Dendam itu pun Sirna

 

Cernak : Om Jo

Sebenarnya sudah lama Nanik ingin menghapus dendam yang tersimpan rapat di hati. Ia tak ingi1i dianggap selalu memusuhi Sisri. Kalau mengingat kesalahan Sisri, memang sepantasnya Nanik marah.
Tetapi ia mulai mengerti, seperti kata Pak Ustad, bahwa manusia itu memang tempat salah dan lupa. Jadi, alangkah mulianya jika seseorang mau memaafkan kesalahan orang lain dengan penuh rasa keikhlasan.
Awalnya hanya soal buku. Dua tahun silam, sewaktu merayakan ulang tahun yang ke sembilan, ayah memberi Nanik hadiah berupa buku yang berisi kumpulan dongeng dari berbagai daerah di Indonesia. Ceritanya bagus-bagus, gambarnya pun menarik. Di halaman judul sebelah dalam, tulisan tangan ayah terukir dengan indah.
“Untuk puteri ayah yang paling cantik, Nanik. Met ulang tahun ya, semoga tambah pintar, makin sayang pada adik, berbakti sama orang tua dan yang paling penting, makin rajin ibadah di mana pun berada. Salam sayang,
. ayah.”
Itulah kenangan paling berharga yang terakhir diberikan oleh sang ayah. Sebulan kemudian, ayah pergi untuk selamanya dalam suatu kecelakaan di jalan tol. Maka, selain sebagai pengantar tidur, buku itu sekaligus dimanfaatkan untuk menghalau kerinduan Nanik pada ayahnya yang sesekali masih muncul. Tidak mengherankan jika ia mcnjaga buku itu sebaik seseorang menjaga pusaka satu-satunya.
***
Suatu sore, sahabat terbaiknya yang bemama Sisri, datang ke rumah untuk belajar bersama. Setelah belajar, mereka sempat bercanda di dalam kamar. Saat itulah Sisri melihat buku dongeng hadiah ayah. Semula Nanik hanya mengizinkan sahabatnya ini untuk membaca di situ. Namun Sisri memohon dengan memelas.
“Nik, boleh ya aku pinjam semalam saja. Besok pagi kukembalikan ketika berangkat sekolah. Pasti deh, aku Janji. Boleh ya?”
“Jangan!” jawab Nanik tegas.
“Masak sih sama teman sendiri pelit. Aku tadi belum selesai membacanya. Aku jadi penasaran, nanti nggak bisa tidur, Boleh ya, Nik?”
“Baiklah, tapi hanya semalam. Dijaga dengan baik lho, itu buku kenangan terakhir almarhum ayahku. Jangan sampai kotor atau rusak!”
Sisri mengangguk yakin. Nanik tak mau dirinya dibilang pelit, walau sebetulnya ia merasa amat berat melepaskan buku itu. Rasanya mendingan meminjamkan beberapa boneka daripada buku dongeng pemberian ayah.
Malam harinya Nanik susah tidur. Pikirannya masih tertanggu, khawatir terjadi apa apa pada buku kesayangannya. Setelah tidur pun malah mendapat mimpi buruk. Dalam mimpi, bukunya dirampas oleh nenek sihir. Ah, ada ada saja! Ternyata itu belum seberapa. Paginya, menjelang berangkat sekolah, Sisri datang tergopoh membawa buku yang dipinjamnya. Nanik hampir pingsan melihat kondisinya yang amburadul dan sobek sana-sini.
“Maaf ya Nik, ini ulah adikku!” tutur Sisri berdalih.
“Katanya kemarin kamu berjanji akan menjaganya,” sahut Nanik cepat seraya merebut buku yang sudah rusak parah.
Sejak itulah ia malas berbicara dengan Sisri. Berulang kali sahabatnya ini berusaha meminta maaf, tapi sebanyak itu pula ia tak menggubrisnya. Kalau Sisri mengajak bicara, ia hanya menjawab singkat satu dua patah kata seperlunya. Dendam itu, kian hari kian menggunung. Nanik tetap belum bisa memaafkan kelalaian Sisri.
***
Dalam kegiatan mengaji setiap sore bersama Pak Ustad, Nanik punya banyak kesempatan untuk belajar tentang masalah keagamaan. Soal iman, ibadah, kisah-kisah Nabi dan masih banyak lagi. Pak Ustad berpesan, rajin beribadah seyogyanya juga harus diiringi dengan kepedulian sosial terhadap sesama. Sebagai Nabi yang sangat dihormati, ternyata dulu Rasulullah Muhammad SAW masih suka mengucap salam terlebih dahulu kepada orang lain, bahkan kepada orang yang jauh lebih muda.
Dari lembaran sejarah itulah ia dapat mengambil hikmah. Jadi mengapa harus berlama-lama memelihara dendam? Bukankah memaafkan jauh lebih baik? Ia bertekad akan memaafkan semua kesalahan Sisri. Suatu siang, ketika Nanik baru saja tiba dari bepergian bersama ibu dan adiknya, seseorang telah menunggunya di beranda rumah … Sisri. Nanik agak terkejut dan sedikit salah tingkah. Ia mempersilakan masuk, namun Sisri menolak.
“Aku sebentar saja kok, Nik. Aku minta sekali lagi, kau mau memaafkan kesalahanku dulu. Aku ingin menjadi sahabatmu. Aku mengaku salah, tapi … ”
“Sudahlah, aku sudah memaafkanmu. Mulai sekarang, lupakan kejadian yang dulu. Kuharap kau juga mau memaafkan aku karena telah bertahun-tahun menjauhimu.”
Mereka berpelukan. Saat itulah Sisri berbisik, bahwa bulan ini mungkin bulan terakhir ia akan berada di kota ini. Awal bulan depan, ia akan mengikuti ayahnya yang pindah tugas ke luar Jawa. Sisri bercerita sambil berlinang air mata. Nanik pun turut bersedih.
“Jadi kamu tidak meneruskan hingga naik ke kelas VI di sini?”
Sisri menggeleng. Ia berkata lirih, “Itulah sebabnya aku belum merasa lega sampai kau menganggapku sebagai sahabat seperti dulu.”
“Mulai sekarang kita bersahabat kembali. Mungkin lebih erat dari sebelumnya. Dan tolong di mana pun kau nanti, jangan lupa berkirim surat padaku. Janji?”
Sisri mengangguk, tampak bahagia. Nanik juga bahagia, dendam itu kini telah sirna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top