Sepatu Baru untuk Bani

Cernak : Abednego friadi

“Sepatu siapa ini, Ma?”
“Sepatu kamu,” jawab Mama sambil menjahit.
“Karna sepatu lama sudah rusak. Mama belikan baru untukmu.”
Bani mencoba memakainya. Sepatu baru warna biru itu tampak bagus, warnanya mencolok dihiasi ta1i ikat sedikit berwarna putih. Namun tak sedikitpun Bani gembira.
“Sepatu jelek,” gerutunya sambil mondar-mandir didalkam rumah.
“Bagus kok! Besok kamu harus tampil lebih segar dengan sepatu barumu ini,” tutur mama, mengamati wajah Bani, lalu mengerjakan jahitan yang bertumpuk dimeja samping kanan mesin jahit.
“Ma, Bani ingin rekreasi,” jawab Bani
“Besok kamu tes, Bani!” jawab Mama tanpa menoleh sambil menggerakkan mesin jahit hingga berbunyi, grejeg-grejeg-grejeg.
“Memangnya mau rekreasi kemana?”
“DiPlayStation.”jawab Bani,
“Makanya Bani minta Uang untuk bermain, biar tidak pusing.”
“Bohong, lihat nilaimu merah melulu. Lebih baik kamu belajar sana!”
Bani tak bisa berbuat apa-apa. Mukannya cemberut. Ia menggerutu, dan berlalu dari rumah menunjukkan kemarahannya. Sampai disebuah jembatan selokan kecil, ia berhenti, lalu melepas sepatunya.
Dilemparkannya sepatu itu keselokan dan merasa puas jika mama tahu. Ia kembali berlari kerumah. Setiba dirumah Mama sudah berada didepan pintu.
“Bani, kemana saja kamu? Tidak belajar malah pergi bermain,” ucap Mama menatap Bani dan terperanjat begitu melihat kaki Bani Telanjang, tak bersepatu.
“Lho dimana sepatumu?”
“Bani buang.”
“Kamu nakal sekali?” ujar mama sedih, karena asepatu dari hasil susah payah Mama mengumpulkan uang, dibuangnya.
“Mama sudah tidak bisa membeli sepatu. Uang Mama habis untuk melunasi SPP kamu. Kamun tega membuat Mama sedih?” ujar Mama.
“Lalu besok kamu pakai sepatu apa?” Bani hanya diam. Ia tidak bisa berkata apa-apa kecualin hanya menagis sesegukan, ia berlari keselokan. Perasaan takut mulai menyelimutinya. Jantungnya berdebar, khawatir jika sepatu itu nsudah hilang/hanyut kehilir selokan. Beruntuk air selokan itu sedikit kering. Sepasang sepatu biru itu msih terlihat, sehingga Bani bisa bernapas lega.
Bani terpaksa turun keseokan meskipun gemeteran, takut tergelincir. Ia ambil sepatu itu dengan sebatang kayu. Dimasukkan ujung batang kayu kesela ikatan tali sepatu, lalu menariknya. Eit, hampir saja ia terpeleset.
Sambil berjalan pulang, ia hanya cengar-cengir menahan bau comberan dari kedua sepatu barunya. Sampai dirumah, Bani melihat Mama masih menangis sedih.
“Ma, sepatunya sudah ketemu,” Kata Bani.
“Sudah, dicuci sendiri sana!” tukas Mama. Bani menuju tempat mencuci. Bani melepas tali ikat sepatu, lalu menggosoknya dengan sikat gigi bekas yang dioleskan sabun cuci. Baru kali ini Banu mencuci sendiri.
“Aku ingin membahagiakan Mama. Aku ingin membantu Mama,” ujar Bani dalam hati sambil terus mengmati sepatu barunya.
“Nah ini baru anak Mama. Bisa mencuci sendiri,” kata Mama dari pintu belakang.
“Mulai sekarang kamu harus menghargai pemberian orang lain!”
“Terimakasih Ma, Mama sudah membeliakan sepatu baru buat Bani,” ujarnya sambil tersenyum melihat wajah sedih Mama yang sudah hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top