Mana Jatahku?

Sudah sepekan Jon Koplo opname di sebuah rumah sakit swasta di Kota Solo karena komplikasi diabetes dan hipertensi yang sudah lama dideritanya. Sebenarnya sudah melalui masa kritis, tinggal pemulihan saja. Namun, ia belum diperbolehkan pulang oleh dokter walau tiap hari  sambat mau pulang karena merasa sudah baikan.

Yang bikin tidak betah tentu saja karena ia tidak bisa bebas bertemu teman-temannya di rumah maupun di kantor. Tapi yang membuat ia kerasan  yaitu mendapat jatah makan yang lumayan enak.

Sang istri, Lady Cempluk, yang menungguinya dengan tabah selalu menasihatinya untuk bersabar. ”Sudahlah, tunggu saja,paling sebentar lagi   pulang.”

Sebentar kemudianterdengarlah suara gledhegan (kereta) dari luar menuju bangsalnya. “Wah ini dia, kereta makan yang ku tunggu-tunggu,” gumannya.

Ketika suara gledhegan tersebut berhenti di depan pintu kamarnya namun susternya tidak segera masuk, Koplo jaditidak sabar.

“Sus, suster, mana jatah saya? Sudah keroncongan ini,” pinta Jon Koplo.

“Jatah apa, Pak? Ini kereta mayat, Bapak mau ya?” tanya suster.

“Waduh, jangan Mbak… Jangan, kalau kereta itu aku nggak mau, bukan jatah saya, saya nggak mau mati cepat…” kata Koplo.

Kontan saja Lady Cempluk tertawa ngakak melihat tingkat suaminya, “Dasar orang nggak sabaran, kereta mayat kok mau dimintai jatah makan…”

Tri Rakanti Budiningrum,
RT 003/RW 003, Ngemplak, Boyolali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top