Tiwas Nraktir

Lady Cempluk dan Gendhuk Nicole adalah sahabat karib waktu SMA. Kini setelah 4 tahun berpisah, mereka tak sengaja bertemu saat makan mi ayam di sebuah warung. Mereka berdua langsung ngobrol ngalor-ngidul sampai akhirnya pesanan Lady Cempluk sudah datang sementara Nicole yang sudah selesai makan pamit hendak langsung pulang.

“Yah, jane masih pengin ngobrol, Nic.” .

“Iya, kapan-kapan aja kita ketemu lagi, ini di rumah ada tamu, sudah ditunggu.”

“Oh begitu, ya sudah, nggak papa. Mmm Mas, punya mbak Nicole ini biar saya yang bayar,” kata Cempluk kepada penjual.

“Eh, nggak usah repot-repot, Pluk. Nggak papa, aku bayar sendiri saja.”

“Udah, nggak papa,” sahut Cempluk.

Nicole pun sudah ngotot untuk tidak menerima traktiran Cempluk, tapi Cempluk sama bersikerasnya untuk membayari makanan Nicole hingga akhirnya Nicole pun dengan sedikit pekewuh mengangguk lalu berterima kasih pada Cempluk. Cempuk pun mengiyakan lalu
melanjutkan menikmati mi ayam bersama sang anak. Namun saat membayar, Cempluk dibuat kaget dengan total makanan yang harus dibayar olehnya.

“Totalnya Rp99.000, Mbak.” kata Jon Koplo si penjual mie ayam.

“Hah? Kok sampai hampir Rp100.000 ribu, Mas?” tanya Cempluk tidak percaya.

“Iya Mbak, mi ayam per porsinya kan Rp10.000. Es teh Rp3.000. Yang dimakan di sini 3 porsi mi ayam dan 3 es teh jadi Rp39.000 sama yang dibungkus Mbak Nicole tadi 6 bungkus Rp60.000,” jelas Koplo.

Cempluk pun menghela nafas panjang, pantas saja tadi Gendhuk menolak keras untuk dibayari. Namun ia tidak mungkin membatalkan apa
yang sudah dikatakan, ia pun membayar dengan uang seratus ribuan, satu-satunya uang yang tersisa di dompetnya.

Rohmah Jimi S.
<penuliskecil@rocketmail.com>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top