Tunggu-Tunggunan

Sore itu saat Jon Koplo hendak ke toserba beli susu formula untuk anaknya, Tom Gembus. Sang ibu, Lady Cempluk, ingin ikut sekalian membeli kebutuhan sehari-hari.

Sampai di toko, “Ibu saja yang masuk, Le. Kamu belikan lele bakar saja buat lauk nanti malam,” kata Cempluk.

“Ya sudah Bu, titip susunya Tom Gembus ya Bu, ini uangnya,” ujar Koplo sambil menyebutkan merek susu yang biasa dibeli.

“Wis, itu buat beli lauk saja, beli susunya pakai uang Ibu ini dulu,” kata Cempluk.

Setelah selesai berbelanja, Cempluk pun menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan. Sembari menunggu kembalian, Cempluk melihat-lihat es krim.

Bukannya segera mendapatkan kembalian, penjaga toko justru melayani pembeli di belakangnya yang membayar dan mengantre setelah dirinya. Tak mau marah, ia pun masih menunggu kembalian dari penjaga toko, sebab toserba ini tidak menggunakan mesin kasir melainkan hitungan dan nota
manual.

Namun, setelah menunggu, ternyata penjaga toko malah memberikan kembalian kepada pembeli setelahnya. Hingga akhirnya ia pun menegur penjaga toko tersebut. “Mbak, saya ini nunggu dari tadi lo,” kata Cempluk.

“Lo, saya juga nunggu Ibu dari tadi,” balas penjaga toko.

“Weh, piye ta iki. Saya kan sudah bayar Rp200.000, itu uangnya Mbak pegang,” protes Cempluk.

“Mmm, saya nunggu kurangannya, Bu. Maaf, ini belanjaannya habis Rp270.000,” jawab penjaga toko.

Lady Cempluk pun melongo sambil melihat nota yang telah dibuat, ternyata susu formula untuk cucunya yang dikira hanya seharga lima puluh ribuan ternyata seratus ribu lebih. “Ini kan susu kardus kecil Mbak, kok harganya mahal banget ta?” protes Cempluk mengira penjaga toko yang
salah.

“Iya Ibu, tapi ini susu alergi jadi harganya lebih mahal,” jawab penjaga toko dengan sabar.

Cempluk pun menganggukangguk mengerti, setelah sampai di luar toko ia pun ditanya oleh Jon Koplo, “Kok lama sekali ta, Bu?”

“Lha wong malah tunggutunggunan je Plo, tiwas tak tunggu jujule, tibake mbak-e nunggu kurangane,” gerutu Cempluk sambil menertawakan dirinya sendiri.

“Lha aku nunggu metune…” kata Koplo sambil tertawa.

D. Ade Kurniawan
<ade.fi reopal@yahoo.com>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top