Penyebar Hoaks

Tidak tahu tapi sok tahu, itulah yang cocok untuk Lady Cempluk, pengajar di SD Jatisrono, Wonogiri. Betapa tidak. Ia berhasil membuat teman-teman di grup Whatsappnya heboh sendiri.

Ketika jam istirahat, ada salah satu rekan SMP-nya yang mengabarkan bahwa salah satu guru favoritnya sebut saja Jon Koplo tengah mengalami kecelakaan.

Kondisi terakhir yang didapat adalah bahwa Pak Jon patah tulang.

Cempluk yang tengah beristirahat pun segera mengomentari yang pertama kali. “Allahumaghfirlahu buat Pak Jon, guru favoritku,” begitu bunyi pesannya di grup.

Setelah mengirim pesan itu, Cempluk pun langsung menggunakan waktu istirahatnya untuk Salat Zuhur dan makan siang. Tanpa memegang HP, Cempluk
langsung kembali bekerja.

Singkat cerita, saat hendak pulang, ia dihampiri oleh Gendhuk Nicole, rekan SMPnya yang sekarang bekerja di tempat yang sama dengan Cempluk.

“Heh, Pluk, ngawur banget kamu ki. Coba buka HP-mu!”

Cempluk pun melihat ke HP-nya dan mendapati HP-nya penuh dengan chat WA dan telepon masuk.

“Alhamdulillah, Bapak baik-baik saja. Berita Bapak meninggal itu hoaks ya,” bunyi WA Jon Koplo yang membuat Cempluk terbelalak.

Banyak yang kemudian mengata-ngatainya di grup sebagai penyebar hoaks atau berita palsu. Cempluk pun masih belum mengerti dan mencoba membaca ulang yang ada di grup.

“Lo, siapa yang nyebar hoaks? Aku ya paham kalau Pak Jon itu masih hidup.”

“Lha kok kamu nulis-nya allahummaghfirlahu?”

“Weh, kan kalau ucapan buat orang sakit gitu?”

Nicole mencubit Cempluk saking gemasnya. “Syafakallah Pluk, syafakallah. Kalau allahummaghfirlahu itu doa buat orang mati.”

Cempluk meringis, ia pun segera meminta maaf di grup dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Woalah Pluk, Pluk. Kamu itu tidak berubah, dari SMP masih saja sok tahu,” komentar rekannya di grup WA.

D. Ade Kurniawan
<ade.fi reopal@yahoo.com>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top