Nona TV

Siang itu saat istirahat di sekolah, ada Rani, Neni dan Sevi. Mereka bertiga masih kelas IV SD. Mereka sedang bercakap-cakap mengenai acara di TV.

“Eh, kamu paling suka menonton apa?” tanya Neni kepada Rani.

“Aku suka menonton sinetron,” jawab Rani.

“Hah? Kecil-kecil kok menonton begituan?” seru Neni dan Sevi bersamaan.

“Suka-suka aku dong,” jawab Rani sambil senyum.

“Berarti setiap hari kamu hanya menonton sinetron?” tanya Neni kembali.

“Kalau aku nenonton semuanya lah. Segala tayangan di TV aku tonton,” jawab Rani dengan bangga.

“Apa kamu tidak capai?” tanya Sevi.

“Ya enggak lah yaw,” jawab Rani singkat.

“Kalau aku sih tontonnya berita dan pengajian,” ucap Neni.

“Iya,aku juga sama. Biar tambah wawasan kita,” Sevi ikut menjawab.

“Ooh,” ucap Rani singkat.

“Ran, kalau menonton TV jangan terlalu lama. Tak baik untuk kesehatan mata,” nasihat Neni.

“Kamu kayak dokter aja, nasihatin aku,” jutek Rani. Sambil berlalu meninggalkan Neni dan Sevi.

Neni dan Sevi pun menggelenggelengkan kepalanya.

“Rani dikasih nasihat kok malah ngambek ya?” keluh Neni.

“Ya tuh anak emang ngambekkan,” jawab Sevi.

***
“Assalamu’alaikum,” salam Rani ketika sampai di rumahnya.
“Wa’alaikumsalam. Eh, Nona TV sudah pulang?” goda Mama.
“Ih, Mama apaan sih?”.
“Salat dulu sana. Habis itu makan lalu tidur siang,” kata Mama.
“Nanti saja deh, Ma. Aku mau menonton sinetron favoritku dulu,”

Mama hanya geleng-geleng kepala, dia sudah paham akan kelakuan Rani selama ini. Rani sudah ketagihan nonton TV sejak kecil, kebiasaan itu berlanjut sampai  sekarang. Tanpa banyak tanya Mama segera melangkahkan kaki ke dapur. Sementara itu Rani mulai asyik menonton sinetron kesukaannya. Menonton TV nya pun sambil tiduran. Tak hanya itu, ia makan cemilan juga sambil tiduran. Memang Rani sudah susah untuk dinasihati siapa pun.

***
Malam minggu, tepat pukul 19.00, Neni dan Sevi mengajak Rani untuk ikut mereka ke pasar malam.
“Ah, buat menonton begituan. Mana dingin lagi,” jawab Rani.
“Betul tuh Ran kata Neni dan Sevi. Kamu ke pasar malam saja,” Mama ikut berkomentar.
“Sekali enggak mau ya enggak mau,” protes Rani sambil manyun. Nani dan Sevi saling berpandangan, mereka sangat heran dengan tingkah laku Rani.
“Ya sudah kalau begitu kami pamit ya?” kata Neni.
“Ya sudah sana kalian pergi,” usir Rani.
“Ranii, kamu enggak boleh begitu Nak,” kata Mama sambil mengusap rambut Rani. Tapi Rani malah diam saja. Lalu Rani segera berlalu menuju ke ruang tengah, ia menonton TV kembali.
“Ya udah tante, kami pamit dulu ya?” ucap Neni dan Sevi bersamaan.
“Ya, maafi n Rani ya?” kata Mama yang ikut sedih atas perlakuan Rani kepada Neni dan Sevi.
“Ya,tante. Enggak apa-apa kok,” kali ini Sevi yang menjawab. Setelah  bersalaman dengan Mamanya Rani. Neni dan Sevi segera pergi menuju pasar malam.

***
Saat menonton TV, tiba-tiba mata Rani terasa pegal, badannya pun terasa kaku. Rani bingung sekali.
“Ma! Mamaa!” teriak Rani.
“Ada apa Ran?” tanya Mama panik. Lalu Rani menjelaskan apa yang terjadi padanya. Mama pun khawatir, lalu malam itu juga Mama membawa Rani ke dokter mata terdekat. Hanya butuh 15 menit sampailah mereka. Lalu Rani segera masuk dan diperiksa dokter. Hasilnya ternyata mata Rani pegal karena keseringan menonton TV dan badan yang terasa kaku karena kurang gerak. Dokter memberi obat dan vitamin untuk Rani. Selain itu Rani harus berhenti dulu menonton TV, perbanyak aktivitas dan rajin berolahraga. Rani pun mengangguk, ia tak mau sakit gara-gara terlalu sering menonton TV.

“Ma, maafi n aku ya? Selama ini Rani tidak menuruti perintah Mama,” sesal Rani.
“Ya. Mama maafi n kamu kok,” jawab Mama sambil memeluk Rani erat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top