Si Kikir dan Si Bodoh

Cernak Esti Suci Arunningsih
Di sebuah desa hiduplah dua pemuda yang saling bersahabat. Si Kikir dan Si Bodoh namanya. Mereka berdua sangat akrab dan selalu pergi bersama. Watak keduanya pun nyaris sama. Malas! Mereka lebih suka memancing ikan di sungai daripada bekerja seperti pemuda desa lainnya. Selepas memancing, biasanya mereka akan duduk duduk di gubuk tepi sawah. Tempat biasa petani istirahat sambil menghalau burung.
Suatu siang, ketika keduanya sedang tiduran di gubuk milik petani, lewatlah tiga kereta kuda. Namun, kereta kuda yang lewat kali ini tidak sembarangan. Keretanya berhias perak yang berkilauan. Ukir ukirannya berwarna kuning menambah moleknya kereda kuda itu. Si Kikir dan Si Bodoh takjub. Kereta kuda itu berhenti di depannya.
“Aku utusan raja, wahai pemuda,” ucap penarik kereta sambil turun dan mendekati Si Kikir dan Si Bodoh, “Bisa kalian tunjukkan dimana rumah petani labu?”
Si Kikir berbisik pada Si Bodoh, “Raja pasti mengirim banyak hadiah pada Si petani labu. Bagaimana kalau aku mengaku sebagai si petani labu? Nanti kita bagi dua hadia raja itu. Tapi kamu harus mengatakan pada utusan raja itu bahwa akulah si petani labu.”
SI Bodoh mengangguk, ” Kebetulan sekali, dialah si petani labu,” kata si bodoh sambil menunjuk si Kikir.
“Ya, aku memang punya firasat akan mendapat keberuntungan. Makanya setelah menanam labu, aku duduk di sini sebentar,” ucap si kikir meyakinkan. Utusan raja tersenyum senang.
“Aku diutus raja untuk memberikan semua barang yang ada di dalam kereta ini. Hendak kamu letakkan di mana semua itu?” tanya utusan raja.
Si Kikir lalu mengajak utusan raja ke rumahnya. Kepada Si Bodoh, Si Kikir berkata, ” Tolong, ikan ikan hasil tangkapan kita kamu bersihkan dan masak di rumahmu. Kita akan menjamu utusan raja supaya senang.”
Dasar Si Bodoh, dia menurut saja. Padahal, dalam hati Si Kikir sengaja melakukan itu guna mengusir Si Bodoh. Tujuannya supaya Si Bodoh tidak tahu banyaknya hadiah yang diberikan raja. Sehingga, Si Kikir bisa memberi bagian yang sedikit pada Si Bodoh.
Sementara utusan raja pergi sejak tadi, Si Kikir dengan antusias langsung membuka karung karung yang diletakkan di rumahnya. Karung pertama dibuka dengan mengeluarkan seluruh isinya ke lantai. Si Kikir terperanjat, kaget bukan kepalang. Ternyata isinya kotoran sapi. Si Kikir tidak putus asa. Dibukanya karung demi karung yang ada. Ternyata sama! Semuanya berisi kotoran sapi. Dan kotoran sapi itu tercecer di lantai. Lantai rumah Si Kikir jadi kotor dan bau kotoran sekarang. Si Kikir kesal. Dia menendang meja, hingga surat yang ada diatasnya jatuh. Si Kikir memungut dan membacanya. Rupanya surat dari raja.
“Petani labu yang baik, terima kasih. Pupuk kotoran sapi yang kau berikan sudah cukup untuk merawat semua tanaman di taman kerajaan. Untuk itu aku mengembalikannya lagi padamu. Semoga bisa bermanfaat bagi ladangmu.”
Si Bodoh yang baru saja sampai tak kuasa menahan tawa melihat Si Kikir menutup hidungnya sambil membuang kotoran kotoran sapi dengan sekop. Si Kikir malu sekaligus tidak senang dengan sikap Si Bodoh itu.
Satu pekan kemudian, ketika mereka duduk duduk di gubuk tepi sawah, lewatlah satu kereta kuda yang jelek dan kumal. Kurir kereta kuda itu memperkenalkan diri sebagai utusan pedagang gandum dari kota. Dia bermaksud menanyakan rumah Si Tukang Ikan. Ketika itu, bau amis dan kurang sedap keluar dari dalam kereta kuda. Si Kikir berpikir pasti kurir itu membawa bangkai binatang. Si Kikir langsung mengambil kesempatan ini untuk membalas tingkah Si Bodoh yang telah menertawakannya.
“Ini dia Si Tukang Ikan,” seru Si Kikir sambil menunjuk Si Bodoh yang tengah tertidur pulas. Utusan pedagang gandum itu segera membangunkan Si Bodoh dan menyampaikan tujuannya.
Sampai di rumah Si Bodoh, utusan pedagang gandum itu segera mengeluarkan 4 karung dan pergi. Si Kikir yang mengintip dari jendela merasa senang. Sebentar lagi kamu akan mengalami kejadian yang pernah kualami, Bodoh, batin Si Kikir.
“Aku bisa ganti menertawakanmu sekarang,” batinnya lagi. Si Kikir tak sabar menanti reaksi kesal Si Bodoh begitu membuka karung karung itu. Ketika Si Bodoh membuka dan menumpahkan ke lantai isi karung pertama, ratusan ikan ikan laut yang telah dikeringkan keluar. Begitu pula dengan karung ketiga dan seterusnya. Sehingga lantai rumah Si Bodoh dipenuhi dengan ikan kering sekarang. Bau amis menyengat ke seluruh ruangan. Rupanya, bau ikan kering itu memang busuk, tapi rasanya enak. Si Kikir kaget melihatnya. Iri dengan keberuntungan yang diperoleh Si Bodoh. Tak lama kemudian, ketika Si Kikir masuk dan hendak meminta jatah bagiannya, Si Bodoh menolak.
“Akan kukembalikan pada si tukang ikan. Karena ini semua miliknya,” kata Si Bodoh bijak.

One Response

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top