Perisas Jenazah

“Halo, perkenalkan saya Dewi K u s r i n i .
Izinkan saya merias wajah Ibu. Semoga saya bisa merias Ibu, seperti yang Ibu mau. Kami bisa mulai sekarang ya.”

Ritual yang dilakukan kali pertama adalah menyapa si pasien. Saat merias ia membayangkan si pasien ketika masih bernyawa. Karenanya, tak segan ia mengajak
si jenazah berbicara.

Saat merias si jenazah, ia tiba—tiba terkenang keberadaan pasien saat masih hidup. Konon, ia seorang istri petinggi pejabat pemerintahan. Jujur, selama
ini ia -perias jenazah- hanya mendengar nama si istri pejabat -yang sekarang tengah diriasnya-. Sosok perempuan feminis yang kerap tampil di media cetak,
sesekali tampil di televisi. Ia meninggal dalam usia 40. Relatif masih muda. “Kakak meninggal karena kanker rahim,” cetus Nila, sang adik.

Nila yang menghubunginya untuk merias jenazah sang kakak, sebelum esok dimakamkan. Malam ini ia harus menyelesaikan riasan. Jenazah bersemayam di kamar pribadinya. Kamar yang luas, mewah dan nyaman. Senyaman si perias jenazah mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik di earphone. Ia paling
suka mendengarkan tembang kenangan, lagu-lagu Panbers dan Broery Pesolima. “Cinta adalah permata. Cinta lebih berharga dari permata…” Entah sekarang yang terngiang malah percakapannya dengan adik si pasien, beberapa jam silam. “Kanker rahim stadium tiga.” “Mengapa terlambat tahu?” “Entah. Kakakku sebenarnya sudah merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia sebenarnya sakit, namun ia seolah tak ingin mengalaminya. Makanya ia memilih menyembuhkan penyakitnya dengan berobat ke paranormal, pengobatan alternatif.”

“Sembuhkah?’ “Entah. Semula kakak terlihat lebih segar, lebih sehat. Tapi jelang waktu kemudian keadaan kakak sangat drop. Kami merujuknya ke rumah
sakit. Dan dokter memvonis umur kakak tinggal hitungan bulan.”

“Kasihan.” “Begitulah. Siapa yang tahu apa yang terjadi hari esok.” “Bagaimana suaminya?” “Sangat tenang. Seolah tak terjadi apa pun pada kakakku.” “Aneh.”
“Demi cinta.” “Demi cinta?” “Sebenarnya lebih tepat demi janji yang telah diikrarkan di altar suci -sebagai suami-istriyang
takkan terpisahkan seumur hidupnya.”

“Sebuah pengorbanan.” “Mungkin. Sebenarnya, hubungan kakak dan suaminya sudah tak lagi harmonis. Sudah lama kakakku sebenarnya ingin
pergi dari perkawinan yang dijalaninya karena sesuatu.” “Perselingkuhan?” “Apalagi yang dilakukan? Kaya, banyak uang, jabatan, kekuasaan, tampan, dan tak
kuat iman.” “Selama ini yang muncul di muka umum…” “Pencitraan, demi jabatan, dan cinta suci perempuan.” “Cinta suci perempuan?’ “Kakakku tipe  erempuan yang sangat mencintai suaminya. Ia disakiti tapi tak pernah membalasnya. Ia dikhianati tapi malah menyodorkan hati. Ia sangat mencintai suaminya,
walau suaminya sangat bangsat. Kakakku memperlakukan suaminya seolah dewa. Disayang, dihormati, dipuja…”

“Aneh.”
“Sudah kubilang, cinta kadang aneh.”
Seperti alur cinta dan perkawinan yang dialuri si perias jenazah. Ia dan suaminya-seorang lelaki karismatik-yang membuatnya tergila-gila mula sua pertama, hingga ia yang menyatakan perasaannya. Selang dua bulan berkenalan, mereka menikah. Lima tahun terlampaui, ia hamil dua kali dan melahirkan sepasang permata menawan. Perkawinan yang bahagia -setidaknya menurutnya-. Siapa bisa menghitung kedalaman samudra, namun tiada sangka yang tertera di kepala orang. Bahkan orang yang paling intim, dekat, tidur satu ranjang. Sungguh, ia guncang kala memergoki dengan mata nyata -suaminya memiliki seorang istimewa- jauh sebelum mereka menikah. Suami tercinta memiliki bojo lain, seorang lelaki pula!

Ia shock, memilih pergi dari perkawinan, namun takkan pernah melupakan mantan. Kenangan menjelma serupa sekeping uang logam. Ia masih cinta, namun harus menumbuhkan benci. Ia ingin melupakan, namun harus bisa menerima kenyataan, karena darah si pengkhianat mengalir di kedua jantung hatinya.

***
Ia mulai melukis bibir si jenazah. Ia tak mengalami kesulitan karena si pasien meninggal dalam keadaan tersenyum. Konon ketika seseorang meninggal
dalam keadaan tersenyum ia masuk surga. Orang beriman mengatakan begitu. Ia percaya. Saat mengoleskan lipstik warna pink-warna kesukaan si pasien, ia malah kembali teringat tutur Nila. “Kakakku orang yang baik. Ia tak hanya berada di dalam mobil saat melihat orang kesusahan. Ia turun dari mobil, menyapa
anak jalanan, menolong orang pinggiran. Mengulurkan bantuan, semampunya.”

