Mantan Maling

Woi! Woi! Ada
anak maling,
woi…” “Anak
maling, anak
maling!!!”
Bayu menunduk, malu. Ledekan
seperti itu kerap terdengar
di telinganya, namun entah
mengapa ia masih belum terbiasa
mendengarnya. Memang benar
bapaknya dulu adalah maling,
tetapi itu sudah dulu sekali,
sekarang ia sudah tobat. Tapi
para tetangga masih saja mempermasalahkan
hal tersebut,
bahkan anak-anak mereka tidak
diperkenankan untuk bermain
bersama Bayu.
***
Praaang!
Praaang!
Bantingan piring mengisi pagi
di rumah Pardi. Bayu yang masih
tertidur pulas, seketika terbangun.
Ia mengusap-usap matanya,
lantas keluar kamar.
“Saya sudah bosan hidup begini,
Pak. Saya mau minggat saja
dari sini,” suara Ibunya yang menyambut
di depan pintu dapur.
“Bapak juga nggak mau seperti
ini. Tapi kita harus sabar,
Bu.”
“Capek saya bersabar. Saya
nggak kuat lagi!”
Bayu mematung menyaksikan
pertengkaran kedua orangtuanya.
Baru kali ini, Bayu melihat
ibunya begitu marah. Kesabaran
manusia itu memang ada
batasnya.
Bertahun-tahun sudah istri
Pardi berusaha menerima
kenyataan hidup, namun nyatanya,
semakin bertambah buruk
keadaannya. Mungkin dia
memang sudah tidak kuat lagi
hidup dalam pandangan orangorang
yang selalu menggunjingkannya.
Kesabaran istri Pardi habis,
bermula dari beberapa hari lalu
saat ia tengah berada di warung.
Pemilik warung tidak lepaslepas
memperhatikan tangannya.
Seolah-olah tangan itu akan
mengutil sesuatu bila tidak
diawasi. Istri Pardi merasa risih,
tetapi itu bukan masalah yang
mengakibatkan pertengkaran
pagi ini. Keesokan harinya, istri
Pardi berjalan-jalan di sekeliling
kampung mencari Bayu.
Namun pandangan orang kepadanya
malah negatif, ia digosipkan
sedang mencari sasaran empuk
untuk dijadikan target pencurian
berikutnya. Klimaksnya
adalah pagi tadi, ketika sebuah
piring meluncur dari rak menuju
dinding rumah mereka.
Piring itu tidak terbang dengan
sendirinya, ia jatuh dan
pecah karena warga desa marah
kepada Pardi dan menyerbu
masuk ke dalam rumah. Di saat
itulah terjadi perdebatan hebat
warga desa dengan keluarga
Pardi.
Warga desa menuduh Pardi
mengambil televisi plasma baru
dari rumah wakil RT, sontak
Pardi marah besar karena sudah
dituduh tanpa bukti. Maka terjadilah
keributan yang membuat
gaduh pagi hari milik Bayu. Saat
warga tidak menemukan apa
yang mereka cari, mereka langsung
meninggalkan rumah Pardi
tanpa meminta maaf. Setelah
itu, terjadilah keributan antara
Pardi dan istrinya.
“Mereka semua sudah pada
edan, gila! Kita yang tidak
melakukan apa pun, malah dituduh
nyuri, hanya lantaran bapak
dulunya maling. Saya sudah
muak Pak, lebih baik kita pergi
dari kampung ini!”
“Kita mau pergi ke mana,
bu?”
“Ke mana saja boleh, asal tidak
di sini.”
“Jangan ngomong sembarangan.
Kita tidak punya rumah
lain selain di sini.”
“Ya jual saja rumah ini. Habis
itu, kita beli rumah di tempat lain.”
“Siapa yang mau beli rumah
seorang mantan maling?”
Bayu menutup kedua kupingnya
rapat-rapat. Ia sudah sangat
muak dengan semua keributan
itu. Apa salahnya menjadi mantan
maling? Apa salahnya ingin
berubah baik? Mengapa mereka
tidak mau mengerti dengan perubahan
yang ingin dilakukan
keluarganya. Bayu menjambaki
rambutnya, kepalanya sakit,
pening. Tidak kuat lagi menahan
logika-logika orang-orang kampung
yang seolah sudah lenyap
atau lebih tepatnya mati suri.
“Wuaaakkk!!!”
Teriak Bayu. Pardi dan istrinya
terkejut bukan main mendengar
teriakan anaknya, mereka
baru menyadari bahwa semenjak
tadi Bayu mendengar
perdebatan mereka. Kedua orang
tuanya menghampiri Bayu
dengan perasaan cemas, campur
takut.
