PEREMPUAN BERNAMA PITA DAN SEBUAH TAMAN

Bila kamu bisa melewati kesepian tanpa derita, itu artinya kamu telah berhasil menjadi manusia bebas, dan ciri utama manusia bebas adalah ketika kamu berani mengikhlaskan jiwamu kepada kematian.” Dulu aku tidak paham dengan pernyataan itu. Jikapun aku memaksa mengartikannya, yang kutangkap adalah bunuh diri.
Dan jika aku tidak bertemu dengan Pita, sampai sekarang pun mungkin aku tidak benar-benar tahu makna pernyataan yang disampaikan kekasihku itu. Aku masih ingat, kata-kata itu diucapkan kekasihku menjelang kami akan berpisah selamanya. Lebih tepatnya kami akan dipisahkan oleh kematian. Seingatku dia pergi dengan tenang, bahkan pada saat dia menyampaikan pernyataannya itu kepadaku diiringi dengan senyum manis di bibirnya. Saat itu aku melihat wajahnya pucat, tapi menurutku kepucatan itu tak mampu menghalangi pancaran kecantikannya. Pada saat itu aku seperti baru disadarkan bahwa paras kekasihku ternyata teramat cantik. Sungguh memesona hati. Sayang perpisahan itu begitu cepat. Belum lama kami menyatu dalam jalinan kemesraan kami sudah harus berpisah selama-lamanya.
Selagi bersamanya dulu, segala harap dan angan telah terpegang dengan baik, hingga waktu itu aku bisa merasakan beraneka warna hidup dengan penuh suka cita dan keantusiasan yang pikirku tak pernah ada duanya. Aku merasa tak ada waktu yang terjeda bagi hal lain selain dirinya. Apa pun yang kulakukan selalu terpusat kepadanya. Mungkin benar apa yang sering dibilang banyak orang, jika hati sedang kasmaran, bumi ini seakan hanya berisikan sang pujaannya. Tidak ada rasa cemas dan sedih di hatiku, segalanya terpancar dengan cerah dari perilakuku. Bahkan kami telah merancang warna macam apa yang akan kami kehendaki di kehidupan kami nanti. Jika sudah begitu, tak ada sedikit pun ketakutan untuk menghadapi misteri hidup.
Setelah perpisahan itu, kurasakan ragaku lemas dan malas bergerak, jiwaku ambruk, dan hasratku terhadap apa pun seperti menghilang. Aku yang kupikir masih bernapas tapi terwujud seperti jasad yang bisu. Tidak ada gairah di relung jiwaku. Rasanya aku ingin menyusulnya di alam sana. Terlebih jika mengingat pernyataan dari kekasihku yang waktu itu belum benar-benar kupahami artinya. Dan pada saat aku mencoba mengartikannya, aku menduga kalau sesungguhnya dia ingin aku mengikutinya.
Aku merasa dia sedang meminta pertanggunganjawabku atas apa yang pernah kukatakan padanya, tentang sebuah kesetiaan. Terus terang aku memang pernah berjanji padanya, aku akan setia padanya dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalan sehat dan sakit, bahkan yang terakhir aku mengatakan aku juga akan setia dalam hidup dan mati. Ketika aku mengatakan itu semua, tak ada sedikit pun apakah ucapanku itu ada efeknya. Alasan logis mengapa aku dengan yakin mengatakannya karena benih cintaku yang waktu itu ada dan tumbuh dalam diriku sedang mekar-mekarnya. Dengan begitu, ketika sadar tentang perpisahan itu, aku merasa seperti hidup sendiri.
Deritaku seperti tak pernah berakhir jika selamanya terpisah darinya. Maka kuputuskan aku memang harus bunuh diri. Aku ingin menyusulnya di alam sana agar aku tidak merasa sendiri di alam ini. Tetapi setelah beberapa kali melakukan usaha bunuh diri, entah mengapa jiwaku seperti tidak pernah mau pergi. Aku tidak mati-mati. Beberapa cara telah kulakukan untuk mengakhiri hidupku, tapi jiwaku selalu tertolong, seakan pelindung maut selalu siap berada di dekatku dan mengeyahkan siapa saja yang ingin merebut nyawaku.
Setiap kali aku gagal bunuh diri, dalam bayanganku, kekasihku di sana terus merajukku melalui bisikan-bisikan kepadaku, agar aku mencari jalan lain tentang bagaimana caranya melenyapkan nyawa yang jitu. Dalam benakku, kekasihku dengan setia menunggu di bibir batas alam ini, menunggu kedatanganku.
Dalam pikiranku, dia telah memendam rindu yang begitu tebal dan ingin segera dituntaskan bersamaku. Begitupun dengan keinginanku, kerinduanku terhadapnya telah berada di ujung kepala. Hingga sampai waktunya di mana aku berusaha bunuh diri yang kesekian kalinya. Aku ingin minum racun sianida.
