TERLALU PEDE

Jon Koplo termasuk orang terpandang di desanya. Ba nyak tetangga yang segan dengan Jon Koplo maupun keluarganya. Di samping Jon Koplo termasuk orang yang berkecukupan, penampilannya selalu berwibawa dan orangnya sangat supel dan sosial terhadap orang lain.
Kegiatan kesehariannya adalah wiraswasta. Bagi Jon Koplo, waktu sangat bermanfaat dan berharga sehingga dapat dikatakan time is money. Dapat dikatakan srawung dengan tetangga pun jarang karena berangkat pagi pulang sore hari, bahkan sering ke luar kota.
Peristiwa ini terjadi setelah Idulfitri. Sehabis Idulfitri, banyak undangan pernikahan dan halalbihalal. Walaupun sangat sibuk, Jon Koplo selalu menyempatkan diri untuk kegiatan sosial semacam itu.
Pada suatu Sabtu, pukul 10.00 WIB, Koplo mendapat undangan pernikahan di hotel terkenal di Kota Solo. Baju batik sarimbit terbaru sudah dipakai. Setelah siap, Jon Koplo bilang kepada istrinya, “Bu, jilbab terbaru jangan lupa dipakai lo Bu. Nanti numpak motor saja ya. Daripada macet dan parkirnya susah. Pada jam yang sama kita dapat undangan halalbihalal di kantor kelurahan. Nanti jagongnya pulangnya mendahului,” kata Koplo.
“Ya, Pak,”jawab Lady Cempluk, istrinya, sambil memakai hijab baru.
Singkat ceritera, Jon Koplo dan istrinya selesai berdandan, kemudian naik motor matik ke tempat pernikahan di hotel berbintang. Sepeda motor diparkir di ruang bawah tanah. Setelah itu, keduanya menuju ruang resepsi. Keduanya sengaja ambil tempat duduk dekat pintu keluar, biar mudah colut ke acara halalbihalal di kantor kelurahan.
Pukul 10.15 WIB, acara dimulai. Keluar hidangan pertama, lanjut hidangan kedua sup matahari. “Waduh, sudah pukul 10.45 WIB Bu. Kita segera pulang saja terus menuju ke kantor kelurahan,” kata Jon Koplo kepada istrinya.
“Ya Pak,” jawab Lady Cempluk.
Setelah keluar dari ruang pesta, keduanya menuju tempat parkir. Setelah mengenakan jaket dan helm, mereka tancap gas karena khawatir kalau terlambat terlalu lama. Dalam waktu 15 menit sudah sampai di kantor kelurahan . Acara sudah dimulai dan sudah ada sambutan. “Wah sudah penuh Bu. Tapi di depan masih ada yang kosong, kita ke depan saja,” kata Jon Koplo setelah memarkir motor. “Ya, Pak. Saya lepas jaket dulu,” jawab Lady Cempluk.
Sambil berjalan cepat, keduanya dengan pedenya menuju deretan kursi yang kosong. Semua tamu memandang Jon Koplo dan istrinya sambil tersenyum. Keduanya membalas senyuman para tamu. Di deretan kursi depan, Koplo dan Cempluk duduk berdampingan. “Warga di sini ramah-ramah ya Pak. Mereka memberi senyuman kepada kita,” kata Lady Cempluk kepada suaminya.
“Ya Bu, termasuk Pak Lurah yang sedang pidato pun senyum kepada kita. Menyambut kedatangan kita kali,” jawab Jon Koplo kepada istrinya.
Selesai pidato sambutan, Pak Lurah turun mimbar
terus menyalami Jon Koplo dan Lady Cempluk. Waktu salaman dengan Lady Cempluk, Pak Lurah berbisik,”Maaf Bu Cempluk, helmnya belum dilepas.”
Dueeeeeerr, bak disambar petir Lady Cempluk mendengar bisikan tadi. Wajahnya merah padam karena malu. Lady Cempluk segera melepas helmnya sambil memarahi suaminya. ”Gimana ta Pak, kok tadi tidak mengingatkan kalau saya masih pakai helm.” “Hla saya kan jalan di depan, enggak tahu kalau helm belum dilepas. Apa enggak terasa ta kalau masih pakai helm,” jawab Jon Koplo.
“Kan pakai jilbab, enggak terasa kalau pakai helm. Biasanya kan naik mobil enggak pakai helm,” jawab Lady Cempuk.
”Tiwas saya pede, saya kira tamunya ramah-ramah kok pada tersenyum menyambut kedatangan kita,” imbuh Lady Cempluk sambil menahan malu.

Hapsoro Hamong, hphamong@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top