Liburan di Rumah Nenek

Cernak : Yana Ari Widiyana

Sudah tiga hari Rahmat berada di rumah neneknya. Rahmat memang sengaja ingin liburan di rumah neneknya, karena ia penasaran sekali dengan cerita kakaknya yang pernah liburan di rumah neneknya. Kakaknya bilang di desa neneknya lebih menyenangkan dari pada menghabiskan liburan sekolah dengan main playstation seharian.
Ternyata yang dikatakan kakaknya memang benar. Desa neneknya yang terletak di lereng Gunung Lawu, sungguh sangat menyenangkan. Alam yang hijau mempesona diiringi kicauan burung, adalah sesuatu yang tak pernah dijumpai Rahmat yang tinggal di kota.
Seperti pagi itu. Rahmat sangat senang sekali memberi makan ayam ayam neneknya yang lumayan banyak. Rahmat tidak merasa jijik dengan kotoran ayam yang tak sengaja terinjak oleh sandalnya. Selesai memberi makan ayam neneknya, Rahmat mencuci tangan dan kakinya. Lalu makan pagi yang sudah dipersiapkan neneknya.
“Nek, Rahmat jadi ikut saya ke sawah apa tidak? Kemarin kami sudah janjian,” kata Anas.
Rahmat yang berada di dalam rumah langsung keluar mendengar suara anak kecil yang bercakap cakap dengan neneknya. Selama tiga hari di rumah neneknya Rahmat mempunyai teman baru yang tinggal tak jauh dari rumah neneknya, namanya Anas.
“Iya Nas, kita jadi ke sawah kamu,” kata Rahmat.
“Nek, boleh ya saya main ke sawah Anas,” Rahmat meminta izin kepada neneknya.
Tentu saja nenek Rahmat senang sekali melihat Rahmat begitu senang dengan sawah. Apalagi mau berteman dengan anak tetangganya itu.
“Boleh, tapi harus hati hati,” kata nenek Rahmat.
Rahmat dan Anas pun segera pergi. Pekerjaan ayah Anas memang seperti kebanyakan orang orang desa, yaitu bertani. Kata ayah Rahmat, kakeknya dulu juga seorang petani. Tapi kakek Rahmat sudah meninggal.
Rahmat heran melihat Anas yang sepertinya tidak mengenal rasa capek. Saat pagi, Anas membantu ibunya membersihkan rumah. Lalu setelah itu menyusul ayahnya ke sawah yang sudah berangkat saat pagi buta. Ketika sampai di sawah ayah Anas, Anas langsung membantu mencabuti rumput yang tumbuh di sela sela pohon padi. Sedang Rahmat dilarang oleh ayah Anas ketika akan ikut mencabuti rumput, kasihan kalau capek. Jadinya Rahmat bermain main di pinggir sawah sambil melihat burung burung yang terbang ke sana kemari.
Saat matahari agak meninggi, sekitar jam sepuluhan, datang adik perempuan Anas sambil membawa nasi. Kemudian mereka bertiga, ayah Anas, Anas, dan Rahmat, menikmati makanan di gubuk tepi sawah. Rahmat merasa heran, kok nikmat sekali makan di tengah sawah, padahal lauknya cuma tempe dengan sayur bening dan sambal.
“Ayo Rahmat, tambah lagi makannya. Tidak perlu malu,” kata ayah Anas yang melihat piring Rahmat sudah kosong.
Sebenarnya, Rahmat masih ingin makan. Tapi melihat Anas serta ayahnya yang makan begitu lahap, Rahmat tak enak hati. Takut kalau mereka ingin nambah makan lagi. Setelah selesai makan, mereka istirahat sejenak. Lalu melanjutkan lagi pekerjaannya di tengah sawah. Saat matahari condong ke arah barat, sekitar jam tiga, Anas dan Rahmat pulang duluan. Sedang ayah Anas masih di sawah. Ayah Anas pulangnya kalau matahari sudah tenggelam.
“Aku merasa senang tinggal disini,” kata Rahmat pada neneknya.
Nenek Rahmat tersenyum bahagia mendengar kalimat cucunya itu. “Tapi kamu jangan lupa, kamu harus segera pulang, kamu harus sekolah lagi.”
“Iya, besok ayah dan ibu datang ke sini untuk menjemput saya,” kata Rahmat.
“Nanti kalau ada liburan sekolah ke sini lagi,” kata nenek sambil mengelus rambut Rahmat.
Rahmat melihat keluar. Terlihat olehnya dedaunan hijau yang bergoyang diterpa angin, burung burung berkicauan dengan merdunya, hamparan sawah yang begitu indah. Seakan berteriak mengajak Rahmat untuk menikmati karunia Sang Pencipta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top