Dikira Penculik

Kisah nyata ini terjadi di siang hari. Saat itu Lady Cempluk, gadis yang sedang duduk di bangku SMP kelas IX, sedang melatih menari anak-anak SD di kampungnya. Malam itu akan ada pentas seni di kampung Cempluk. Makanya di siang hari, Cempluk sebagai pelatihnya mengajak adik-adik untuk giat berlatih di serambi masjid kampung.

Nah, saat lagi asyik menari tiba-tiba datang tiga lelaki paruh baya yang berperawakan tinggi besar. Mereka membawa ransel besar, penutup kepala alias topi, serta memakai sepatu bot. Mereka bukan warga kampung tetapi orang asing. Latihan sempat terhenti, Cempluk dan teman-temannya saling berbisik.

“Eh Mbak, kae sapa? Kok kaya penculik ya?” ujar Gendhuk Nicole.

“Husss… alon-alon, ndhak bapake krungu! Tapi kok mereka salat?” jawab Cempluk

“Isoh wae ta, Mbak. Modus. Pura-pura salat terus nyulik awake dhewe!” sahut Gendhuk.

Bener juga, gumam Cempluk. Jangan-jangan bapak-bapak itu punya niat jahat. Seperti lagi viral berita-berita penculikan di televisi saat ini. Ada modus
penculikan anak untuk dijual atau diambil organ tubuhnya.

Cempluk dan Gendhuk beserta teman-teman lainnya saling jawil kemudian lari ke rumah Tom Gembus, warga yang rumahnya dekat masjid. Mereka
melaporkan kedatangan orang asing tersebut. Tom Gembus yang diceritakan soal itu justru malah senyam-senyum.

“Ealah Ndhuk, bapak-bapak kae ki Pak Tukang sing lagi ndandani omahku. Kae lagi padha ngaso lan mampir salat neng mejid. Ora usah wedi. Ha ha ha…” Gembus tertawa lepas.

Cempluk dan temantemannya kisinan. Lalu kembali lagi ke serambi masjid untuk melanjutkan latihan menari.

Rohmah Hidayati, SMA Islam
Al Azhar 7 Solo Baru, Jl. Raya
Solo Baru, Baki, Sukoharjo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top