Nabrak Kucing

Lady Cempluk, mahasiswa universitas markotop di Purwokerto ini merupakan mahasiswa yang cerdas dan energik, sehingga ketua jurusan program studi Biologi menunjuknya sebagai asisten dosen.

Tapi apes bagi Cempluk, ketika pulang dari kampus mengendarai sepeda motor tanpa sengaja tibatiba saja terdengar suara, “Braaak! Meong…  meong…”

Seketika itu Cempluk langsung menghentikan motornya dan memarkirnya di pinggir jalan. “Inna lillahi wa inna illahi raji’un…” ucap Cempluk dengan bibir gemetar. Tubuhnya lemas melihat anak kucing mati terlindas sepeda motornya.

Situasi itu justru dimanfaatkan Jon Koplo, seorang tukang parkir yang kebetulan melihat kejadian tersebut.

“Mbak, sampean harus tanggung jawab,” ucap Koplo menakut-nakuti Cempluk.

“Terus, inyong harus gimana, Mas,” jawab Cempluk ketakutan.

“Gini, lho Mbak. Kalau ada orang nabrak kucing. Nanti nasibnya akan sial. Bisa-bisa tidurnya akan diprimpeni (dihantui). Jadi, mbaknya harus mengubur kucing ini seperti orang meninggal. Kalau tidak dikubur segera bisa-bisa mbaknya nanti bisa mengalami kecelakaan,” ucap Koplo yang
semakin menambah perasaan Cempluk semakin stres dan tegang.

“Ya, sudah ini saya kasih uang Rp200.000. Tolong kucing ini di kuburkan ya, Mas,” pinta Cempluk sambil membuka dompetnya lalu menyodorkan
uang Rp200.000.

“Wah, kurang Mbak. Kucing ini dikubur harus dibelikan peti kecil, kain mori dan bunga setaman,” ucap Koplo mengelabui Cemplukyang semakin  tegang.

Akhirnya, Cempluk menambahkan lagi Rp100.000 pada Koplo.

Ketika Cempluk sudah pergi dari hadapannya, Koplo cengarcengir sendiri. “Diapusi tukang parkir saja mau. Jan-jane sing bodho kuwi sapa, ya?” gumam Koplo yang berhasil ngadhali asisten dosen.

Wintah Firdausi
syuga_2006@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top