Tas 0bral

Malam itu Lady Cempluk mengajak anaknya, Tom Gembus, ke toko se patu. Cempluk dan Gembus meli hat- lihat sepatu yang dipajang.  Cempluk meme gang sepatu hitam putih model warrior. “Gem bus, kamu mau sepatu model begini tidak?”

“Mau, Buk. Sepatunya sama dengan punya kakak.”

Cempluk minta ukuran 35 pada Gendhuk Nicole, seorang karyawati toko. Setelah mendapatkan ukuran yang dimaksud, Cempluk menyuruh Gembus untuk mencoba sepatu.

Ternyata ukuran sepatunya pas di kaki. Setelah Cempluk meyakinkan dan Gembus mantap, kemudian ia membayar ke kasir.

Cempluk menyerahkan uangnya. Sambil menunggu Gendhuk menukar uang untuk kembalian ke toko sebelah, Cempluk melihat-lihat sepatu.
Pandangannya beralih ke kardus besar berisi beberapa tas. Cempluk mengambil tas kecil bertali panjang.

“Wah, ada tas diobral nih,” batin Cempluk. Cempluk membuka tas kecil itu. “Wow, tas kecil model zaman now, ada dompetnya pula. Tapi, kok ada lipstik dan potongan cermin?”

Gendhuk datang memberikan kembalian. Sambil tersenyum, Gendhuk bilang, ”Maaf, Bu. Tas ini tidak dijual. Ini milik karyawati sini.”

Badalah, ternyata tas yang dipegang dan telanjur dibuka bukan tas diobral. Cempluk rada kisinan. “Walah, tas karyawati kok tidak ditaruh di dalam,” batinnya.

Beberapa karyawati dan pembeli pandangannya tertuju pada Cempluk. Ternyata Gembus juga malu, lalu mengajak ibunya keluar toko.

Noer Ima Kaltsum
<noerimakaltsum@gmail.com>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top