Salah Sangka

Hari ini adalah untuk pertama kalinya Chiko, semut kecil ikut bekerja gotong-royong. Setelah sekian lama ia hanya bisa menyaksikan pamanpaman dan saudaranya bekerja gotong-royong, kini tiba waktunya ia mulai ikut bergabung mereka. Sepotong roti harus dibawanya ke rumah mereka. Roti yang sangat besar untuk ukuran tubuh semutsemut sebenarnya. Sangat mustahil jika harus diangkut sekaligus. Namun ternyata semangat mereka sangat besar. Ditariknya roti itu  secara bersama-sama. Sebagian ada juga yang mendorongnya. Sebagian ada yangmengginggitnya dan mengangkutnya sendiri. Semua sibuk bekerja dengan cara masing-masing.

“Huuup! Zuuz…! Huuup! Zuuuz!” seru Paman Jwu dari atas sepotong roti itu. Ia berdiri di atas roti yang tengah diangkut seraya berteriak-teriak. Suaranya lantang memberi aba-aba kepada semut-semut lainnya. “Ayo tariiik! Ayo tariik! Huup! Zuuuz! Huuup! Zuuuz!” begitulah Paman Jwu terus berteriak.

Roti mulai bergerak. Makin lama makin cepat. Namun beberapa saat kemudian berhenti lagi. Rupanya mereka kelelahan. Perlu berhenti sesaat. Buat  beristirahat. Paman Jwu meminta berhenti. Sementara ratusan semut lainnya mulai datang beramai-ramai untuk membantu mengangkat roti itu. Suasana pun makin riuh bersemangat.

Paman Jwu masih bertengger di atas roti itu. Ia juga memerintahkan semut-semut untuk beristirahat sesaat. Suaranya sangat lantang. Melihat Paman Jwu yang  hanyaberdiri di atas roti, Chiko kecil jadi berpikir jelek.

“Kenapa, Paman Jwu cuma berteriak-teriak saja di atas roti?” pikir Chiko. “Enak sekali dia. Cuma berteriak-teriak saja menyuruh semut-semut lain untuk terus bekerja. Sementara dia sendiri tak mau membantu mendorong atau menariknya. Malah ia berdiri di atas roti yang sedang ditarik. Bukankah itu malah  menambah beban?” Menyaksikan hal itu Chiko kecil menjadi malas. Ia merasakan sikap Paman Jwu tidak adil. Ia tak mau bekerja. Ia hanya bisa menyuruh- nyuruh. “Ah, aku malas jadinya! Aku tak mau menuruti perintah PamanJwu. Dia maunya enak sendiri,” pikirnya.

Maka dengan tak memberitahukan kepada siapa pun dia keluar dari pasukan itu. Diam-diam ia menyelinap keluar kemudian berlari pulang. Hari ini ia terlalu  kecewa menyaksikan sikap dan perilaku Paman Jwu. “Dia bukan paman yang bisa dijadikan teladan. Malas, curang!” pikir Chiko. Dengan penuh kekecewaan  Chiko berlari cepat menuju rumahnya.

“Hai, kenapa kamu pulang Chiko?” tanya Bu Smit heran begitu tiba di rumah. “Bukankah semua semut sedang bergotong-royong mengangkut bahan makanan  untuk kita?” “Malas, Bu!” jawabnya singkat. “Kenapa kau bilang malas? Bangsa semut adalah bangsa yang rajin dan semangat, Chiko. Mereka juga paling suka  bergotong-royong,” ujar Bu Smit.

“Bagaimana Ibu bilang suka bergotong-royong kalau ada semut yang malas bergotong-royong, Ibu?” sangkal Chiko kecil masih cemberut. “Memangnya ada  semut yang malas berkerja bergotong-royong, Chiko?” tanya Bu Smit heran. “Paman Jwu!” sahut Chiko sangat kecewa.

“Paman Jwu tidak ikut di sana?” tanya Bu Smit heran. “Paman Jwu di sana, tapi tidak mau bekerja, “ ujar Chiko sangat kecewa. “Dia hanya berteriak-teriak di  atas roti. Sementara yang lain bekerja keras, dia malah naik di atas roti yang berat. Huh, keterlaluan dia!”

Mendengar tuturan Chiko, Bu Smit menjadi tersenyum sendiri. Ia tahu anaknya telah salah menyangka. Ia maklum, Chiko kecil belum banyak pengetahuan.  Chiko belum tahu jika tugas Paman Jwu memang menjadi pemimpin saat bekerja gotong-royong. Pantas kalau dia selalu berada di atas benda yang diangkutnya  sambil berteriak-teriak memberi komando dan semangat kepada semut-semut lainnya.

“Chiko, anakku! Paman Jwu memang tugasnya begitu, “ jelas Bu Smit. “Dia selalu memimpin semua pasukan saat bergotongroyong. Semut-semut lain tak akan marah dan iri melihat Paman Jwu. Sebab dengan taat perintah Paman Jwu pekerjaan akan cepat selesai dan teratur.”

“Itu tidak adil, Ibu!” bantahnya
“Setiap semut mempunyai tugas masing-masing, Chiko,” ujar Bu Smit bijak. “Termasuk Paman Jwu. Dia bertugas mengatur semut-semut lain. Kelak kau juga bisa menggantikan Paman Jwu bila sudah mampu.” Chiko diam saja. Rupanya ia menyadari telah salah sangka.

“Sudahlah, Chiko! Sekarang kamu kembalilah bergabung dengan mereka lagi untuk bekerja!” ujar Bu Smit. Chiko pun segera kembali dengan perasaan yang lega. Kini ia akan bergabung kembali dan akan menurut perintah Paman Jwu. Dalam hati ia berucap meminta maaf kepada Paman Jwu. “Maafkan, Paman Jwu,
Chiko telah salah menyangka!”
batinnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top