“Bayu, kamu kenapa Nak?”
panggil Ibunya, panik.
Kepanikan yang lebih dahsyat
dibanding tadi pagi melanda keluarga
Pardi. Tubuh Bayu tibatiba
menjadi kaku, matanya terbuka,
memancarkan kepedihan
yang dalam. Ia merasa sesak, tekanan
yang bertubi-tubi membuatnya
syok.
“Bayu, kamu baik-baik saja
Nak? Ini Ibu, jawab Ibu.”
“Bayu… ada apa Nak? Jangan
membuat Bapak semakin bersalah,
ayo kamu bilang ada apa?”
Suara-suara kegugupan itu
tidak terdengar oleh Bayu.
“Jawab Bapak, Nak. Jawab!”
“Bayu kenapa Pak?”
Tiada jawaban, Bayu masih
terdiam. Tidak bergerak, hanya
mematung. Kaku.
***
“Anakmu belum sembuh,
Par?” tanya ketua RT yang merasa
bersalah karena waktu itu memaksa
masuk ke rumah Pardi
lantaran wakil RT kemalingan.
Penggrebekan yang tanpa hasil
itu sangat memukul warga desa,
mereka malu, sekaligus membuat
mereka sadar bahwa tindakan
mereka selama ini salah.
“Belum, Pak RT.”
“Sepertinya anakmu terlalu
stres. Bawa anakmu ke rumah
sakit. Biayanya biar warga yang
menanggung, itung-itung nebus
kesalahan.”
Kata-kata Pak RT membuat
ubun-ubun Pardi mendidih,
seenaknya dia berbicara tanpa
mempunyai beban.
Apa yang sudah keluarganya
lewati selama ini, tidak cukup
dibayar dengan uang ratusan ribu
rupiah saja. Sudah banyak hinaan
dan penderitaan yang mewarnai
jalan hidup keluarganya,
semua tidak mudah untuk dilupakan.
Sakit itu masih membekas,
dalam. Dan sekarang sudah
membusuk ke dasar hati.
“Ini ala kadarnya dari wakil
RT. Dia tidak berani bertemu
denganmu secara langsung.
Sepertinya malu sama kamu, karena
salah tuduh waktu itu.”
“Tidak perlu repot Pak, saya
tidak membutuhkan uang tersebut.”
“Tidak, tidak ada yang direpotkan
di sini. Terimalah, ini
rezekimu.”
Pak RT memaksa Pardi mengambil
amplop yang disodorkannya,
Pardi pun akhirnya menerima
dengan berat hati.
***
“Gimana Bang, televisi saya
mau dibayar berapa?”
“Satu setengah lah.”
“Walah, dikit amat. Naikin sedikit
dong.”
“Beraninya segitu.”
“Ini kan televisi plasma baru,
Bang.”
“Ya, situ segitu mau apa nggak?”
mimik wajahnya sudah
tidak mau menaikkan
penawaran lagi.
“Okelah, terpaksa.”
Penadah itu memberikan
uang lembaran ratusan ribu kepada
si penjual televisi. Wajahnya
memancarkan kepuasan,
transaksinya berjalan dengan
lancar. Seringai kemunafi –
kan memunculkan wujud aslinya,
seolah sangat senang semua
warga akhirnya bisa dibohongi.
Tidak sia-sia kesabarannya selama
ini tinggal di kampung itu,
ternyata memang ada hasilnya
juga. Ia menghitung lembaran
uang ratusan ribu di tangannya
dengan tatapan kegembiraan, di
bola matanya hanya ada lembaran
uang merah tersebut.
Ketika selesai menghitung hasil
pembayaran televisi plasmanya.
Ia sudah siap melakukan aksi
selanjutnya, rumah yang diincarnya
pun sudah ia pastikan kosong.
Niat jahat itu terlahir kembali,
dalam alur yang berbeda.
“Ada apa nih Pak RT, kok senyum-
senyum sendiri? Habis
dapat rezeki nomplok, ya?” tanya
wakil RT yang tidak sengaja
berpapasan.
“Tau aja, Pak. Kebetulan saya
sedang senang, mari saya traktir
makan di warung Mbak Laksmi.”
“Beneran ni, Pak.”
“Iya, benar. Ayo pergi.”
Senyum pak RT semakin
me rekah, saat dilihatnya Pak
Wawan wakil RT begitu antusias
menerima ajakannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top