NJAGONG DI SEBERANG JALAN

Sabtu siang, Lady Cempluk bersama teman-temannya sesama guru akan menghadiri undangan teman sejawat yang menikah. Pembelajaran diakhiri satu jam lebih awal karena rumah yang menikah berada di luar kota.
“Bu Lady mbonceng saya saja. Kasihan yang ada di mobil kalau duduknya tidak nyaman. Perjalanan sampai satu jam kalau tidak macet,” Jon Koplo menawari Lady Cempluk. Tanpa berpikir panjang Lady Cempluk menyetujui tawaran itu. Begitu pun guru-guru muda lain naik sepeda motor berboncengan. Sedangkan lainnya, terutama yang sudah sepuh naik mobil sewa.
Benar juga, jalanan macet, belum lagi bertanya alamat kepada beberapa warga. Dibutuhkan waktu hampir dua jam untuk sampai di tempat tujuan.
“Pak Jon, ini serius hajatannya Genduk Nicole?” tanya Lady Cempluk ketika mereka tiba di sebuah hajatan dengan musik dangdut memekakkan telinga.
“Itu Bu Nicole dan suaminya di pelaminan,” jawab Jon Koplo.
Jika wajah pengantin terlihat berbeda atau mangklingi itu hal biasa. Tapi yang membuat Lady Cempluk dan teman-temannya terheran-heran, letak pelaminan dan tempat duduk tamu undangan dipisahkan oleh jalan utama. Jalan itu tidak boleh ditutup.
Setelah diperhatikan, ternyata rumah yang punya hajat masuk gang sempit. Di seberang rumahnya ada bengkel. Maka, kursi tamu berada di rumahnya, sebagian lagi di bengkel.
Akhirnya pada resepsi siang itu, para tamu undangan yang duduk di bengkel tidak saja melihat pengantin di pelaminan, tetapi juga lalu lintas kendaraan. Sesekali truk melaju, wushhhhhhh. Belum sepeda motor dan mobil yang wira-wiri.

Iis Soekandar Jl. Jonegaran Semarang 50138

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top