Sarang Burung

Sepulang sekolah, Gendhuk Nicole berteriak-teriak kepada Lady Cempluk, sang ibu yang tengah beristirahat siang. Ia yang baru duduk di kelas I SD pun meminta sesuatu kepada ibunya.

“Bu, besok aku dibuatkan sarang burung ya?” “Sarang burung? Buat apa ta Ndhuk?

“Temen-temenku tadi banyak yang bawa lo Bu, Gendhuk seneng, pengin juga seperti teman-teman.”

“Iya, nanti Ibu carikan ya?” jawab Cempluk. Mendengar itu, Gendhuk Nicole senang bukan main.

Cempluk pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya yang kerap meminta hal yang aneh kepadanya. Yah, namanya anakanak, begitu batin Cempluk.

Kebetulan di depan rumah Cempluk ada pohon mangga yang tidak terlalu tinggi dan kebetulan lagi disana ada sarangburung lengkap dengan telurnya.

“Maaf ya burung, tak ambil. Daripada anakku nangis kalau nggak dituruti,” batin Cempluk.

Keesokan harinya sebelum berangkat sekolah, Gendhuk dengan semangat membuka kotak makanan yang disiapkan oleh ibunya. “Lho Bu,mana sarang burungnya?” tanya Gendhuk.

“Ini…” kata Cempluk sambil menyerahkan sarang burung yang telah diambilnya kemarin sore.

“Hah? Ibu ini gimana ta? Sarang burung mau tak bawa buat bekal makan kok malah dikasih sarang burung beneran?” protes Gendhuk Nicole.

“Weh, lha maksud Gendhuk sarang burung apa?”

“Itu lo Bu, sarang burung makanan. Tahu sama telur puyuh, kayak yang di TV itu,” jawab Gendhuk.

“Ealaaah, ada ta makanan seperti itu?” tanya Cempluk.

Gendhuk Nicole mendengus kesal, ia yang tadinya semangat jadi loyo untuk sekolah meskipun Cempluk telah menjanjikan untuk membuatkannya esok hari.

“Duh, Ibu ki, makanya kalau lihat TV jangan sinetron, lihat yang masak-masak itu lo,” gerutu Gendhuk Nicole sambil cemberut.

Nyunik Suryani
<nyunik_suryani@yahoo.co.id>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top