banjir besar di kerajaan semut

“Kak, aku lapar. Apakah ada makanan?” tanya Uil lemah. Uil adalah seekor semut yang periang. Tapi, kini ia sakit dan terbaring di sarang mereka yang hangat di  dalam tanah. Ail dan Uil tinggal bersama para semut lainnya dan ratu mereka.

“Tentu. Apakah kau mau roti atau daging belalang?” tanya Ail.
“Aku ingin makan daging belalang saja agar energiku bertambah,” jawab Uil meneteskan liur membayangkan kelezatan daging belalang.

Ail mengambilkan beberapa potong kecil daging belalang dan menyuapi adiknya. Ail sangat menyayangi Uil. Sejak kepergian ayah dan ibu, hanya Uil yang ia  miliki. Mereka tidak merasa sendiri karena mereka hidup bersama dengan banyak semut lain yang menjadi koloni mereka.

Ail adalah semut pekerja. Ia dan semut pekerja lainnya bertugas mencari makanan dan membuat sarang. Ail masih ingat betapa lelah dan susahnya dulu saat ia  dan para semut pekerja menggali tanah untuk membuat sarang mereka yang hangat dan nyaman ini. Mereka aman dari pemangsa seperti trenggiling. Atau aman dari injakan telapak kaki manusia atau hewan lainnya. Sementara Uil adalah semut penjaga. Uil dan para semut penjaga bertugas menjaga sarang mereka, makanan dan tentu saja ratu semut, Ratu Pizi. Semenjak Uil sakit, ratu mengizinkan Ail untuk merawat adiknya hingga sembuh. Ratu Pizi merupakan ratu yang  sangat bijaksana.

Ia sangat menyayangi semua semut-semut di koloninya. Begitu pun para semut, mereka sangat menyayangi ratu mereka yang bijaksana. Tugas ratu hanya  makan dan bertelur agar kelestarian semut terus terjaga.

“Tidurlah agar kau cepat sembuh,” ucap Ail setelah selesai menyuapi Uil.
“Terima kasih, Kak. Baiklah,” jawab Uil patuh.

Ail kemudian ikut membantu mengangkat makanan yang baru saja sampai. Sepertinya sebuah kue mangkuk yang sangat besar. Kue berwarna merah menggoda  dilapisi krim gula yang manis.

“Apa ini? Woo… wooo! Pasti ratu akan sangat suka!” seru Ail ikut menggotong.
“Tentu saja! Ada manusia membuang kue ini ke tong sampah. Dasar manusia! Mereka banyak tergolong mubazir!” seru Pok tak habis pikir.

Menurutnya, saat ini manusia banyak yang tamak dalam mengambil makanan hanya untuk dibuang kemudian.
“Taruh di sini,” ucap salah satu semut penjaga gudang makanan mereka. Ail pun ikut puas. Persediaan makanan mereka cukup banyak untuk beberapa hari ke depan.

Ail juga kangen sekali untuk mencari makanan lagi bersama teman-temannya. Begitu banyak pengalaman berharga yang ia rasakan. Ia yang selalu  bergotongroyong membawa makanan bersama teman-temannya. Melewati hutan, pohon dan menghindari jalan yang biasa dilalui manusia.

Atau kadang-kadang menggotong mayat teman mereka yang telah mati. Ia juga pernah menggotong seekor burung yang telah mati bersama teman-temannya.  Meskipun semut seperti dirinya bertubuh kecil, tapi semut mampu mengangkat beban dengan berat lima puluh kali dari berat badannya sendiri.

Di setiap perjalanan, mereka selalu saling mengucap salam jika bertemu dengan semut lain. Terkadang Ail dan teman-teman suka memanjat pohon, menikmati angin yang sejuk. Ail tersenyum membayangkan keindahan itu. Sampai suatu hari… Senyum Ail langsung hilang seketika saat banjir besar menerjangnya dengan  iba-tiba. Ail terapungapung bersama ratusan semut lainnya dan makanan mereka. Ail sesak napas karena air banjir ini busuk sekali baunya.

“Uil! Uil! Uiiilll!!!” teriak Ail panik. Ia mual dan pusing saat air banjir ini tertelan olehnya. Keadaan benar-benar kacau. Semua semut mangap-mangap  menyelamatkan diri masing-masing.

***
Uil telah tiada. Banjir busuk telah merenggut nyawanya bersama ratusan semut yang tak mampu bertahan. Begitu pun dengan ratusan larva semut yang tak  ampu melindungi dirinya sendiri. Ail benar-benar sedih. Tiada lagi adiknya kini. Seluruh isi sarang mereka porakporanda. Bekal makanan mereka semuanya ikut rusak. Untung ratu Pizi selamat!
“Ini adalah ulah seorang manusia yang mengencingi sarang kita di lubang tanah. Begitu banyak kematian. Begitu banyak kerusakan. Begitu banyak kebahagiaan tiap semut terenggut,” ucap Ail pahit. Semua semut mengangguk. “Tidakkah para manusia itu tahu bahwa Rasul mereka Muhammad berpesan, dilarang kencing di lubang dalam tanah karena bisa menyakiti binatang yang tinggal di dalamnya? Contohnya semut seperti kita?” tanya Ail lagi.

“Seharusnya mereka sekarang tahu. Dan setelah ini, tidak ada lagi manusia yang kencing di lubang tanah,” jawab beberapa semut serentak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top