Boneka Buat Upik

 

Cernak : Sigit Priyanto

Sore itu cuaca tidak begitu cerah. Hujan yang mengguyur semalam masih menyisakan sedikit mendung yang mengintip di langit. Seperti juga dengan wajah Upik yang tidak begitu cerah. Upik yang biasanya berwajah riang, ceria pada sore itu terlihat lain dari biasanya. Dua kakak kembarya Eko dan Adi tidak tahu, apa gerangan penyebab adik perempuannya menjadi murung. Ayahnya berdagang di pasar, setiap pukul enam pagi sudah berangkat ke pasar, begitu pula dengan ibunya yang juga berdagang sayuran di pasar, pagi­pagi sekali sudah pasti telah berangkat ke pasar. Kakaknya yang kembar memberanikan diri untuk bertanya pada adiknya,
“Dik, kenapa hari ini kok muram, ada masalah apa?” tanya kakaknya yang besar dengan sabar dan lembut.
”!ya dik, ko􀈭 kelihatan Iain dari biasanya ta, ada apa sebenarya Dik?”
Dengan suara yang lirih tidak jelas Upik pun akhirya menjawab.
“Uuh … enggak ada apa-apa kok. Aku hanya kesal sama Ima,” jawab Upik dengan sesenggukan.
“Lho, kesal sama lma kenapa? Kan kamu kemarin main sama Ima,” kata Eko lagi.
“Memangnya ada apa dengan Ima Dik?” sambung Adi menimpali.
“Bonekaku Kak kemarin diminta Ima,” jawab Upik dengan kesal.
“Lhoo … kan kamu kemarin sudah ikhlas untuk memberikannya?” “!ya Dik, lagian kalau kamu sudah ikhlas mengapa harus disesali. Adik harus berjiwa besar dan ini bisa dijadikan pelajaran bahwa kalau Adik ikhlas suatu saat pasti akan diganti dengan lebih baik oleh Tuhan,” nasihat Adi dengan bijaksana. “Betul Dik, suatu saat kalau Adik menjadi anak yang sabar dan mau berbagi, Pasti akan mendapat balasan yang lebih baik dengan tanpa disangka-sangka, bisa lewat orangtua kita bisa juga lewat orang lain atau pun saudara kita” timpal eko . Tiba-tiba tanpa diduga Ima lewat di depan rumahnya dengan membawa boneku pinjaman kesayangan Upik. Hati Upik menjadi panas dan berniat suatu saat akan dimintanya kembali bonekanya itu.”Uh … saya jadi benci dan jengkel pada Ima,” gerutu Upik. “Sudahlah Upik, ikhlaskan saja, biar boneka itu dimlliki Ima, lagian mainan yang lainkan masih banyak,” nasihat Adi. Tidak henti-hentinya kedua kakak kembarnya itu gantian menasihati, tetapi Upik tetap tidak terima dengan tingkah lma yang seolah-olah malah mengejeknya. Tiba-tiba di suatu sore, ada mobil taksi berhenti di depan rumahnya Upik. Ketika kakaknya terheran-heran dengan kedatangan tamu itu. Tidak biasanya ada tamu naik taksi. Setelah pintu mobil terbuka muncul sesosok orang dari dalam mobil, terperanjatlah mereka. Teryata tamu itu adalah Om mereka yang selama ini tinggal di Jakarta. Om mereka yang bernama Om Surya itu sudah dua tahun lebih tidak pulang kampung. Betapa gembirnnya Upik dan kedua kakaknya. “Eh Dik itu Om Surya … iya Om Surya datang,” sambut kaknya Eko dengan riang yang langsung menarik adiknya untuk menyambut. “Halo sayang .Apa kabar anak-anak ,gimana sehat-sehat saja kan kalian?” tanya Om Surya .” Sehat Om, Bapak,Ibu,Kakak semua sehat-sehat,” jawab Upik. Setelah masuk rumah, Om Surya membagi oleh-oleh.Upik mendapatkan oleh-oleh yang sangat dicintainya yaitu sebuah boneka barbie sangat lucu. “Kak…Alhamdullilah ternyata Tuhan Maha Adil ,benar kata kakak kemarin kalau kita ikhlas pasti akan mendapatkan ganti yang lebih baik dari Tuhan lewat Om Surya ,terima kasih ya Tuhan” kata Upik bersyukur .Dan mulai hari itu Upik menjadi anak yang dermawan ,suka memberi, suka meminjamkan apa saja yang diinginkan teman-temannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top