Taktik Sang Raja

Cernak : Anton WP

Raja Wirawan dari Kerajaan Nusa Damai sedang kebingungan. Baru saja ia menerima dua prajurit Kerajaan Bandar Jaya. Utusan Raja Jangkara’ itu membawa surat yang berisi peringatan agar Kerajaan Nusa Damai tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Bandar Jaya dan menyerahkan upeti berupa emas dan perak setiap bulannya. Jika Raja Wirawan menolak, maka dalam waktu sebulan yang akan datang armada perang Kerajaan Bandar Jaya akan menyerang Kerjaan Nusa Damai.
“Bagaimana menurut pendapatmu, Patih Ranggapati?” tanya Sang Raja kepada panglirna angkatan perangnya.
“Kami sebagai prajurit kerajaan siap untuk berperang jika itu yang Baginda perintahkan,” kata Sang Patih.
Jawaban tegas dari patihnya itu hanya sebentar menenteramkan perasaan Raja Wirawan. Ia tahu kekuatan angkatan perang kerajaannya tak sebanding dengan yang dimiliki Kerajaan Bandar Jaya. Ia masih ingat hancurya Kerajaan Sangkala setahun lalu karena menolak menyerah pada Raja Jangkara yang terkenal kejam itu. Setelah termenung sejenak Sang Raja bangkit dari singgasananya.
“Di mana permaisuri berada?” tanyanya pada seorang prajurit pengawal istana.
“Tadi baginda Permaisuri sedang dilukis di beranda belakang Paduka,” jawab sipengawal.  Sang Raja segera melangkah menuju bagian belakang istana.
“Masih saja ia tak puas walau sudah sering dilukis,” guman Raja Wirawan. Tersenyum sendiri ia mengingat kegemaran isterinya itu.
Sesampainya di beranda belakang, Sang Raja melihat permaisuri sedang duduk di belakang meja di pojokan beranda.Sang Raja tidak langsung
menghampiri permaisuri melainkan menuju pinggiran beranda dan menatap pemandangan laut yang rampak dari situ. Dengan tetap berdiri menatap keindahan laut Sang Raja berbicara pada permaisuri.
“Permaisuriku, aku sedang ada masalah yang sangat berat,” Sang Raja memulai kata-katanya, matanya masih terpaku pada lautan yang sebulan Jagi akan dipenuhi kapal-kapal perang Kerjaan Bandar Jaya jika dirinya tak menyatakan tunduk dan menyerahkan
upeti yang diminta.
Sang Raja lalu menceritakan kesusahan yang dialaminya. Tentang ancaman Raja Jangkara. Setelah bicara panjang lebar hampir tanpa henti, sang Raja heran karena permaisuri hanya diam saja. Tak memberi tanggapan sedikit pun. Biasanya permaisuri selalu memberikan pendapat setiap ia menceritakan kesulitannya.  Sang Raja memalingkan wajahnya dan kini memandang lurus ke arah permaisuri.
“Permaisuriku, kenapa engkau diam saja? Apakah engkau sakit?” tanya Sang Raja khawatir seraya melangkah menghampiri permaisuri.
Sesaat kemudian barulah Sang Raja sadar bahwa ia telah terkecoh.
“Astaga, pantas saja tak ada jawaban.” Ternyata tadi Sang Raja telah berbicara dengan sebuah lukisan. Memang lukisan yang berada di
belakang meja itu benar-benar mirip dengan sosok permaisuri. Untung tidak ada yang melihatku tadi, gumam Sang Raja. Jika ada yang melihat, tentudirinya disangka sudah gila karena bicara seorang diri. Sang Raja tersenyum sendiri karena kekeliruan yang dilakukannya. Senyuman itu semakin lebar ketika tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya.
“Aha … aku dapat akal!” teriaknya gembira karena ide yang didapatkannya untuk menghadapi ancaman Raja Jangkara. Segera ia
kembali ke singgasananya dan memerintahkan Patih Ranggapati melaksanakan seluruh rencananya itu. Tak terasa sebulan telah berlalu. Karena surat peringatannya tak ditanggapi oleh Raja Wirawan, Raja Jangkara memimpin sendiri angkatan pearngnya menyerbu Kerajaan Nusa Damai. Angkatan perang yang terdiri dari seratus kapal perang dengan persenjataan lengkap dan seribu lebih prajurit itu siap menghancurkan Kerajaan Nusa Damai.
Raja Jangkara sangat yakin bisa mengalahkan Kerajaan Nusa Damai dengan mudah. Kerajaan Sengkala yang lebih besar dari pada Kerajaan Nusa Damai saja berhasil ditaklukkannya hanya dalam waktu dua hari setahun yang lalu.
Tapi alangkah terkejutnya Raja Jangkara ketika armada perangnya telah mendekat kepula tempat Kerajaan Nusa Damai berada. Dari anjungan kapal perang terbesarnya ia melihat sekitar Kerajaan Nusa Damai dipenuhi dengan kapal-kapal perang yang lebih besar dan lebih banyak dari yang dimilikinya. Di daratan juga disaksikan pasukan Kerajaan Nusa Damai dengan jumlah dua kali lipat dari pasukannya. Rasa percaya diri Raja Jangkara musnah seketika. Ia menjadi gentar melihat besarnya kekuatan pasukan Kerajaan Nusa Damai yang tak disangka-sangkanya itu.
“Putar haluan! Cepat putar haluan! Kita kembali !” perintahnya panik. Perintah Sang Raja segera dilaksanakan. Armada kapal perang Kerajaan Bandar Jaya segera berbalik arah dan kembali ke negerinya
Melihat mundumya armada Kerajaan Bandar Jaya seluruh rakyat Kerajaan Nusa Damai bersorak gembira. Taktik raja mereka telah menghalau armada musuh tanpa perlu berperang. Ya, ide Raja Wirawan membuat lukisan-lukisan armada kapal dan angkatan perang dalam ukuran besar untuk mengecoh Raja Jangkara dan pasukannya. Luksisan yang benar-benar mirip aslinya itu terbukti berhasil mengelabui dan membuat takut raja yang lalim itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top