MASIH ADAKAH KESETIAAN ?

Anggoro Kasih

“Mencintai kelebihan itu hal biasa. Jika kamu sudah tahu semua kurangku, dan kamu masih mencintaiku, itu baru cinta,” ucapnya di sela mengunyah beef steak pesanannya.
Ya, memang benar. Lagi pula dia memang selalu benar. Barangkali Sinta bisa menangkap pikiranku. Mungkin dia tahu kalau aku jatuh cinta padanya karena kelebihannya. Karena kulitnya yang bersih, parasnya yang berisi, rambutnya yang hitam, dan senyumnya yang seperti bulan sabit. Sementara aku tidak atau belum menemukan kekurangan dari dirinya.
Ini adalah pertemuan kedua kami. Dan aku mengajaknya makan malam di salah satu kafe terkenal yang berada di tengah kota. Aku mengenal Sinta dari sosial media Instagram. Hampir semua foto yang dia unggah terlihat cantik. Aku pun terpikat, kuputuskan mengirim pesan hingga akhirnya kami bertemu. Saat itu aku heran mengenai diriku sendiri, apakah aku terlalu ganteng? atau memesona? Karena semua terkesan begitu mudah.
Sebelum ini, pertemuan pertama kami berlangsung di taman kota. Selain mudah dijangkau, kebetulan di sana sedang ada konser musik. Lagu lagu yang dibawakan oleh band pengisi acara saat itu bertema cinta semua. Saat itu bulan Januari, langit malam lebih pekat karena mendung. Hujan pun turun. Perlahan. Tidak deras, hanya gerimis kecil. Orang orang mulai menjauhi area depan panggung untuk mencari tempat berteduh. Termasuk kami.
Hujan pun turun

Helai demi helai
Membasuh bumi

Dari semua luka nestapanya
Suara band yang tidak aku ketahui namanya itu masih jelas terdengar. Kulihat dari tempat kami berteduh, di depan panggung masih tinggal beberapa orang. Mereka seolah tidak peduli dengan gerimis yang melanda.
“Balik ke sana saja yuk!” ajak Sinta tiba-tiba.
“Beneran?” aku sempat mempertanyakan keinginannya.
Akhirnya kami ikut berdiri bersama orang-orang yang menikmati gerimis. Aku lihat rambut hitam Sinta mulai basah. Tangannya beberapa kali mengusap muka. Membersihkan wajahnya dari bulir air yang mengalir. Segera kulepas jaket jin biruku. Kepala kami pun menelusup di bawahnya. Malam itu kami pulang dengan keadaan kuyub.
***

