Orang Sakti

Suatu hari Lady Cempluk kedatangan tamu istimewa yang tak lain adalah pamannya, Tom Gembus. Karena baru pertama kali bertandang ke  rumah Cempluk, Gembus minta dijemput biar tidak kesasar.

Tom Gembus terkenal sebagai ”orang pintar”. Ia sering dimintai amalan buat penglaris dagangan. Konon, ia juga bisa berkomunikasi dengan  makhluk gaib.

Sesuai janji, Lady Cempluk menjemput pamannya di perempatan tidak jauh dari rumahnya. ”Mangga, Paklik, silakan naik!” kata Cempluk seusai bersalaman dan basa basi. Tanpa banyak bicara, Cempluk langsung memacu motornya.

Dalam hati Cempluk heran, sepeda motornya tidak terasa berat, padahal badan Tom Gembus lumayan gemuk. Cempluk terkagum-kagum pada Gembus yang menggunakan ilmu meringankan tubuh supaya dirinya tidak keberatan saat memboncengkannya.

Supaya tidak kaku, Cempluk mengajak Gembus mengobrol. ”Jam berapa dari rumah, Paklik?”

Tidak ada jawaban. Cempluk berpikir mungkin pamannya terlalu capai sehingga ia diam saja.

Tak berapa lama, ”Nah, ini rumah saya, Lik… ” kata Cempluk sambil menghentikan motornya.

Namun, betapa terkejutnya Cempluk begitu mendapati Tom Gembus ternyata tidak ada di boncengan. Cempluk berpikir jangan-jangan pamannya sudah duluan sampai ke rumah pakai ilmu ngilang. Orang sakti, gitu loh!

Untuk memastikan, Cempluk bertanya pada tetangganya, Jon Koplo, yang sedang mencuci motor di depan rumah.

”Pak, sampean lihat ada orang masuk rumah saya nggak? Itu, Paklik saya.”

Koplo menggeleng. Sejak tadi ia di situ, tapi tidak melihat ada siapa pun di depan rumah Cempluk.

”Barusan saya bonceng, tapi kok, nggak ada? Paling dia sudah sampai duluan,” Cempluk bersikukuh.

”Mungkin paklik sampean belum naik, sampean sudah jalan,” ujar Koplo.

”Enggak mungkin. Paklik saya itu sakti, bisa ngilang, tahu-tahu nyampai.”

Di tengah kebingungan, tibatiba dari ujung jalan muncul Tom Gembus dengan wajah bersungut-sungut. ”Wong aku belum naik, kok, kowe  sudah ngeloyor duluan!” gerutunya

Jon Koplo melengos sambil menahan ketawa. ”Orang sakti dari Hongkong?” gumamnya. Cempluk garuk-garuk kepala dengan wajah memerah merasa bersalah pada pakliknya.

Mabruroh Qosim,
Perum The Arsy Kavling
20 Jl. Sekarsari, Tlogowaru,
Kedungkandang, Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top