Sebelum subuh tiba

Tangis di kamar sebelah itu seakan tak akan pernah reda. Mendengar tangis istrinya yang sulit reda sejak kabar buruk itu tiba, Wak Haji sendiri tak bisa  menahan sabak di dadanya. Meski sebisa mungkin dia tak ingin turut tenggelam dalam kesedihan yang berlarutlarut. Namun, usahanya selalu gagal. Bayangan wajah Badil, putra sulungnya itu bermain di kelopak matanya saban waktu.

“Sudahlah, Halima. Hentikan tangismu itu,” ujar Wak Haji ketika malam telah larut, namun tangis istrinya tak juga kunjung reda.
“Mana bisa aku meredakan tangisku ini, Bang. Jika di tempat yang jauh di sana, anakku sedang dirundung kemalangan,” jawab Halima di sela tangisnya.

Wak Haji terdiam. Hatinya kecut. Benar kata Halima, bagaimana bisa seorang ibu tak menangis jika anaknya sedang dirundung kemalangan. Mata yang tua itu
seketika menerawang. Di kepalanya berjejalan pertanyaan-pertanyaan tentang nasib yang sedang menimpa dirinya. “Bagaimana mungkin Gusti Allah demikian kejam terhadapku?” pikirnya satu kali saat kepalanya seakan terlalu penuh dengan masalah-masalah yang selalu datang silih berganti. Wak Haji bukannya tak tahu jika pertanyaan semacam itu melahirkan dosa besar untuknya. Tetapi serangkaian masalah yang kerap membuatnya merasa lelah memang mudah menggiringnya melahirkan pikiran-pikiran celaka seperti itu. Seperti malam ini. Tatkala tangis dan rintihan dari istrinya tak juga mereda, pikiran semacam itu melintas di kepala Wak Haji.

Meski setelahnya, bibirnya yang sedari tadi mengatup lantaran luka batin yang tak terperi, seketika mengucapkan istighfar berkali-kali. Masalah yang  menghantam keluarganya seakan memang tak pernah reda. Tiga tahun yang lalu, putra bungsunya yang bernama Mustafa harus meregang nyawa lantaran  tenggelam ketika berenang di sungai dengan kawan-kawannya. Tak bisa digambarkan betapa hancurnya hati Wak Haji saat itu. Putra bungsunya yang selalu ramah dan ceria itu harus pergi begitu awal. Tak cukup lantaran kehilangan Mustafa dengan cara yang menyedihkan, berita yang berkembang tentang kematian  putra keduanya itu pun menerbitkan luka yang sulit sembuh di hati Wak Haji.

Orang-orang begitu gemar membicarakan kematian yang dianggap tak wajar itu. Seolaholah kematian anak muda yang masih belasan tahun umurnya itu tak  ubahnya buah bibir yang menarik untuk dijadikan bahan omongan. Beberapa kali Wak Haji memergoki tetangganya yang sedang membicarakan kematian Mustafa yang tenggelam. Hati yang belum sembuh itu, seketika terluka lagi. Entah sudah berapa kali Wak Haji menangis saat itu. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ketika kematian Mustafa dikaitkan dengan majunya usaha mebel milik Wak Haji. Bahwa kematian Mustafa adalah penebusan untuk kesuksesan usaha  ayahnya. Remuk redam hati Wak Haji tatkala mendengar isu busuk itu. Bibirnya sampai tak bisa berkata-kata.

