Jame Berambut jabrik

Di sebuah kota Aljabra, hiduplah seorang puteri bernama Jame. Jame orangnya periang dan usil. Sayangnya belakangan ini ia tidak suka becermin.

“Tidaaaak!!!“ Teriak Jame suatu hari. Beberapa dayang istana tergopoh-gopoh menghampiri. “Ada apa tuan puteri?”

“Aduh kalian ini. Kenapa masih bertanya?” Jame memoyongkan bibirnya di depan cermin. Dayang-dayang itu berusaha menahan tawa.

Pasalnya rambut Jame yang sebahu itu terlihat jabrik. Tidak beraturan ke mana-mana. Jame meliriknya sebal. “Bagaimana aku bisa datang ke pesta dansa nanti?”

“Pakai topi seperti biasa saja tuan puteri,” usul dayang berbaju merah.

“Benar, nanti topinya kita hias supaya cantik,” tambah dayang berbaju hijau.

Jame lekas menggeleng. “Tidak bisa. Aku harus tampil cantik dengan rambut tergerai.” Dayang berbaju hijau kembali bersuara “Ah, bagaimana kalau dikuncir  saja? Pakai pita-pita?” Jame kembali menggeleng. “Aduh Bibi Mai, aku ini sudah menginjak remaja. Bukan anak kecil lagi.” Jame teringat saat dia kecil.  Rambutnya selalu dikuncir dengan pita.

“Hmm hmm.. “ Jame mematut dirinya di  depan cermin. Sesekali berputar-putar. Lalu ia tiba-tiba berbalik menatap dayang-dayangnya. Dayang berbaju kuning  sampai terjungkal karena kaget.

“Haha. Maafkan aku Bibi Nes. Aku tak bermaksud membuatmu jatuh. Tapi sungguh, kau itu lucu sekali.” Bibi Nes pura-pura cemberut.

“Jadi, kapan pesta dansa itu?” Tanya Jame sambil membantu Bibi Nes berdiri.

“Tujuh hari lagi, Puteri,” jawab dayang berbaju merah.

“Kalau begitu, masih ada waktu untuk berpikir,” kata Jame sambil melenggang ke luar kamar dengan santainya. Sambil bersiul, Jame terlihat riang melangkah ke arah taman. Ia seperti sudah lupa dengan rambut jabriknya.

***
Di taman, Jame asal melempar batu ke arah kolam. Ikan-ikan yang tadinya asyik mengunyah remahan roti menjadi berhamburan karena kaget.

“Haha. Maafkan aku. Aku tak bermaksud mengagetkan kalian,” ucap Jame sambil berjalan ke arah kolam. Kini ia mengajak ikan-ikan itu berbicara.

“Menurut kalian aku harus bagaimana?” Ikan mas yang kecil hanya menatap Jame tak berkedip.

“Kau pasti bingung? Mana ada puteri yang berambut jabrik? Aku juga bingung,” celoteh Jame. Ia lalu teringat percakapan dengan Ibunya, Ratu Joana, saat ia masih kecil.

“Ibu, kenapa rambutku jabrik?” Tanya Jame kecil.

“Karena kamu seperti singa kecil. Singa kecil itu tidak bisa diam. Kesukaannya mengejar apa pun yang bisa dikejar.

Sampai-sampai angin juga tidak berhenti meniup  rambutmu,” jawab Ibunya sambil membelai bahu Jame.

“Jadi aku ini singa kecil atau siluman angin?”

“Pilih apapun yang membuatmu bahagia saja.” Jame nyengir. Saat itu ia merasa sangat keren. Ia bisa bebas memilih menjadi singa kecil atau siluman angin.

“Aku pilih jadi siluman angin saja Bu. Supaya aku tetap bisa berlari mengejar apa pun,” jawab Jame yakin.

Sekarang Jame baru menyesal dengan pilihannya. Harusnya ia memilih menjadi singa kecil. Menurut Jame rambut singa itu masih bisa diatur. Sudah agak lama Jame melamun. Ia sampai tidak sadar dengan kesibukan para pekerja yang entah kapan ada di situ.

“Eh kalian sedang apa?” Tanya Jame yang baru saja sadar dari lamunannya. Para pekerja itu sibuk sekali menghias pohon dengan pita-pita.

“Ratu Joana memerintahkan kami untuk menghias pohon, Puteri. Supaya terlihat lebih cantik,” jawab salah satu pekerja.

Jame mengangguk paham. Ibunya pasti mulai menyicil mempersiapkan acara pesta dansa. Jame akan melempar batu lagi ke kolam ikan, namun di pikirannya tiba-tiba muncul sebuah ide hebat.

“Astaga! Kenapa aku baru kepikiran sekarang? Astaga!” Jame menepok kepalanya berkali-kali sambil berlari ke arah kamarnya.

***
“Bagaimana? Bagaimana? Sudah lumayan bukan? Rambutku jadi tidak terlihat jabrik lagi? Rambutku jadi lebih rapi bukan?” Jame tak henti-hentinya bertanya.

Sejak mendapat ide hebat dari taman, Jame merangkai kain dan pita menjadi bando yang lebar dan cantik. Bando lebar itu akan membantu rambutnya supaya lebih rapi. Ia tetap bisa datang ke pesta dansa tanpa takut rambutnya akan mengacaukan suasana.

Di pesta dansa, penampilan Jame menjadi pusat perhatian. Bando yang menempel di rambut Jame memang indah. Kainnya berwarna kuning cerah. Pitanya berwarna merah menyala. Rambutnya yang jabrik menjadi tertata.

“Jame, bandonya cantik.”

“Bandomu beli di mana? Indah sekali melihatnya.”

“Jame! Kamu cantik sekali memakai bando itu!” Banyak yang memuji sekaligus penasaran dengan bando Jame. Di otak Jame muncul ide baru.

“Setelah ini aku bisa memerintah dayangdayang membuat banyak bando. Lalu aku bisa menjualnya pada puteri-puteri itu. Tidak buruk juga punya rambut jabrik,” bisik Jame sambil tertawa usil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top