KENA BATUNYA

Kisah nyata ini dialami oleh Lady Cempluk, seorang guru Bahasa Inggris di SMP markotop di Semarang beberapa waktu lalu. Melihat situasi dan kondisi yang sehari-hari hujan ini, Lady Cempluk memakai sandal jepit untuk bekerja. Maklum dalam melaksanakan tugasnya hanya menggunakan sepeda motor.
Usai Semarang dilanda hujan lebat dan angin kencang, seperti biasa pagi harinya Lady Cempluk memakai sandal untuk bekerja.
“Musim hujan tiba, ya
pakai sandal biar sepatunya tetap oke dan selalu tampil berwibawa di depan kelas,” ucapnya di hadapan teman-teman gurunya.
Saking asyiknya bercerita, sampai bel masuk tidak didengarnya. “Ayo, Bu, ndang mulang, iki wis bell mlebu. Ora usah pidhato wae,”
seru Gendhuk Nicole, rekan gurunya. Tanpa basa-basi segera Cempluk segera menuju kelasnya mengajar.
Begitu masuk kelas, beberapa muridnya kelihatan cengar-cengir dan ngguya-ngguyu. Sebagai guru yang berwibawa, sebenarnya tidak mungkin sampai terjadi peristiwa seperti itu.
Maka usai doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Gaya khasnya yang tegas dan berwibawa langsung menggema di kelas dengan suaranya yang lantang, “Ada apa ketawa? Adakah yang aneh dan lucu disini?!”
Jon Koplo, seorang muridnya yang terkenal pemberani berujar, “Itu Bu, lihat kaki Ibu. Kan setiap kegiatan belajar-mengajar harus berpakaian dan bersepatu resmi?” ucapnya sambil menunjukkan jari.
Lady Cempluk pun segara melihat kakinya… ops badalaaa. Ternyata masih pakai sandal jepit. “Maaf ya Anak-anak, Ibu lupa ganti sepatu…” ucapnya sajak kisinan. Maklum guru yang terkenan tegas, disiplin dan berwibawa, sedang kena batunya.
F.X. Triyas Hadi Prihantoro, SMP Pangudi Luhur Domenico Savio, Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top