Kantong Plastik Ajaib

Siang itu, saat sedang istirahat, Asti dan Rindi dimintai tolong oleh Bu Linda untuk membantu membersihkan sekaligus menata buku di perpustakaan sekolah. Mereka dengan senang hati menyanggupi permintaan gurunya. Sesaat kemudian perpustakaan menjadi lebih bersih dan buku-buku yang ada di sana tertata lebih rapi.

“Bu, kenapa kantong plastiknya ibu buang?” tanya Asti. “Habis sudah tidak ada yang membutuhkannya lagi,” jawab Bu Linda. “Kalau kantong plastik itu saya  minta boleh, Bu?” tanya Asti lagi. “Boleh saja, Asti. Memangnya kantong plastik ini akan kamu gunakan untuk apa?” tanya Bu Linda keheranan

“Iya, Asti. Kamu itu kok aneh banget, sih. Memangnya apa yang bisa kamu buat dari kantong plastik bekas ini?” Rindi ikutikutan bertanya dengan nada heran.

“Bu Linda dan Rindi, sekarang kan sedang musim hujan. Tadi saya kan lupa bawa payung. Jadi kantong plastik ini akan saya buat untuk membungkus tas saya. Jadi kalau nanti ketika saya pulang sekolah hujan tiba-tiba turun. Saya akan memasukkan sepatu dan tas saya ke dalam kantong plastik ini, dengan begitu bukubuku, tas, dan sepatu saya tidak akan basah” jawab Asti.

Bu Guru tersenyum mendengar jawaban Asti. Sedangkan Rindi masih tampak bingung karena belum mengerti dengan jawaban sahabatnya itu.

Tak lama kemudian bel tanda istirahat telah habis berbunyi. Asti dan Rindi segera pamit karena harus mengikuti pelajaran selanjutnya. Pelajaran sehabis istirahat itu berjalan lancar. Beberapa jam kemudian bel tanda pulang dibunyikan. Semua siswa menyambut bel tanda berakhirnya pelajaran itu dengan hati riang.

“Asti,  nanti aku pulangnya bareng kamu, ya! Soalnya ibuku tidak bisa jemput,” pinta Rindi.

“Boleh saja Rin, tapi aku pulangnya jalan kaki, lo. Kamu tidak apa-apa, kan?” jawab Asti dengan nada tanya.

“Tidak apa-apa, kok,” jawab Rindi.

Mereka lalu pulang bersama-sama. Mereka berjalan dengan sesekali bergurau. Dan ketika mereka sampai di tengah area persawahan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Asti langsung mengeluarkan dua kantong plastik yang diminta dari Bu Linda tadi dari dalam tasnya. Setelah itu Asti segera melepas sepatu dan kaus kakinya.

“Kamu mau apa Asti?” tanya Rindi keheranan.

“Aku mau menyelamatkan tas dan sepatuku biar tidak basah,” jawab Asti.

“Bagaimana caranya?” tanya Rindi lagi.

Ya, begini,” jawab Asti sembari memasukkan sepatu beserta kaus kaki dan tasnya ke dalam kantong plastik yang didapatnya dari perpustakaan tadi. “Ini, masih ada satu. Kamu mau?”

Rindi mengangguk ia lalu meniru apa yang dilakukannya temannya. Namun sebelum melakukan hal itu. Lebih dulu Rindi mengambil payung dari dalam tasnya dan langsung membukanya.

“Kita satu payung berdua, ya?”
“Iya, Rin.”

Seusai melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Asti, payung yang semula dipegang Asti, kembali dipegang oleh Rindi. Setelah itu dengan sangat  hatihati dua anak kecil itu berjalan menerjang derasnya hujan.

“Basah-basah dikit tidak apa-apa kan Asti?”

“Tidak apa-apa, Rin. Kamu mau berbagi payung denganku seperti ini aku sudah bersyukur, kok.”

Apesnya, baru beberapa langkah setelah memasukkan sepatu dan tas ke dalam kantong plastik yang dibawa Asti dari sekolah tadi, sebuah mobil berwarna merah melaju sangat kencang. Si pemilik mobil yang tidak melihat di dekat Asti dan Rindi ada genangan air, langsung melibas genangan air tadi dengan kecepatan penuh.

Alhasil genangan air itu muncrat dan membasahi seragam Asti dan Rindi. Dua anak itu tidak berbuat banyak. Mau marah pun percuma karena si pemilik mobil
tidak menghentikan kendaraannya untuk meminta maaf.

Kira-kira lima belas menit kemudian mereka sampai di rumah. Sampai di rumah, mereka menceritakan peristiwa yang dialami di jalan tadi. Baik orang tua Asti maupun orang tua Rindi tidak memarahi mereka. Setelah mandi dan ganti baju. Rindi membuka kantong plastiknya. Saat itu dia terkejut karena semua barang yang ada di dalamnya masih kering.

“Amboy, hebat sekali kantong plastik ini. Barang-barangku kering semuanya. Satu pun tidak ada yang basah. Aku harus ucapkan terima kasih pada Asti,” batin Rindi.

Asti lalu meminjam telepon milik ayahnya. Ia berniat menghubungi Asti untuk mengucapkan terima kasih.

“Hai Asti, ini aku Rindi. Aku mau mengucapkan terima kasih sama kamu.”

“Iya, sama-sama. Ngomong-ngomong terima kasih soal apa?”

“Soal kantong plastik kamu itu, lo. Karena kantong plastik itu sepatu, tas, dan bukubuku yang kumasukkan tidak ada yang basah. Sekali lagi terima kasih, ya!”

“Sama-sama, aku juga terima kasih karena kamu sudah berkenan membagi payung kamu.”

“Iya, meski pun sudah payungan tapi kita masih basah kuyup karena kena cipratan air. Eh, tapi kok bisa ya barang-barang yang disimpan dalam kantong plastik  tadi tidak basah karena hujan, ya. Padahal hujan tadi sangat deras, lo.”

“Itu, karena kantong plastik tadi adalah kantong plastik ajaib.”

Dalam kesempatan itu Asti menjelaskan perkataannya itu. Sejak saat itu Rindi tahu jika barang-barang bekas pun masih bisa digunakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top