“Terpujilah.” “Sepanjang usianya ia tiada pernah melahirkan anak. Tuhan tiada menakdirkan rahimnya menumbuhkan keturunan. Namun Tuhan memberinya
banyak anak di sekelilingnya. Anak yang selalu merindukan kedatangannya. Anak-anak polos yang kini kehilangan dirinya. “

“Semoga surga untuknya.”
“Amin.”

***
Ia memandang riasan yang dikenakan pada pasiennya. Jenazah tampak cantik, sesuai fotonya semasa masih hidup. Ia -si jenazah tersenyum,
seolah mengucapkan terima kasih-. Ia -si perias jenazahtersenyum takzim, seolah

membalasnya. Ia memang selalu berusaha memberikan hasil terbaik untuk pelanggan yang menggunakan jasanya. Ia tak ingin mengecewakan mereka
yang sudah memercayainya. Ia menjalani pekerjaan -sebagai perias jenazah- dengan tulus. Ia dulu tak pernah bermimpi menekuni pekerjaan ini. Sejak
remaja ia memang hobi merias orang. Orang hidup, bukan orang mati. Perjalanan hidup mengantarnya sebagai perias jenazah. Entah.

Padahal ia dulu paling takut berada di kuburan. Apalagi  ala melihat jenazah. Bahkan saat remaja ia pernah terkencing-kencing gara-gara ikut pramuka, dan  mereka harus menjalani ujian ketabahan dengan  engah malam menyambangi kuburan. Ia sangat ketakutan. Sungguh.

Tapi itu dulu! Sekarang entah. Ia tentu lebih berani -karena terbiasa bertemu jenazah dan meriasnya-. Meski sekali ia merasakan ketakutan, namun toh ia melakoninya. Ia yakin selama berniat baik, ia takkan mendapat gangguan. Bukankah sebelum menunaikan pekerjaan ia selalu membaca doa. Memohon pekerjaan lancar, sehingga ia bisa pulang membawa uang cukup, demi menghidupi anak yang yatim, semenjak 10 tahun lalu.

Ia sudah enjoy menekuni profesi perias jenazah. Ia mendapat bayaran, amplop yang lumayan tebal. Lebih tebal daripada memoles manusia masih bernyawa. Tentu saja, bukankah keahlian yang dimilikinya, masih jarang dilirik orang?

***
Akhirnya selesai juga. Ia memandangi sekali lagi hasil pekerjaannya. Jenazah benarbenar cantik dan sempurna. Semoga keluarga si pasien merasa puas dengan hasil pekerjaannya.

Ia bangkit, memandangi dirinya pada balik cermin. Lumayan lelah. Saatnya pulang. Ia membereskan peralatan make up yang disimpannya dalam tas berjinjing. Ia hendak mengabarkan pada si adik pasien –karena pekerjaan telah usaiketika pintu tiba-tiba tersibak. Nila muncul.

“Maaf, apakah sudah selesai meriasnya?”

“Ya, semoga keluarga puas.” Si adik pasien menilik hasil riasan pada jenazah dan ia mengganguk-angguk cerah, tersenyum, seraya mengulurkan amplop yang benar-benar tebal. “Terima kasih atas pekerjaannya, Zus. Jangan lupa besok siang datang untuk merias jenazah lagi sebelum di…”

“Tentu. Saya akan datang.” Saat merias ulang -tepatnya membenahi riasan jenazahia akan kembali mendapat amplop.

“Sudah malam. Apakah perlu diantar?”

“Terima kasih. Saya naik taksi saja.”

“Oke. Kalau begitu. Sekali lagi terima kasih.”

“Sama-sama.”

***
Ia pulang naik taksi. Taksi ngebut. Tak apa. Sopir taksi masih muda, mungkin dulu pernah bercita-cita jadi pembalap. Ia tersentak ketika taksi membentur sesuatu yang sangat keras. Sial, ia sampai terlempar ke luar dari pintu taksi.

“Hati-hati dong Bung!” Ia gegas bangkit dari aspal. Untung hanya lecet dengkul sedikit. Ia buruan bangkit. Malu kalau jadi tontonan orang. Benar, lihatlah  seseorang sudah menghampirinya dan mengulurkan tangan. “Bangkitlah. Ayo!“ “Terima kasih sudah menolong.” “Kau…baik-baik saja?” ”Seperti yang kau lihat.”
Sepertinya ia tak asing dengan si penolong. Mereka pernah bertemu, entah di mana. Tak penting.

Ia gegas melangkah. Pasti anak-anaknya di rumah sudah menunggu. Hei, tapi tunggu dulu. Ia melewati keramaian karena harus naik taksi lagi. Tapi tidak, ia sangat ketakutan dan memilih mematikan niat memasuki taksi saat melihat perempuan-yang parasnya mirip dirinya -mendekap tas besar berjinjing. Keningnya
mengalir darah! Membasahi jok dan kaca taksi!

Ia memegang kening. Tak ada apa-apa. Ia merasa baikbaik saja, sebelum seorang yang menolongnya muncul dan berbisik meniupkan badai.
“Sepertinya kau tak bisa datang ke pemakamanku besok untuk meriasku lagi.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top