“Aku rela menjadi orang paling miskin asalkan anakku selamat dan sehat sampai detik ini. Mana mungkin aku menyilih bungsu kesayanganku hanya demi  harta,” ucap Wak Haji dengan kesedihan yang luar biasa menyiksa.
“Entah terbuat dari apa hati orang-orang itu, Wak. Kejam sekali mereka menuduh uwak dengan isu busuk seperti itu,” sahut Husein dengan geram. Sebagai kemenakan Wak Haji, tentu Husein paham betul tentang uwak-nya. Tak mungkin hanya demi harta semata, uwak-nya itu rela mengorbankan anaknya. Penyebar isu busuk itu memang keterlaluan. Tapi kemudian, Wak Haji meminta Husein diam saja. Kabar yang tak benar akan hilang dengan sendirinya, semoga  usti Allah membukakan hati mereka, begitulah yang diucapkan Wak Haji kepada Husein saat itu. Kemarahan Husein memang tak bisa sepenuhnya lenyap,  amun  demi memenuhi permintaan uwaknya, sebisa mungkin Husein purapura tuli dari omong kosong yang diembuskan beberapa tetangga desanya.

***
Wak Haji tak menyangka jika setelah kematian Mustafa, cobaan berat akan menghantamnya lagi. Kali ini menimpa putra sulungnya, Badil. Tiga hari yang lalu, Wak Haji baru tidur siang selepas Salat Zuhur ketika beberapa orang bertandang ke rumahnya. Sisa kantuk yang tersisa di matanya seketika lenyap saat  endengar kabar yang dibawa tamunya siang itu. Wajah Wak Haji pias, tak lama kedua matanya berkunangkunang. Pening seketika menyergap kepalanya.

“Tidak mungkin Badil seperti itu,” rintihnya sembari memejamkan mata untuk bertahan agar tidak pingsan.
“Pada kenyataannya, Badil berada di TKP ketika terjadi penggerebekan pesta narkoba itu, Pak.”

Mendengar ucapan petugas kepolisian itu, kepala Wak Haji bertambah pening. Lebih pening lagi ketika tak lama sesudah itu Halima, istrinya itu menangis meraung-raung. Tetangga-tetangga mulai berdatangan. Sampai di kantor polisi, bibir Wak Haji tak putus-putus mengucapkan istighfar. Dia tak habis pikir,  bagaimana mungkin Badil bisa turut dicidukpolisi lantaran berada di tempat indekos teman kuliahnya yang sedang pesta narkoba.
“Badil tidak ikut-ikutan, Pak. Badil hanya mengembalikan buku yang Badil pinjam ke kawan itu. Ternyata dia sedang pakai obatobatan dengan kawan-kawan lain.

Badil tidak bersalah, Pak!” Wak Haji menatap putra sulungnya dengan air mata berlinang. Sejak kecil dia menanamkan agama yang baik kepada Badil.  Kepercayaannya kepada putra sulungnya ini sangat besar, mana mungkin Badil tegamengkhianati kepercayaan ayahnya. “Apa benar kau tak ikut-ikutan memakai obat laknat itu, Nak?” tanya Wak Haji setelah dia bisa meredam kegugupannya. “Demi Allah, Pak. Badil tak pernah menyentuh benda laknat itu.  Tolong Badil, Pak,” Badil merintih perlahan. Wak Haji menggigit bibirnya. Dia tahu benar bagaimana perasaan Badil saat ini. Pasti dia sangat ketakutan. Saat itu juga dia berusaha melepaskan Badil, tapi gagal.

“Badil akan dilepas jika sudah terbukti tidak bersalah,” jawab salah satu petugas dengan tegas tatkala Wak Haji meminta putranya dibebaskan.

Hari itu Wak Haji pulang dengan tangan hampa. Badil harus melakukan serangkaian pemeriksaan untuk membuktikan dirinya tak bersalah. Di rumah, tangis  Halima tak pernah reda. Istrinya itu benar-benar berduka dengan musibah yang menimpa putra sulungnya. Wak Haji sendiri kehilangan sebagian besar  semangatnya. Di musala miliknya, Wak Haji kerap berdiam diri. Untuk mengumandangkan azan, Wak Haji meminta Husein yang melakukannya.

Setiap kali bertemu dengan orang, Wak Haji merasa tatapan orang-orang itu menghunjam ulu hatinya. Mungkin, orang-orang itu sedang berpikir tentang hal buruk yang sedang menimpa Badil. Mengingat Badil yang mungkin sedang ketakutan di kantor polisi, air mata Wak Haji merebak.

