Impian Bocah

Cita-cita kamu apa, Dan?” Danu tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Marsya. Ia belum menemukan solusi atas tugas yang diberikan Bu Nani, guru Bahasa Indonesia. Bu Nani mewajibkan setiap murid membuat gambar bertema ”Harapan dan Doa”. Kali ini Bu Nani ingin mengajarkan bahwa setiap murid harus selalu berdoa kepada Tuhan supaya keinginannya dikabulkan.

”Memangnya kamu sudah punya cita-cita?” Danu kembali bertanya pada Marsya.

”Kamu gimana sih, semua orang itu punya cita-cita. Aku ingin mengunjungi gereja-gereja kuno di seluruh dunia. Kemudian mengambil foto di sana supaya kelak aku bisa menceritakan kepada anak-cucuku tentang pengalamanku,” kata Marsya menjelaskan cita-citanya dengan antusias.

Danu hanya mengangguk-angguk setelah mendengar penjelasan Marsya. Dari kejauhan, tampak Saras dan Norman berjalan mendekat.

”Kalian dari mana?” tanya Marsya kepada kedua temannya yang baru datang.

”Ini baru beli buku gambar,” jawab Saras.

”Sya, pensil warnaku ketinggalan. Aku pinjam punya kamu ya,” ucap Norman sambil nyengir.

”Iya. Pakai aja,” jawab Marsya. Marsya mengeluarkan peralatan. Sedikit lagi gambarnya akan selesai. Saras dan Norman juga mengeluarkan peralatan menggambar mereka. Tapi, Danu masih tetap diam murung.

“Kamu mau menggambar apa, Ras?” tanya Danu.

“Aku mau jadi pengusaha dupa. Jadi nanti orang-orang yang mau ibadah, beli dupanya di tempatku. Aku akan kasih kupon setiap kali pembelian. Kalau sudah terkumpul sepuluh kupon, aku beri satu bungkus dupa gratis,” ujar Saras seraya nyengir di kalimat terakhirnya.

Marsya dan Norman ikut nyengir saat mendengar rencana diskon yang akan diberikan oleh Saras dalam usaha dupanya.

”Kamu enggak menggambar, Dan?” tanya Saras saat mengetahui Danu tidak ikut mengeluarkan peralatannya.

”Aku enggak tahu mau menggambar apa,” jawab Danu lemah.

”Masak kamu enggak punya citacitasih?” tanya Norman heran.

”Kamu menggambar apa, Man?” tanya Marsya.

”Kemarin aku ke masjid di dekat rumahku. Aku menggambar masjid itu, sama persis.”

Tangannya menunjuk bagian kosong di sebelah gambar masjid, ”Di sebelah masjid ini akan aku kasih gambar  sekolah. Aku akan membangun sekolah
dan menjadi guru. Jadi kalau nanti selesai mengajar aku bisa salat di masjid sekolah,” jelas Norman panjang lebar.

”Di sekolahmu nanti harus ada gerejanya, Man. Jadi kalau anakku sekolah di situ juga bisa sembahyang di gereja,” bujuk Marsya.

Norman nyengir, ”Ya kalau begitu, kamu bikin sekolah sendiri saja nanti. Biar anakmu bisa sekolah di situ. Masak nanti aku bangun gereja di sekolahku?”

”Memangnya kenapa kalau kamu bangun gereja?” tanya Danu seketika. Semua memandang ke arah Danu.

Norman berdecak, ”Kamu ini gimana sih Dan? Kok masih nanya? Kamu sering bolos ngaji sih, jadi enggak tahu kan waktu Pak Ustaz jelasin soal aturanaturan
agama kita.”

”Ah apaan sih, Man? Kamu itu bilang kayak gitu tapi masih pake pensil warnaku. Sini balikin pensil warnanya!” kata Marsya dan nada meninggi.

”Sudah, sudah. Jangan bertengkar. Kalian itu berisik. Selesein dulu tugasnya,” ucap Saras jengkel.

Danu semakin tidak tahu apa sebenarnya cita-citanya. Apa semua orang harus punya cita-cita? Bagaimana dengan gelandangan, pengemis, pengamen, apa mereka tidak punya cita-cita?

”Mending jadi orang gila. Enggak  erlu mikir macam-macam. Nama sendiri aja enggak dipikirin, apalagi cita-cita,” gerutu Danu pelan.

”Memangnya kamu mau jadi orang gila, Dan?” tanya Marsya penasaran.