Kupikir tidak ada nyawa yang lolos dari racun itu. Semua nyawa akan mati olehnya. Tetapi entah kenapa, ketika racun itu telah kuminum, racun itu seperti tidak mau bekerja untuk mematikan diriku. Tidak ada efek apa pun yang kurasakan, bahkan aku sampai menyakinkan keaslian racun itu kepada orang yang dulu menjualnya. Penjual itu justru marah-marah karena tersinggung aku telah meragukan khasiat dari racun yang dia jual.
Pada saat jiwaku linglung itulah, aku berusaha memusatkan pada pernyataan yang disampaikan kekasihku dulu. Aku berpikir, apakah mungkin aku yang salah mengartikannya. Mulai sejak itu aku suka pergi menemui teman-temanku. Menanyakan apa arti sesungguhnya tentang pernyataan yang disampaikan kekasihku itu. Aku berjanji akan menemukan artinya, sesuai dengan apa yang dimaksud kekasihku. Beruntunglah karena aku punya teman yang beraneka rupa pekerjaannya. Teman-teman itu kudatangi semua. Aku tanya dengan pertanyaan yang sama, yaitu tentang apa arti penyataan kekasihku itu. Dari sekian teman yang kudatangi dan kutanyai, aku merasa belum ada jawaban yang cocok. Kupikir, jawaban mereka kebanyakan teoritis belaka, bahkan ada yang tidak fokus menjawab pertanyaanku.
Intinya mereka mengatakan bahwa aku harus ikhlas. Alamku dan alam kekasihku sudah berbeda. Semua sudah ada jatah dan waktunya sendiri-sendiri. Lalu mereka menyuruhku pulang. Mereka juga mengatakan tak ada lagi yang perlu aku risaukan. Aku diminta untuk memberi kesempatan kepada kekasihku untuk menjalani hidupnya dengan tenang. Yang kuheran dari pertemuanku bersama teman-teman itu, mereka tidak seantusias seperti biasanya. Ekspresinya datar. Mungkin mereka masih tidak enak denganku? Bahkan kebanyakan dari jawaban itu kudapat bukan dalam porsi menjawab langsung apa yang menjadi pertanyaanku. Aku sampai berpikir, mengapa sikap mereka berbeda?
Ah, jawaban macam apa itu. Aku kecewa. Karena kecewanya sampai kupikir mungkin mereka belum tahu apa artinya cinta. Bukan itu saja, aku menjamin kebanyakan dari mereka belum tahu bagaimana rasanya bercinta dan kasmaran. Kupikir kepandaian mereka selama ini hanya semu, status paranormal, dukun, dosen, mahasiswa, tokoh politik, musisi, penulis yang selama ini ada pada mereka hanya untuk bergaya. Aku merasa teman-teman yang kutanyai itu sedang mengerjai saja. Kalau tidak, masa dari sekian jawaban itu hampir semuanya senada. Dasar brengsek!
Ke mana lagi akan kucari pencerahan? Pada saat aku memikirkan itu, tak sungguh kusadari sebelumnya, begitu aku coba memperhatikan dengan saksama apa yang ada di sekelilingku, ternyata aku sedang duduk di sebuah taman. Aku berpikir ini taman kota. Tapi di mana? Aku berusaha mengingat-ingat, di mana letak taman itu. Belum sempat kutemukan nama taman itu, datang seorang perempuan cantik mendekatiku. Aku pikir kecantikan perempuan itu selevel dengan kecantikan kekasihku.
“Boleh aku duduk di sampingmu?” tanya perempuan itu.
Aku mempersilakan dengan kata-kata yang kuucapkan dengan agak gugup. Begitu dia duduk di hadapanku, kami berkenalan, yang kemudian kutahu namanya Pita. Setelah itu kami sama-sama terdiam agak lama. Ketika aku ingin bicara, rupanya saat itu dia juga akan bicara. Lalu kami sama-sama tersenyum, dan aku mempersilakan dia untuk lebih dulu bicara.
“Aku memperhatikanmu sejak pertama kali datang di sini. Dan kulihat kamu seperti sedang bersedih, ada apa?”
Entah kenapa, pertanyaannya langsung kujawab, dan jawabanku panjang lebar seperti cerita yang panjang, yang kuusahakan persis dengan yang kualami. Tapi di tengah perjalanan ceritaku dia tiba-tiba menyela.
“Oh, rupanya kamu salah. Yang sudah mati bukan kekasihmu, tetapi kamu.” Jawaban Pita membuatku terkejut, dan seketika aku memperhatikan sekeliling, di sana kulihat taman itu begitu cantik, banyak bunga-bunga indah sedang bermekaran.

Yuditeha
Penulis puisi dan cerita. Buku puisinya yang terbaru ”Dolanan” (Nomina, 2018). Kumcernya yang terbaru ”Cara Jitu Menjadi Munafi k” (Stiletto, 2018). Novelnya yang terbaru ”Tiga Langkah Mati” (Penerbit Kompas, 2019). Pendiri Kamar Kata Karanganyar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top