Mustika

Ketika hendak tidur gadis itu membawa gelisah dan saat bangun rasa gundah masih melekat. Mukanya pucat, seperti sedang menahan keinginan
yang tak pernah kesampaian. Sekilas menimbulkan kerutankerutan kecil di wajahnya hingga parasnya tampak layu. Akhir-akhir ini gadis itu bimbang. Hatinya sedang tergelora oleh Andrian. Dia merasakan jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Di sisi lain, sebenarnya hatinya sudah terpaut lebih dulu pada Bima, pria
yang sudah empat tahun jadi kekasihnya. Jika sebelumnya tidak pernah ada kisah seperti ini, bukan berarti Tika, begitu nama gadis itu, tidak pernah
jatuh cinta lagi, tetapi setiap kali perasaan seperti itu muncul, dia tidak pernah mengakuinya itu ada. Biasanya dia juga akan berusaha untuk tidak
menjadikan itu nyata.

Hari masih begitu pagi bahkan bau malam masih tercium. Aktivitas rutin belum saatnya dilakukan, dia bingung mau apa. Tika beranjak dari tempat tidur, berjalan gontai menuju wash-stand untuk cuci muka. Dia kembali masuk kamar dan duduk di depan cermin, memerhatikan wajahnya sendiri. Matanya langsung tertuju pada sesuatu yang telah sepekan nangkring di wajahnya. Di bawah dahi, tepat di tengahtengah mata kiri dan kanannya, ada jerawat besar bermata
ranum, seperti hendak pecah. Hal itu sangat mengganggu pandangannya. Tika mencoba menyentuhnya. Begitu tersentuh, dia menyeringai, rasanya seperti
terkena setrum.

Terlintas pertanyaan di benak Tika tentang jerawat itu. Bagaimana prosesnya sampai muncul jerawat sebesar itu? Apakah hanya karena wajah kotor atau ada sebab lain? Apa benar kata orang, kalau jerawat besar muncul tanda si empunya sedang mengalami perasaan cinta yang hebat? Apakah jerawat itu ada hubungannya dengan Andrian yang sekarang baru dipikirkannya?

Benak Tika ke mana-mana, hatinya penuh gejolak, dia memikirkan tentang perilaku yang dulu tak lazim, kini sudah biasa terjadi. Sekarang bukan hanya lelaki yang mudah menduakan kekasihnya. Sekarang bukan hanya lelaki yang berani memutuskan kekasihnya dengan alasan karena mencintai yang lainnya.
Sekarang seorang gadis pun sudah banyak yang melakukan itu.

Dan kini, di diri Tika ada perasaan cinta kepada pria lain, selain kekasihnya. Perasaan cinta Tika kepada Andrian begitu dahsyat. Tika menilai Andrian lebih baik
dibandingkan Bima. Tapi apakah boleh, apakah pantas, dan apakah akan dimaklumi oleh banyak orang kalau dia akan bertindak memutuskan Bima dan beralih kepada Andrian? Sementara hubungan mereka tidak ada masalah, bahkan semakin hari mutu hubungan mereka semakin berkualitas. Begitulah buah pikiran yang muncul di otak Tika hingga sampai memengaruhi denyut hidupnya. Bahkan semalam saat bersama Bima, perasaan Tika sudah tidak nyaman lagi. Hari-hari yang dilaluinya sangat tidak mengenakkan hingga dia merasa perlu untuk menentukan langkahnya. Tika berusaha membunuh galau itu dengan kembali fokus
pada jerawat yang warnanya menyerupai jambu air itu. Jarijari lentik kedua tangannya berusaha menjepit jerawat itu, wajahnya mendekat ke cermin hingga tinggal lima sentimeter jaraknya dari kaca. Lalu dia konsentrasi berusaha mengeluarkan mata jerawat yang menimbulkan rasa perih itu. Dengan modal akumulasi kegelisahan hatinya, sontak dia menekan jerawat itu dengan kedua kuku ibu jarinya sembari menjerit lirih. Seketika darah
mengalir pada bekas jerawat. Diambilnya benda bulat warna putih yang mecothot pas di titik tengahnya. Diletakkan benda kecil itu di atas meja, tangan
kanannya meraih botol lotion. Benda kecil putih itu dipukul dengan botol itu hingga penyet bagai emping mlinjo mini. Ada perasaan puas ketika dia
berhasil meraih mata jerawat itu dan melumatkannya. Bisa menjadi sarana pelampiasan keresahannya. Tika mengambil kapas dan membersihkan luka itu lalu mengolesinya dengan air liur. Dia ingat apa yang pernah dikatakan temannya dulu, bahwa obat mujarab untuk luka jerawat adalah air liurnya sendiri. Benar
adanya, tak begitu lama luka jerawat itu mengempis lalu mengering.