Di pertemuan kedua ini, aku lebih sering mendengarkan Sinta bicara. Selain memang tak pandai bicara, kukira memandangi Sinta pun sudah cukup bagiku.
“Baiklah beri tahu aku tentang kkekurekuranganmu.” Aku menjaanganmu.” Aku menjawwaabb perkataan yperkataan yang tadi Sinta lontarkanang tadi Sinta lontarkan..
SSinta berkata, semua orinta berkata, semua oraangng pasti mempunpasti mempunyyai kai kekurekurangan.angan. Bukan hanya satu atau dua. Pasti banyak. Hanya, orang-orang terlalu pandai menutupinya. Maka orang lain melihat mereka seolah sempurna tanpa cacat. Sinta memberi tahuku bahwa dia juga mempunyai banyak kekurangan. Sinta akan memberi tahuku dengan pinta aku bisa menerimanya sepaket dengan kelebihan yang dia miliki.
Setelah aku sepakat, Sinta memberi tahuku. Di antara kekurangan-kekurangan yang dia ucapkan, salah satunya yaitu muntah. Sinta bilang kalau dia mudah muntah. Terlebih jika sedang naik kendaraan umum atau mencium bau yang tidak dia sukai.
Pertemuan demi pertemuanku dengan Sinta terus berlanjut. Sampai sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Dan semua yang Sinta ucapkan dulu benar saja terjadi. Saat kami bersama, Sinta sering muntah. Pertama kali Sinta muntah di depanku saat kami dalam perjalanan ke Jogja naik bus untuk berlibur. Saat itu seperti biasa, Sinta terlihat cantik. Beberapa penumpang laki-laki tertangkap oleh mataku mencuri pandang ke arah Sinta. Namun, saat perjalanan sudah cukup jauh, Sinta menjadi diam. Wajahnya terlihat pucat. Tangan kirinya memegang perut, sementara yang kanan menutup mulut.
“Aku mau muntah,” bisiknya pelan di telingaku.
Sinta mengeluarkan plastik hitam dari dalam tasnya. Beberapa detik selanjutnya “hooeeekkk”. Wajah Sinta sudah tidak cantik lagi. Orang-orang yang tadi melihat Sinta karena kecantikannya, berubah memandang jijik. Aku mengurut kuduknya. Bunyi “hooeeek” lanjut terdengar. Plastik hitam yang mulanya kosong, menjadi terisi. Aku memegang plastik itu, terasa hangat di tanganku. Sinta mengeluarkan tisu dari dalam tasnya. Mengusap lendir yang menempel di sudut bibirnya.
Sinta pernah muntah di bioskop. Juga pernah muntah saat kami sedang makan. Juga di rumahku, di acara resepsi pernikahan temanku. Sinta muntah di banyak tempat. Sebelum muntah, Sinta biasa berkata padaku dia mencium bau yang tidak dia suka. Pernah pada suatu kali sehabis muntah Sinta bertanya padaku.
“Apa kamu tidak malu dan jijik karena aku sering muntah?” Sinta juga meneruskan “Kamu kalau mau ninggalin aku enggak apa-apa.”
“Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu. Terlebih hanya karena kamu sering muntah,” jawabku.
JJaJaawwwabanku itu buabanku itu bukan sebuahkan sebuah pelega atau rpelega atau raayuan. Aku memayuan. Aku memangng benar tidak masalah debenar tidak masalah denganngan Sinta ySinta yang sering muntah. Akuang sering muntah. Aku sepertinya sudah menerima kekurangannya. Bukan hanya soal muntah. Kekurangan lain seperti, cengeng dan manja juga sudah aku terima. Malah aku seperti menganggap itu bukan lagi kekurangan. Aku seperti sudah terbiasa, rasanya beberapa hal itu sudah menjadi bagian dari hidupku. Lagi pula Sinta juga tidak pernah keberatan denganku yang pemalas, bau badan dan tidak konsisten. Sinta sudah menerima semua kekuranganku. Dan justru aku malah khawatir dengan Sinta yang sering muntah. Kebiasaan muntahnya itu kupikir bisa disembuhkan. Maka pernah suatu kali aku mengajaknya untuk pergi ke dokter.
“Sayang, habis ini ke dokter saja yuk. Aku tidak tega melihatmu begini.” Aku mengajukan tawaran itu saat aku dan Sinta sedang jalan-jalan di mal.
“Tidak usah, Sayang. Aku enggak apa-apa,” jawab Sinta.
Dan itu bukan penolakan pertama. Karena sudah sering aku mengajak Sinta untuk pergi ke dokter. Namun, Sinta selalu menolak dengan berbagai macam alasan.
Bulan April sudah di penghujung. Hujan jadi sering turun. Sebuah perjalanan harus mempunyai tujuan. Sore itu di salah satu tempat makan di pinggir kota, Sinta bertanya padaku apakah aku tidak ingin menikahinya? Aku sebenarnya sudah memikirkan hal itu. Tentang masa depan hubunganku dengannya. Namun, aku tak mengira jika Sinta menanyakannya saat itu juga. Namun menjadi wajar karena usia kami sudah masuk dalam usia menikah. Teman temanku juga sudah banyak yang berumah tangga, banyak juga yang sudah mempunyai anak. Saat itu aku menjawab tentu aku ingin menikahinya. Jawaban itu keluar begitu saja dari mulutku.
Di malam malam setelah pertemuanku dengan Sinta itu, pikiranku penuh sesak dengan pertanyaan, apakah aku akan menikahi Sinta? Apakah Sinta akan menjadi istriku? Apakah aku akan menghabiskan sisa usiaku dengannya? Ada keraguan yang muncul. Memang benar aku mencintainya. Soal orang tua kami, kukira sudah bukan masalah. Juga soal keuangan atau tetek bengek lainnya. Namun ada perasaan ganjil yang membuatku ragu. Aku seperti tidak yakin padanya. Semua pikiran dan perasaanku itu muncul menyerangku seperti deras hujan yang turun di luar rumah.
Bulan Juli tiba beriringan dengan musim kemarau. Cuaca yang mulanya selalu basah dan dingin beralih menjadi terik dan kering. Aku dan Sinta telah resmi menjadi suami istri. Hubunganku dengannya terhitung hanya enam bulan hingga kamu menikah. Meskipun mulanya aku ragu, toh aku memutuskan melamarnya. Selain karena Sinta terus menanyakan kejelasan, di sisi lain aku memang benar mencintainya.
Seharusnya setelah pernikahan itu, aku bahagia. Memang awalnya aku bahagia. Namun, perasaan kecewa menyelimuti perasaanku di malam pertama kami. Malam pertama yang aku bayangkan akan berlangsung mengasyikkan ternyata berujung pahit.
“Maafkan aku, Mas. Aku baru bisa jujur padamu sekarang,” jawab Sinta setelah aku tanya mengenai perutnya. Sementara aku hanya terdiam, melihat perut Sinta yang sudah membesar, mengandung janin orang yang tidak kutahu siapa.
Anggoro Kasih, lahir di Karanganyar, Jawa Tengah. Aktif di komunitas sastra Kamar Kata. Bukunya yang sudah terbit kumpulan cerpen berjudul “Kesepian yang Membunuh” (Nomina, 2018).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top