“Ajak Badil, Pak. Badil takut di sini,” Perkataan Badil itu selalu terngiang-ngiang di telinganya.
“Bapak akan membawamu pulang, Nak. Secepatnya,” sahut Wak Haji mantap.Tapi nyatanya, dia gagal membawa Badil pulang. Wak Haji mengusap wajahnya. Suara Husein yang mengumandangkan azan magrib berkumandang dari pelantang suara. Jemaah yang kerap salat di musala miliknya mulai berdatangan. Tapi  ak seperti biasanya, kali ini Wak Haji enggan sembahyang di musala. Dia beringsut bangun dari duduknya. Dari balik jendela, dilihatnya Husein yang telah  elesai mengumandangkan azan. Dari tempatnya berdiri, terlihat jelas Husein tampak sedikit kebingungan. Mungkin, dia sedang menunggu uwak-nya menjadi imam salat. Benar saja, tak lama kemudian pemuda bertubuh tegap itu berlarilari kecil menuju rumah Wak Haji. “Kau saja yang menjadi imam Salat Magrib ini, Husein. Uwak sembahyang di rumah saja,” ujar Wak Haji sebelum Husein sampai di dekatnya.

Mendengar ucapan uwak-nya, Husein sedikit terperangah. Tapi kemudian dia tahu apa sebabnya uwak-nya enggan salat berjemaah kali ini. Dengan cepat  Husein kembali ke musala tanpa mengucapkan sepata kata pun.

“Sembahyang dulu, Halima. Waktu Salat Magrib sudah naik,” ucap Wak Haji di depan pintu kamarnya.

Selepas mendengar jawaban istrinya, Wak Haji berlalu ke padasan yang terletak di belakang rumahnya untuk mengambil wudu. Halima, diam-diam sudah berada di belakangnya. Keduanya memilih Salat Magrib di bilik kecil samping kamar tidur. Setelah beberapa lama, baru kali inilah mereka berdua salat berdua  lagidi bilik sederhana itu. Selepas Wak Haji membangun musala di depan rumahnya, sembahyang lima waktu dan sunah seringnya memang dilaksanakan di  musala. “Kira-kira kapan Badil pulang, Pak?” tanya Halima sendu selepas mereka turun Salat Magrib.

“Sebelum subuh nanti dia pulang, Bu. Sebelum subuh dia sudah tiba di rumah,” bisik Wak Haji perlahan.

Wak Haji tak tahu, mengapa dia mengatakan hal itu. Entah, Wak Haji hanya merasa, jika sebelum subuh nanti, Badil akan pulang. Dia akan kembali ke rumah  untuk bertemu dengannya. Bertemu dengan Halima yang begitu mengkhawatirkannya.

***
Wak Haji tergeragap. Dia tidak tahu sejak kapan tertidur di ruang tengah. Dengan pandangan yang masih sedikit berkabut, Wak Haji melihat ke arah jam dinding. Subuh sebentar lagitiba. Namun tanda-tanda Badil pulang belum terlihat. Wak Haji memejamkan mata, bukan untuk mengusir kantuk, melainkan  ntuk meredam perasaannya. Kokokayam tetangga terdengar. Telinga Wak Haji menangkap langkah seseorang. Ah, itu pasti Husein yang akan mengumandangkan azan subuh. Tapi ketika ketukan di pintu terdengar, Wak Haji bergegas membukakan pintu. Melihat yang berdiri di depan pintu,Wak Haji tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Badil berdiri di hadapannya.

“Badil pulang, Pak. Badil bebas lantaran memang tak bersalah.” Mendengar ucapan Badil, Wak Haji hanya mengangguk-angguk. Dia menyuruh Badil masuk  untuk menemui ibunya. Subuh baru akan naik pagi itu. Dan dia tahu, Gusti Allah telah menjawab doadoanya yang tak pernah putus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top