan kecurigaanku terbit. Mungkin ada sesuatu yang tak beres terjadi. Benar saja, ketika pintu toilet berhasil dibuka, beberapa orang di depan toilet memekik.

Kereta masuk stasiun Kota S dan pelan-pelan berhenti. Aku menggendong ransel dan menuju pintu keluar. Di depan toilet aku sekilas melirik kondisi dalam  toilet. Alangkah mengerikan! Perempuan yang tadi duduk disampingku tewasdengan kondisi leher tergorok. Mendadak aku mual dan lemas. Terasa ada yang  berputar-putar dalam kepalaku. Keributan tak terhindarkan. Polisi segera tiba dan meminta orang-orang menjauh dari kereta yang kutumpangi. Aku duduk di  kursi peron, mengambil napas panjangpanjang, menenangkan diri.

Kubuka tas ranselku untuk mengambil air mineral. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan amplop cokelat yang berada di dalam ranselku. Seingatku aku tidak membawa amplop dari rumah. Pelan-pelan kubuka amplop itu. Di dalamnya ketemukan fl ashdisk putih dan secarik kertas. Di kertas itu tertulis: apa pun yang terjadi, selamatkan data ini. Mendadak ada yang berdesir kencang dalam dadaku. Aku tengok kanan kiri. Flashdisk dan amplop lekas-lekas kumasukkan dalam  ransel. Sial betul, kenapa aku mesti masuk dalam lingkaran ini. Aku segera memesan taksi online dan ingin segera istirahat di hotel. Betapa malang, aku kurang  tidur dan dihantam kengerian yang membingungkan di kota ini. Ketika keluar stasiun, aku merasa ada yang mengikutiku. Aku berusaha untuk tak ambil pusing  dan terus berjalan. Taksiku tiba, aku bergegas masuk.

Aku minta sopir untuk sedikit mempercepat laju. Baru jalan beberapa meter dari stasiun, taksiku tiba-tiba berhenti. Ada mobil hitam menghadang. Empat orang  berpakaian hitam turun. Ya Tuhan, apa lagi ini? Aku hanya ingin sampai hotel dan segera tidur! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top