”Tapi enak juga ya hidup orang gila itu. Enggak mikir berat-berat. Apa pun bisa jadi bahan buat ketawa,” celetuk Saras.

Danu mengernyitkan dahi. Ia berpikir kalau hidup sesederhana itu, mengapa semua orang tidak memilih untuk jadi orang gila saja. Mungkin nanti bapaknya juga akan memilih untuk gila, biar tiap kali teringat tumpukan utang, tidak lagi murung tapi tertawa terpingkal-pingkal. Membayangkan hal ini membuat Danu geli dan senyumsenyum sendiri.

Norman yang sejak tadi memerhatikan Danu menepuk bahunya, ”Kamu yakin mau jadi orang gila?” Tanya Norman.

Norman menahan tawanya. Marsya dan Saras juga ikut tertawa.

***
“Bapak punya cita-cita?” tanya Danu saat duduk di teras bersama bapaknya.

Bapaknya malah tertawa, “Hla menurutmu?”

“Hla kok malah ganti tanya, ta?” “Hla iya, menurutmu bapak ini punya

cita-cita apa tidak?” Bapaknya bertanya dengan yakin.

Danu mengangkat bahu. “Cita-citamu sendiri apa, ta?” Bapaknya ganti bertanya.

“Tidak tahu, pak. Teman-teman punya cita-cita semua. Cuma aku yang tidak tahu mau jadi apa.” Danu bercerita dengan nada prihatin kepada dirinya sendiri.

Bapaknya menyeruput kopi yang mulai dingin sebelum menjelaskan kepada Danu, “Dan, semua orang itu punya cita-cita. Masalahnya, ada orang yang tidak sadar kalau ternyata dia punya cita-cita.”

Danu mengernyitkan dahi sebagai tanda kebingungan atas kalimat yang baru saja dilontarkan oleh bapaknya.

Bapaknya paham kalau Danu bingung. Maka ia mencoba mengurai maksudnya, “Kamu tahu kan Pak Narto tukang sol sepatu, Pak Pur tukang gali kubur,
Mbok Jum si penjual jamu langganan ibumu. Pekerjaan yang mereka jalani memang pekerjaan kecil, tapi bukan berarti mereka tidak punya cita-cita.
Cita-cita itu boleh tinggi, tapi bukan berarti ketika kita hanya menjadi orang biasa yang tidak bercita-cita tinggi kemudian dianggap tidak memiliki cita-cita.”

“Jadi cita-cita yang tidak tinggi itu gimana, pak?” Danu semakin bingung.

“Pak Narto, Pak Pur, dan Mbok Jum itu cita-citanya cuma sederhana. Melakukan sesuatu yang berguna buat orang yang membutuhkan jasanya, terus dapat uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi barangkali mereka tidak sadar kalau itu ternyata cita-cita. Bagi mereka cita-cita itu bukan dipandang karena profesinya, tapi bagaimana mereka bisa berguna bagi keluarga dan orang di sekitarnya.” Bapaknya kembali menyeruput kopi yang sudah dingin.

Danu mencoba meresapi kalimatkalimat dari bapaknya, “Jadi cita-cita bapak apa?”

“Cita-cita bapak cuma satu. Kamu dan ibumu bisa makan dengan cukup setiap hari.”

“Itu termasuk cita-cita ya, pak?” tanya Danu polos.

Bapaknya tertawa terpingkal-pingkal.

***
Bu Nani meminta setiap murid bergiliran maju ke depan dan menceritakan gambar yang sudah dibuat. Norman, Marsya, dan Saras menceritakan cita-cita  mereka seperti yang pernah diceritakan saat berkumpul berempat. Sekarang tiba giliran Danu untuk bercerita.

Danu berjalan ke depan dengan yakin. Kalimat-kalimat bapaknya semalam terngiang jelas sampai saat ini. Perlahan ia membuka gulungan kertas gambar di tangannya. Kemudian memperlihatkan hasil gambarnya kepada guru dan teman-temannya, “Saya ingin membangun sebuah rumah ibadah seperti ini. Rumah ibadah yang polosan, tidak ada tanda-tanda agamanya. Jadi nanti kalau sudah besar, saya, Norman, Marsya, dan Saras tetap bisa berkumpul, bermain, dan beribadah di tempat yang sama.”

Semua orang di dalam kelas mengernyitkan dahi. Dan Bu Nani menghela napas dalam-dalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top