Tika mencoba melupakan jerawat. Untuk menetralkan perasaan yang menentu, dia mencari buku bacaan di perpustakaan mini miliknya. Dia ingin  menghabiskan waktu  dini hari itu dengan membaca. Buku tentang cinta sejati dipegangnya, dibuka acak, karena merasa tak cocok, buku itu ditaruh kembali.
Lalu buku tentang cinta tak bersyarat, tapi hatinya baru tak berkenan dengan temanya hingga buku itu ditaruh juga. Dia mengambil buku lain, tentang cinta rasional. Dibukabuka  agak lama, dia merasa ada sedikit yang cocok dengan kegelisahannya, tentang upaya mencari cinta yang masuk akal, tentang pencarian  cinta tidak dengan buta mata dan buta hati melainkan dengan rasio. Tapi rupanya buku itu dilemparkan di atas meja sebab dia menganggap buku
itu juga tidak bisa mewakili sepenuhnya dengan apa yang dia rasakan.

Tika merebahkan tubuhnya  di ranjang sembari tetap memerhatikan jajaran buku di rak. Tiba-tiba Tika bangkit lagi lalu mengambil sebuah buku, dibuka-buka dan dibaca lama. Sebagian besar isinya mempermasalahkan kelaziman di masyarakat belum tentu benar dan pantas dilakukan.  Tika memutuskan membacanya.
Saat lembar demi lembar buku itu dibaca, dia merasa ada yang membela. Membela pemikiranpemikirannya. Tika berangan mengambil keputusan menuruti
perasaannya meski hal itu akan jadi perilaku yang tak lazim. Tika menganggap semua itu kemerdekaan setiap orang. Dengan kepercayaan penuh dia akan mengatakan kepada Bima bahwa hubungan yang telah dijalin bersama itu harus  diakhiri sebab dia merasa sudah bosan dengan Bima dan akan menerima  Andrian  sebagai gantinya.

Mungkin karena lelah atau masih mengantuk Tika tertidur. Dalam tidurnya yang lelap dia bermimpi diberi mustika oleh seseorang. Saat bangun, kali
ini dengan hati yang damai, tampak dari sorot matanya yang bening. Semuanya itu menambah pandangan dirinya begitu memesona, terlebih
ditunjang tubuh seksinya yang jelas terpancar karena terkena sorot mentari yang menyelinap dari bopen kamarnya. Hari itu libur, dia bermaksud bersih diri, berlama-lama mandi, keramas lalu merawat tubuh yang sudah lama tak terurus. Tika tampak antusias melewati hari itu, mungkin karena dia sudah mendapat kepercayaan dirinya untuk memutuskan jalan hidupnya. Dia akan menjalani hidup yang sama sekali baru bersama Andrian. Menjelang siang, ibunya mengetuk pintu kamar Tika. Ibunya menyuruh keluar kamar karena ada yang mencari. Tika keluar kamar dengan setelan kaus dan jin yang serasi menempel di tubuhnya. Bau harum tubuhnya mengalahkan wangi bunga apa pun. Parasnya cantik alami.

Begitu Tika sampai di ruang tamu, ternyata Bima telah menunggu di sana. Bima terpana saat melihat kecantikan Tika hari itu. Tetapi sebaliknya bagi Tika, dia tampak seperti kaget atas keberadaan Bima. Sebenarnya Tika berharap Andrian yang datang tapi lantas dia berpikir tidak masalah karena pada kesempatan itu dia akan mengutarakan maksudnya.“Kebetulan Mas Bima  atang, ada yang perlu Tika sampaikan,” katanya. ”Sama dong,” kata Bima. ”Maksud Mas Bima?”
“Ada hal yang penting yang ingin aku katakan dan kamu harus tahu,” jawab Bima.  Oya, apa itu?” tanya Tika. Saat Bima selesai menjelaskan, keduanya terdiam  lama. Wajah Tika tampak seperti tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Sejenak pandangan Tika kosong menerawang jauh dan lambat laun pelupuk matanya penuh air. Tika tak kuasa menahannya hingga air mata itu jatuh di pipinya. “Kok kamu menangis? Apa kamu tidak senang?  Aku sungguh-sungguh,
Tika. Keputusanku sudah bulat. Bapak-Ibumu sudah aku beritahu tadi dan beliau  ngikut saja,” mendengar Bima bicara begitu, Tika semakintak kuasa menahan air mata yang keluar.

“Kedua orang tuaku sudah aku kabari dan mereka akan datang ke sini melamarmu dua pekan lagi. Aku sudah mantap ingin menjadikanmu  istriku, Sayang,” lanjut Bima.  ika tak kuat lagi menahan haru, ditubruknya Bima dan berdua hanyut dalam pelukan. “Oya, katanya ada yang ingin kamu sampaikan, apa itu?” tanya Bima sembari merenggangkan pelukannya.  “Ah, hanya sebuah mimpi kok. ini hari tadi aku bermimpi diberi mustika oleh seseorang, mungkin itu  pertanda kamu  akan melamarku ini,” jawab  ika sambil merekatkan kembali  elukannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top