Baju Lebaran Buat Kakak

Rosa bergegas menghabiskan nasi lauk di piringnya yang tinggal beberapa suap lagi. Sesekali ia melirik jam di dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 04.00 WIB. Rosa pun meneguk segelas air putih perlahan-lahan setelah menghabiskan makan sahurnya. Setelah itu, dengan cekatan ia membereskan piring dan gelas kotor dan membawanya ke dapur untuk di cuci.

Rosa memang anak yang rajin dan mandiri. Semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia akibat kecelakaan kereta api satu tahun lalu, Rosa sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah termasuk menjaga Anna, adik Rosa yang terpaut lima tahun lebih muda dari usianya.

Kring.. kring.. krriiingg, dengan manyun Anna membunyikan bel sepeda miliknya.

“Kak Rosa, ayo buruan! Nanti kita telat ke sekolahnya lho Kak,” teriak Anna yang telah berdiri di depan rumah.

“Aduh Anna, bentar ya, ini Kak Rosa baru pakai sepatu,” sahut Rosa.

Setelah berpamitan kepada nenek, Rosa dan Anna pun berangkat sekolah dengan naik sepeda. Mereka bersekolah pada SD yang sama. Anna duduk di elas I sedangkan Rosa yang kini berada di kelas VI.

Siang yang terik. Pelajaran segera usai. Tinggal menunggu Bu Diah mengumumkan liburLebaran.

“Horee… horee…!” serempak murid-murid kelas VI berteriak girang.

Lain dengan kawan-kawannya, Rosa tampak murung. Ia melangkah menuju tempat parkir sepeda dengan lemas. Terbersit di benaknya beberapa kenangan bersama ayah dan ibunya. Membantu ibu memasak makanan untuk berbuka, ikut ke masjid bareng ayah, dan… dan..

“Rosa…!” suara mengagetkan itu datang dari arah pukul enam, tepat di belakang Rosa. Seketika itu lamunan Rosa pun buyar oleh suara Nabila yang memanggilnya.

“Ada apa Bila…?” tanya Rosa seraya memalingkan pandangannya ke belakang.

“Buku kamu ketinggalan di kelas nih!” Nabila pun menyodorkan buku itu ke depan Rosa.

“Oh iya, makasih ya Bil,” ujar Rosa sambil menepuk jidatnya.

Pim..pimm… tiba-tiba suara klakson mobil jemputan Nabila berbunyi. Rupanya pak sopir telah menunggu Nabila.

“Rosa, aku pulang dulu ya, Oh iya, hari ini aku mau beli baju Lebaran sama Mama, kamu mau ikut Ros?” ajak Nabila dengan sunggingan senyum di bibirnya.

“Tidak usahlah Bil, aku harus segera pulang bantu Nenek buat kue untuk dijual nanti sore. Terima kasih ajakannya,” jawab Rosa.

Rosa mengayuh sepeda merahnya perlahan. Ia masih termangu dalam kesedihan mengingat puasa kali ini tidak didampingi oleh kedua orangtuanya.

“Baju Lebaran? Oh iya ya, aku kan belum punya baju baru buat Lebaran besok. Tabunganku juga masih sedikit,” gumam Rosa dalam hati.

“Tak apalah tahun ini aku nggak punya baju baru buat Lebaran, tapi… Anna?”
****
“Kak Rosa bangun, ayo bangun Kak, sudah siang!” suara Anna terngiang di telinga Rosa yang tengah tertidur setelah sahur tadi.

“Lho, kok tangan Kak Rosa panas, ini kakinya juga.. Kak Rosa sakit?” tanya Anna panik.

“Kak Rosa nggak papa, ini cuma agak pusing.”

“Kalau begitu, nanti minta tolong Nenek agar nemenin Kak Rosa ke puskesmas ya, nanti Anna juga ikut deh… tapi Kak Rosa harus janji obatnya pak dokter diminum, oke?” ungkap Anna cerewet. Rosa pun hanya menganggukkan kepala tanda setuju.

Setelah pulang dari puskesmas, Rosa pun segera menuju kamar untuk beristirahat. Rosa berharap segera terlelap. Kelopak matanya dipejamkan rapat-rapat. Tetapi usahanya gagal. Ingatannya melayang pada nasib adiknya yang pasti sangat sedih Lebaran kali ini tidak ada
baju baru.

Ia harus menabung dan menunggu agar uangnya terkumpul banyak jika ingin membeli sesuatu. Uang yang nenek dapat dari hasil berjualan kue hanya cukup untuk membeli makan setiap harinya. Akhirnya Rosa pun terlelap juga setelah pikirannya cukup tenang.
****
Rosa pun bangun dengan badan yang fresh setelah tidur tiga jam lamanya. Rasa pusingnya mulai berkurang. Panas di badannya pun mulai turun. Ia menggerakgerakkan badannya meliukkan badannya ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba matanya tertuju pada bungkusan di meja. Tampak bungkusan yang tak begitu rapi berbalut kertas kado warna hijau. Rosa pun melangkah ke meja itu dan mengambil bungkusan itu.

“Untuk Kakakku Rosyadul Ulya. Ini untukku?” tanya Rosa dalam hati.

Dibukanya bungkusan itu dan dibacanya surat kecil yang berada di dalamnya.

“Terima kasih Kak Rosa sudah menjadi kakak yang baik buat Anna.

Baju ini buat Kak Rosa semoga Kak Rosa senang ya!

Oh ya ini bajunya kembar lho sama miliknya Anna….

Anna selalu sayang Kak Rosa…!”

Seketika itu Rosa pun tak mampu membendung rasa terharunya. Air matanya pun telah jatuh membasahi pipi. Ia tak menyangka kalau baju baru yang Rosa pegang itu adalah pemberian Anna. Ia sempat berpikir dari mana Anna mempunyai uang untuk membeli baju ini.

Tiba-tiba Anna pun datang menghampiri Rosa. Rupanya ia telah berada di balik pintu kamar Rosa dan dari tadi telah mengamati Rosa beberapa saat sebelumnya.

“Ann, kamu dapat dari mana baju ini?” tanya Rosa sambil mengelap air matanya.

“Baju ini Anna beli di pasar tadi pagi sama Nenek. kebetulan tadi ketika Nenek mau beli bahan-bahan kue di pasar, kami ketemu sama Ibunya Vinda, teman sebangku Anna di kelas. Ibunya Vinda tiba-tiba kasih uang sama Anna terus, katanya beliau suka sama Anna karena Anna jadi teman yang baik buat Vinda!” jawab Anna panjang lebar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top